KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Cara Mengetahui Disfungsi Ereksi Melalui Skrining

Jangan Anggap Penis Kurang Keras Sebagai Hal yang Wajar

Ilustrasi cara mengetahui disfungsi ereksi dengan skrining

Banyak pria khawatir soal penis yang tidak keras atau kurang keras. Sehingga muncul pertanyaan “bagaimana cara agar mempertahankan tingkat kekerasan penis agar tidak mudah loyo saat penetrasi?” Penting untuk diketahui, disfungsi ereksi (DE) merupakan kondisi ketika pria mengalami kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual. Masalah ini tidak hanya dialami oleh pria lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada pria muda akibat berbagai faktor, mulai dari gaya hidup hingga penyakit tertentu.

Sayangnya, masih banyak pria yang menganggap gangguan ereksi sebagai sesuatu yang memalukan sehingga enggan memeriksakan diri ke dokter. Padahal, disfungsi ereksi bisa menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan hormon, maupun gangguan psikologis.

Karena itu, skrining disfungsi ereksi menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab masalah sejak dini sehingga penanganan yang diberikan lebih tepat.

Apa Itu Skrining Disfungsi Ereksi?

Skrining disfungsi ereksi adalah proses pemeriksaan awal yang dilakukan dokter untuk menilai apakah seseorang mengalami gangguan ereksi serta mencari kemungkinan penyebabnya.

Skrining bukan berarti langsung menjalani tindakan medis yang rumit. Sebagian besar proses dimulai dengan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang.

Melalui skrining, dokter dapat mengetahui apakah gangguan ereksi disebabkan oleh faktor fisik, psikologis, atau kombinasi keduanya.

Siapa yang Perlu Melakukan Skrining?

Skrining disfungsi ereksi dianjurkan bagi pria yang mengalami kondisi berikut:

  • Ereksi sulit terjadi saat ingin berhubungan seksual.
  • Ereksi tidak bertahan lama.
  • Penis terasa kurang keras dibandingkan sebelumnya.
  • Gairah seksual menurun disertai gangguan ereksi.
  • Ereksi pagi mulai jarang terjadi.
  • Memiliki diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung.
  • Memiliki kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, atau obesitas.
  • Mengalami stres, kecemasan, atau depresi.
  • Berusia di atas 40 tahun meskipun belum memiliki keluhan yang berat.

Apabila keluhan terjadi berulang selama lebih dari tiga bulan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Tahapan Skrining Disfungsi Ereksi

Berikut beberapa tahapan skrining yang biasanya dilakukan oleh dokter.

1. Wawancara Medis

Tahap pertama adalah dokter akan menanyakan riwayat kesehatan secara menyeluruh.

Beberapa pertanyaan yang mungkin diajukan antara lain:

  • Sejak kapan gangguan ereksi terjadi?
  • Apakah ereksi masih muncul saat bangun tidur?
  • Apakah gangguan terjadi setiap kali berhubungan seksual?
  • Apakah memiliki penyakit tertentu?
  • Apakah sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Bagaimana kondisi psikologis dan hubungan dengan pasangan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut sangat membantu dokter menentukan penyebab yang paling mungkin.

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Pemeriksaan tekanan darah.
  • Berat badan dan lingkar perut.
  • Pemeriksaan penis.
  • Pemeriksaan testis.
  • Pemeriksaan prostat bila diperlukan.
  • Pemeriksaan denyut nadi untuk menilai aliran darah.

Pemeriksaan ini bertujuan melihat adanya kelainan yang mungkin memengaruhi fungsi ereksi.

3. Menggunakan Kuesioner Khusus

Dokter sering menggunakan kuesioner yang disebut International Index of Erectile Function (IIEF-5).

Kuesioner ini berisi beberapa pertanyaan sederhana mengenai kualitas ereksi, kepuasan seksual, dan kemampuan mempertahankan ereksi.

Nilai dari kuesioner membantu menentukan apakah gangguan ereksi tergolong ringan, sedang, atau berat.

4. Pemeriksaan Laboratorium

Apabila diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan darah, seperti:

  • Gula darah.
  • Kolesterol.
  • Fungsi ginjal.
  • Fungsi hati.
  • Kadar testosteron.
  • Pemeriksaan hormon lainnya sesuai indikasi.

