impoten

Perkenalkan namanya saya Dedi kebetulan ini bukan nama asli saya. Saat ini saya berumur 42 tahun dan telah bekerja sebagai salah satu eksekutif di perusahaan farmasi ternama di kota Surabaya selama kurang lebih 15 tahun. Mengenai masalah income yang saya dapatkan tidak diragukan lagi, karena saya bisa dibilang sangat mapan di bidang finansial.Saya disini akan menceritakan pengalaman saya bagaimana rasanya menjadi pria Impoten.

Saya penderita kencing manis atau yang lebih dikenal juga sebagai diabetes yang tidak terkontrol baik oleh obat semenjak 5 tahun yang lalu. Kebiasaan merokok dan gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan berlemak dan tinggi karbohidrat sudah menjadi rutinitas semenjak 10 tahun ke belakang. Lagi-lagi masalah finansial yang mapan yang melatarbelakangi saya untukĀ  mendukung hidup seperti ini. Saya mampu menghabiskan rokok kurang lebih 2-3 bungkus sehari, terlebih lagi karena urusan kejar setoran omzet menjadi masalah besar karena rata-rata kami di perusahaan akan mendapatkan sangsi yang berat bila tidak bisa mengejar target.

Pernikahan saya dengan istri sudah berjalan kurang lebih 12 tahun. Awal-awal nikah kami merasa baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan kehidupan seks kami di ranjang, hingga semenjak 3 tahun yang lalu saya mulai merasakan ada yang tidak beres. Awalnya saya merasakan ejakulasi yang begitu cepat, istri pun memaklumi karena penyebab ejakulasi dini dimungkinkan karena faktor kerjaan. Tetapi, di tahun kedua dikarenakan ia tidak mencapai klimaks dalam tiap hubungan, hingga stres melanda kami berdua, seks menjadi masalah yang begitu membuat kami berdua trauma. Saya yang merasa cepat keluar trauma tidak bisa membuat istri bahagia, begitu pun juga istri yang menjadikan seks sebagai beban karena ia sendiri tidak mendapatkan kepuasan yang bisa meredam ketegangan kehidupan rumah tangga kami.

Tidak sampai disitu saja, semenjak 2 tahun yang lalu saya mulai merasakan kejanggalan, mulai dari ereksi yang begitu singkat, hingga lama kelamaan ereksi saya menjadi berkurang kualitas kekerasannya, sehingga untuk memulai berhubungan menjadi masalah untuk melakukan penetrasi karena terlalu lunak. Bahkan, ketika sudah berhasil, saya merasakan episode “mati” di tengah jalan.

Untungnya saya bertemu dengan dr. Rio di Klinik Lelaki. Beliau banyak memberikan nasihat bahwa saya adalah individu yang memiliki risiko tinggi terhadap impotensi, dengan gaya bahasanya yang sederhana dan detail, dijelaskan bahwa penyakit kencing manis yang saya idap dan tidak terkontrol dengan obat karena alasan saya malas minum obat, plus rokok, dan gaya hidup saya yang gemuk dan kurang olahraga adalah penyebabnya. Lalu, saya memulai pengobatan, dan Alhamdulillah dalam waktu satu hari saya sudah merasakan efek utama ereksi saya mulai kembali seperti biasa di saat saya sebelum mengalami impotensi. Tetapi, saya juga diwajibkan untuk mengontrol kadar gula darah yang sempat mencapai di angka 325, plus mengurangi rokok. dan mulai olahraga.

Saya katakan kepada semua pembaca kesaksian saya ini, bahwa impoten telah memberikan penderitaan yang amat sangat berat bagi saya sebagai pria, dan tentunya istri yang juga turut merasakan demikian. Kami pun sudah hampir pernah memproses untuk mengakhiri perkawinan kami sebanyak 3 kali. Pertengkaran di antara kami pun kerap terjadi, kurang lebih kami bisa melakukan konflik 2-3 kali seminggu. Kedua anak kami pun turut menjadi korban, hingga saya menemui putra kami yang kedua terlibat pertengkaran di sekolah ia memukuli salah satu temannya hingga terluka, dimana psikologi yang menanganinya inilah dampak dari pertengkaran kedua orang tuanya.

Saran saya, jangan biarkan impoten yang Anda derita dibiarkan begitu saja berlarut-larut. Segera konsultasikan kepada dokter yang berpengalaman di bidangnya, dan jangan biarkan rumah tangga Anda berantakan, karena saya yakin rumah tangga yang sehat, di dalamnya terdapat kehidupan seks yang harmonis, dimana gangguan seksual bisa dibilang sebaiknya tidak ada. Harga pengobatan bukanlah menjadi masalah dibandingkan kehidupan rumah tangga yang bisa kembali harmonis seperti kami. Terima kasih dr. Rio, terima kasih Klinik Lelaki yang sudah memberikan solusi kepada kami berdua.

Dedi S – Surabaya