Penyakit Kelamin Pria dan Risiko Kanker

Banyak pria yang mengabaikan penyakit kelamin karena kebanyakan tidak menimbulkan gejala awal yang berat. Namun, apabila dibiarkan terus-menerus akan menimbulkan gejala seperti gatal, luka, kutil, nyeri saat buang air kecil, atau keluar cairan dari penis, beberapa infeksi tertentu ternyata memiliki hubungan dengan perkembangan kanker. Tetapi, Penting dipahami bahwa tidak semua penyakit kelamin pria dapat memicu kanker.
Infeksi yang paling jelas diketahui berkaitan dengan kanker pada pria adalah human papillomavirus atau HPV, terutama infeksi HPV tipe berisiko tinggi yang menetap dalam tubuh. HPV dapat menyebabkan kanker penis, kanker anus, serta sebagian kanker pada bagian belakang tenggorokan atau orofaring. WHO memperkirakan HPV menyebabkan sekitar 70.000 kasus kanker pada pria di seluruh dunia pada 2019.
Karena penyakit menular seksual sering tidak menunjukkan gejala, mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
Tidak Semua Penyakit Kelamin Pria Menyebabkan Kanker
Istilah penyakit kelamin sering digunakan masyarakat untuk berbagai infeksi menular seksual, seperti gonore, sifilis, herpes genital, HIV, dan HPV.
Namun, hubungan antara masing-masing penyakit dengan kanker berbeda. Gonore atau klamidia, misalnya, dapat menyebabkan komplikasi apabila tidak diobati, tetapi tidak dianggap sebagai penyebab langsung kanker seperti HPV.
Karena itu, seseorang yang pernah mengalami penyakit menular seksual tidak berarti pasti akan terkena kanker.
Infeksi HPV merupakan salah satu yang perlu mendapat perhatian khusus karena beberapa jenis HPV memiliki sifat onkogenik, yaitu memiliki kemampuan menyebabkan perubahan sel yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kanker.
HPV pada Pria dan Hubungannya dengan Kanker
HPV merupakan kelompok virus yang sangat besar dan dapat menular melalui kontak kulit yang intim maupun aktivitas seksual. Tidak semua jenis HPV berbahaya.
Sebagian jenis HPV menyebabkan kutil kelamin, sedangkan sebagian lainnya tergolong HPV risiko tinggi karena dapat menyebabkan perubahan sel prakanker hingga kanker. NCI menjelaskan bahwa lebih dari 40 jenis HPV dapat menyebar melalui kontak seksual langsung. Dua jenis terutama menyebabkan sebagian besar kutil genital, sementara sekitar selusin jenis HPV memiliki kemampuan menyebabkan kanker.
Artinya, memiliki kutil kelamin tidak berarti seseorang otomatis akan terkena kanker. HPV penyebab sebagian besar kutil genital berbeda dengan tipe HPV yang paling sering menyebabkan keganasan.
Pada kebanyakan orang, infeksi HPV dapat dikendalikan oleh sistem imun. Namun, infeksi HPV risiko tinggi yang menetap merupakan kondisi yang lebih berisiko menyebabkan perubahan abnormal pada sel dan akhirnya berkembang menjadi kanker.
1. HPV Bisa Berkaitan dengan Kanker Penis
Salah satu kanker yang dapat berhubungan dengan penyakit kelamin pria adalah kanker penis.
Menurut National Cancer Institute, HPV menyebabkan sekitar sepertiga kasus kanker penis. Meski demikian, kanker penis sendiri termasuk kanker yang relatif jarang terjadi.
Kanker penis biasanya berasal dari perubahan sel pada jaringan penis. Faktor risikonya tidak hanya HPV. Riwayat kesehatan tertentu, kebiasaan merokok, kondisi kulup tertentu, dan faktor usia juga dapat memengaruhi risiko.
Tanda yang perlu diperhatikan antara lain luka pada penis yang tidak sembuh, kemerahan atau iritasi menetap, benjolan, keluarnya cairan yang tidak biasa, hingga perdarahan. Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker, tetapi perlu diperiksa apabila menetap atau semakin memburuk.
2. HPV Juga Dapat Menyebabkan Kanker Anus
HPV tidak hanya menyerang penis. Infeksi pada area anus juga dapat menyebabkan perubahan sel yang dalam kondisi tertentu berkembang menjadi kanker anus.
NCI menyebut HPV sebagai faktor penting dalam perkembangan kanker anus. Risiko juga lebih tinggi pada beberapa kelompok, termasuk orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu dan orang yang hidup dengan HIV.
Keluhan seperti perdarahan dari anus, benjolan, rasa sakit, atau perubahan yang menetap pada daerah anus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai wasir. Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebab sebenarnya.
3. HPV Dapat Menyebabkan Kanker Tenggorokan
Fakta yang belum banyak diketahui masyarakat adalah HPV juga dapat berhubungan dengan kanker di bagian belakang tenggorokan.
HPV dapat menyebabkan kanker orofaring, yaitu kanker yang terjadi pada bagian belakang tenggorokan, termasuk pangkal lidah dan tonsil. CDC memasukkan kanker orofaring bersama kanker penis dan anus sebagai kanker yang dapat disebabkan oleh HPV.
