mitos impotensi

8 Mitos Impotensi yang Perlu Anda Ketahui

mitos impotensi

Beragam mitos impotensi yang beredar di masyarakat seperti impotensi akan sembuh dengan sendirinya dan masih banyak yang lainnya. Penasaran mitos apa saja itu? Simak artikel ini!

Impotensi adalah tidak mampunya pria untuk mempertahankan ereksi atau melakukan ereksi walaupun di beri rangsangan. Impotensi merupakan masalah vitalitas pria yang sering terjadi. Impotensi merupakan  merupakan salah satu bagian dari disfungsi ereksi yang tabu untuk dibicarakan. Tapi banyak keyakinan yang dipercaya masyarakat seputar disfungsi ereksi atau impotensi ternyata hanyalah mitos.

klinik lelaki

dilansir dari AP SHOW Global Survey,, berikut beberapa mitos lainnya seputar impotensi

1. Mitos: Disfungsi ereksi adalah ‘berada di kepala’

Fakta: Sekalipun disfungsi ereksi memiliki penyebab psikologis, misalnya karena cemas, stres, perasaan bersalah tentang seksual, masalah dalam hubungan, perasaan terhadap pasangan dan depresi, tapi kini diketahui sekitar 80 persen permasalah memiliki sebab yang berhubungan dengan masalah fisik.

2. Mitos: Kesulitan ereksi akan berlalu

Fakta: Disfungsi ereksi adalah persoalan medis dengan solusi pengobatan. Sama halnya dengan terapi yang harus diterima untuk mengobati kondisi seperti tekanan darah tinggi, disfungsi ereksi juga harus diobati. Bila dibiarkan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis, termasuk perasaan malu, kehilangan atau minder.

3. Mitos: Disfungsi ereksi adalah problem fisik semata

Fakta: Disfungsi ereksi adalah masalah kompleks, gabungan antara kognitif, perilaku, emosi, sosial dan komponen fisik. Penyebab utama disfungsi ereksi adalah fisik atau psikologis.

Problem fisik contohnya kondisi pembuluh darah, efek alkohol yang berlebihan, efek samping pengobatan, diabetes, fungsi saraf yang abnormal, kekurangan hormon, operasi pengangkatan prostat karena kanker dan merokok. Kondisi yang berkaitan dengan fisik ini bisa diobati. Disfungsi ereksi dengan kasus psikologis hanya sekitar 20 persen.

4. Mitos: Disfungsi ereksi tidak berpengaruh pada kesehatan dan mulai belajar menerima kondisi tersebut’

Fakta: Disfungsi ereksi bisa menjadi sumber stres emosi yang mengarah pada minder, kehilangan atau menurunkan rasa percaya diri, kecemasan, dan depresi.

5. Mitos: Pria harus mengunjungi dokter berulang kali sebelum akhirnya memulai terapi

Fakta: Dalam beberapa kasus, konsultasi tunggal mungkin merupakan hal yang terjadi pada pria yang langsung memulai terapi atas kasus disfungsi ereksi yang dialaminya.

6. Mitos: Disfungsi ereksi hanya mempengaruhi pria

Fakta: Jika disfungsi ereksi tidak diatasi dengan seksama, pasangan dalam berhubungan juga akan merasakannya. Kecenderungan untuk menghindari kontak seksual seringkali menyebabkan pasangan merasa tidak lagi dicintai, tidak diinginkan dan tidak menarik lagi.

7. Mitos: Mencari pertolongan untuk kesulitan ereksi meliputi tes yang memalukan dan tidak nyaman

Fakta: Meskipun seringkali memalukan untuk pria membicarakan masalah seksual dengan dokternya, mencari pertolongan untuk disfungsi seksual bisa cukup bermanfaat. Dokter biasanya melaksanakan sejarah kesehatan seiring sejarah seksual, dan akan menanyakan beberapa hal terkait gaya hidup. Hanya beberapa pemeriksaan standar kesehatan yang biasanya dibutuhkan, seperti tes laboratorium darah dan urin. Tes ini membantu mengidentifikasi beberapa kasus medis yang mungkin membutuhkan terapi.

8. Mitos: Tidak ada gunanya mencari pengobatan karena disfungsi ereksi tidak mudah diobati

Fakta: Pada sebagian besar kasus, disfungsi ereksi bisa secara sukses diobati. Karena itu penting untuk para pria mencari pertolongan dokter, sehingga mereka bisa menolong diri sendiri, pasangan dan menyelamatkan hubungan dari kegagalan.

Berpotensi Gagah Kembali dalam 3 Hari Saja!

Jika Anda mengalami penyakit Impotensi atau Ejakulasi Dini segerakan tanya dengan Dokter yang sudah berpengalaman hanya di Klinik Lelaki GRATIS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *