impotenGangguan tensi atau tekanan darah tinggi pada pria dengan usia diatas 40 tahun bisa dikatakan cukup sering ditemui, terutama pada pasien-pasien yang memiliki masalah gaya hidup yang buruk. Di satu sisi, pengobatan darah tinggi adalah untuk merendahkan tekanan yang terlalu tinggi untuk mengurangi risiko yang fatal, salah satunya adalah stroke yang bisa berujung pada kelumpuhan dan atau kematian, di satu sisi yang lain pengobatan darah tinggi juga berisiko gangguan ereksi atau impoten. Lalu, sebaiknya bagaimana, apakah saya harus menghentikan pengobatan darah tinggi daripada saya jadi impotensi? Simak terus!

Pengobatan darah tinggi selama dalam pengawasan dokter, tentunya adalah yang terbaik dibandingkan pada pasien-pasien yang memiliki ketaatan yang rendah, misalnya hanya meminum bila merasakan gejala (padahal darah tinggi lebih sering tidak bergejala) atau meminum obat tanpa indikasi dokter yang jelas dan membeli sendiri di apotek. Adalah obat-obatan darah tinggi jenis diuretik dan atau golongan beta blocker yang memiliki efek samping ke arah impoten. Obat-obatan ini jelas efek utamanya menurunkan tekanan, dan dokter memiliki pertimbangan yang lebih besar untuk menggunakan obat-obatan golongan ini untuk menurunkan tensi, dan selama tidak timbul masalah dengan ereksi, obat-obatan golongan ini dapat dilanjutkan sesuai dengan indikasi dari dokter.

Bilamana sudah ditemui masalah dengan ereksi ketika mengonsumsi obat-obatan anti darah tinggi golongan tersebut, sebaiknya Anda melaporkan diri kepada dokter yang meresepkan untuk mengganti jenis lain yang lebih aman dan kurang menyebabkan efek samping kepada impoten, seperti golongan ACE Inhibitor dan atau Calcium Channel Blocker. Ya saran kami, tidaklah bijak ketika Anda mengentikan obat darah tinggi begitu saja, tetap kontrol balik ke dokter yang merawat Anda, dan meminta untuk menggantikan obatnya, karena umumnya efek samping terhadap gangguan ereksi hanya bersifat sementara.

Klinik Lelaki