Pemeriksaan ini membantu menemukan penyakit yang mungkin menjadi penyebab utama disfungsi ereksi.

5. Pemeriksaan Penunjang

Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan, seperti:

  • USG Doppler penis untuk menilai aliran darah.
  • Pemeriksaan ereksi malam (Nocturnal Penile Tumescence).
  • Pemeriksaan saraf bila dicurigai adanya gangguan neurologis.

Tidak semua pasien memerlukan pemeriksaan ini. Dokter akan menyesuaikan berdasarkan hasil skrining awal.

Tonton juga video Dokter Rio di TikTok:
7 Kebiasaan Malam yang Picu Disfungsi Ereksi

Apa Penyebab Disfungsi Ereksi?

Banyak orang mengira penyebab disfungsi ereksi hanya karena usia. Faktanya, ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kemampuan ereksi.

Penyebab Fisik

Beberapa penyebab fisik meliputi:

  • Diabetes melitus.
  • Hipertensi.
  • Penyakit jantung.
  • Kolesterol tinggi.
  • Obesitas.
  • Gangguan hormon testosteron.
  • Penyakit ginjal.
  • Cedera panggul.
  • Efek samping obat tertentu.

Penyebab Psikologis

Selain faktor fisik, kondisi psikologis juga berperan penting, seperti:

  • Stres berkepanjangan.
  • Kecemasan saat berhubungan seksual.
  • Depresi.
  • Konflik dengan pasangan.
  • Kelelahan mental.

Sering kali disfungsi ereksi disebabkan oleh kombinasi faktor fisik dan psikologis.

Mengapa Skrining Penting Dilakukan?

Banyak pria baru datang berobat ketika keluhan sudah berlangsung lama. Padahal, semakin cepat penyebab diketahui, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan.

Skrining juga penting karena gangguan ereksi dapat menjadi tanda awal penyakit pembuluh darah. Pada beberapa kasus, disfungsi ereksi bahkan muncul beberapa tahun sebelum seseorang mengalami penyakit jantung.

Dengan kata lain, skrining bukan hanya bertujuan memperbaiki fungsi seksual, tetapi juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Apakah Disfungsi Ereksi Bisa Diobati?

Kabar baiknya, sebagian besar kasus disfungsi ereksi dapat ditangani.

Penanganan akan disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan, misalnya:

  • Perubahan gaya hidup.
  • Menurunkan berat badan.
  • Berhenti merokok.
  • Mengontrol gula darah dan tekanan darah.
  • Konseling psikologis bila diperlukan.
  • Terapi obat sesuai anjuran dokter.
  • Terapi hormonal bila terdapat kekurangan hormon.
  • Tindakan medis tertentu apabila diperlukan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk tidak mengonsumsi obat kuat secara sembarangan tanpa pemeriksaan dokter karena penyebab setiap pasien dapat berbeda.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan apabila Anda mengalami:

  • Ereksi sulit terjadi berulang kali.
  • Penis kurang keras saat berhubungan seksual.
  • Ereksi cepat menghilang sebelum selesai berhubungan.
  • Penurunan gairah seksual yang disertai gangguan ereksi.
  • Disfungsi ereksi yang berlangsung lebih dari tiga bulan.
  • Disfungsi ereksi disertai nyeri, kelainan bentuk penis, atau keluar cairan dari penis.

Jangan menunggu hingga kondisi semakin berat karena penanganan sejak dini memberikan hasil yang lebih optimal.

Konsultasikan Keluhan Anda di Klinik Lelaki Indonesia

Jika Anda mengalami penis kurang keras, sulit mempertahankan ereksi, atau keluhan lain yang mengarah pada disfungsi ereksi, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin.

Di Klinik Lelaki Indonesia, Anda akan mendapatkan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari penyebab gangguan ereksi sehingga terapi yang diberikan lebih tepat sasaran. Penanganan dilakukan langsung oleh Dokter Rio dengan pendekatan medis yang mengutamakan diagnosis akurat, privasi pasien, serta terapi sesuai kondisi masing-masing.

Semakin cepat disfungsi ereksi diketahui penyebabnya, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal. Jangan abaikan gejala yang Anda alami, segera konsultasikan dengan tenaga medis yang berpengalaman agar kualitas hidup dan kesehatan seksual tetap terjaga.

 

Baca juga: Obat Impotensi, Amankah Digunakan?