Penularan HPV pada daerah tersebut dapat terjadi melalui kontak seksual, termasuk aktivitas seksual oral. Namun, terinfeksi HPV tidak berarti kanker akan langsung terbentuk. Kanker biasanya berkaitan dengan infeksi HPV risiko tinggi yang bertahan dalam jangka panjang.
Bagaimana dengan HIV?
HIV juga termasuk infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual, tetapi mekanismenya berbeda dengan HPV.
HIV tidak berubah menjadi kanker. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh. Apabila tidak dikendalikan dengan pengobatan, sistem imun dapat melemah sehingga tubuh menjadi lebih sulit mengendalikan infeksi lain dan sel abnormal.
Orang yang hidup dengan HIV diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa kanker, termasuk sarkoma Kaposi, limfoma tertentu, kanker anus, dan beberapa kanker lain. Salah satu alasannya adalah sistem kekebalan yang melemah membuat tubuh lebih sulit mengendalikan virus penyebab kanker seperti HPV.
Pengobatan antiretroviral yang efektif membantu mengendalikan HIV dan telah menurunkan kejadian beberapa kanker yang berkaitan erat dengan kondisi imunosupresi berat.
Apakah Kutil Kelamin Berarti Akan Menjadi Kanker?
Tidak.
Ini merupakan salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi. Kutil kelamin memang biasanya disebabkan oleh HPV, tetapi jenis HPV yang menyebabkan sebagian besar kutil berbeda dengan tipe HPV risiko tinggi yang menyebabkan kanker.
Meski demikian, seseorang dapat terpapar lebih dari satu jenis HPV. Karena itu, munculnya kutil, luka, benjolan, atau perubahan baru pada area genital tetap layak diperiksakan.
Jangan memotong, memecahkan, atau mengoleskan bahan yang tidak jelas pada kutil kelamin karena tindakan tersebut dapat menyebabkan luka dan infeksi.
Kenali Tanda Bahaya pada Organ Kelamin Pria
Penyakit kelamin maupun kanker pada tahap awal terkadang tidak menunjukkan keluhan yang khas. Karena itu, pria perlu mengenali kondisi normal organ genitalnya sendiri.
Periksakan diri apabila menemukan luka pada penis yang tidak kunjung sembuh, benjolan baru, perubahan warna atau ketebalan kulit, perdarahan, cairan berbau atau tidak biasa, pembengkakan, maupun iritasi yang terus berulang.
NCI menyebut luka, iritasi atau kemerahan, benjolan, cairan, dan perdarahan sebagai beberapa tanda yang dapat ditemukan pada kanker penis. Namun, keluhan tersebut juga dapat muncul akibat penyakit lain sehingga diagnosis hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan medis.
Bagaimana Cara Mengurangi Risikonya?
Salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko kanker terkait HPV adalah vaksinasi HPV. Vaksin bekerja dengan mencegah infeksi dari tipe HPV tertentu yang paling sering menyebabkan penyakit dan kanker. CDC menyebut vaksinasi HPV memiliki potensi mencegah lebih dari 90 persen kanker yang disebabkan HPV.
Kelayakan dan jadwal vaksinasi dapat berbeda menurut usia, kondisi kesehatan, serta pedoman yang berlaku sehingga sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau fasilitas kesehatan.
Penggunaan kondom juga dapat membantu menurunkan risiko penularan HPV, meskipun perlindungannya tidak sempurna karena HPV dapat menyebar melalui bagian kulit yang tidak tertutup kondom. WHO tetap memasukkan penggunaan kondom sebagai salah satu cara penting untuk mengurangi risiko infeksi HPV.
Selain itu, berhenti merokok penting karena merokok juga berhubungan dengan risiko kanker dan dapat berkontribusi terhadap persistensi infeksi HPV.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Jangan menunggu sampai keluhan terasa berat. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan apabila terdapat kutil atau luka baru pada genital, cairan tidak normal dari penis, perdarahan, benjolan, perubahan kulit penis, atau keluhan yang tidak membaik.
Pemeriksaan juga penting apabila pasangan diketahui mengalami infeksi menular seksual atau terdapat riwayat aktivitas seksual yang berisiko.
Tidak perlu melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan foto di internet. Beberapa penyakit kelamin, infeksi kulit, dan kanker dapat mempunyai penampilan yang mirip sehingga pemeriksaan langsung merupakan cara paling tepat untuk menentukan penyebabnya.
Kesimpulan
Anggapan bahwa semua penyakit kelamin pria memicu kanker tidak sepenuhnya benar. Infeksi yang memiliki hubungan kuat dengan beberapa jenis kanker adalah HPV, terutama HPV risiko tinggi yang menetap dalam tubuh. HPV dapat menyebabkan kanker penis, anus, dan orofaring pada pria.
Sementara itu, HIV dapat meningkatkan risiko beberapa kanker secara tidak langsung karena melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh lebih sulit mengendalikan infeksi penyebab kanker.
Pencegahan melalui vaksinasi HPV, perilaku seksual yang lebih aman, berhenti merokok, serta pemeriksaan apabila muncul keluhan mencurigakan merupakan langkah penting. Jangan mengabaikan luka, benjolan, kutil, perdarahan, atau perubahan pada penis yang tidak kunjung membaik. Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin cepat pula penanganan yang tepat dapat diberikan.