Impotensi dan Masalah Psikologis: Apa Hubungannya?

Kebanyakan orang akan beranggapan kalau impotensi akibat dari perubahan fisik seorang pria dan usia. Padahal impotensi tidak hanya dipengaruhi oleh pembuluh darah, saraf dan hormon. Tapi juga kondisi pikiran emosi juga mempunyai peran yang penting.
Dalam istilah medis, impotensi disebut disfungsi ereksi atau erectile dysfunction (ED). Kondisi ini dapat berupa sulit mendapatkan ereksi, mampu ereksi tetapi tidak dapat mempertahankannya cukup lama, atau hanya mampu mengalami ereksi pada beberapa kesempatan. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh masalah fisik, psikologis, atau kombinasi keduanya.
Karena itu, hubungan antara impotensi dan masalah psikologis perlu dipahami. Stres, kecemasan, depresi, kurang percaya diri, hingga kekhawatiran mengenai performa seksual dapat berperan dalam munculnya atau memburuknya gangguan ereksi.
Bagaimana Kondisi Psikologis Memengaruhi Ereksi?
Ereksi merupakan proses yang melibatkan otak, sistem saraf, pembuluh darah, hormon, dan jaringan penis. Rangsangan seksual yang diterima otak membantu memicu respons saraf sehingga pembuluh darah penis dapat melebar dan darah masuk ke jaringan erektil.
Masalahnya, kondisi psikologis tertentu dapat mengganggu proses tersebut.
NIDDK menyebut kecemasan, depresi, stres, perasaan kesepian, rendahnya kepercayaan diri, serta citra tubuh negatif sebagai masalah mental atau emosional yang dapat menyebabkan maupun memperburuk disfungsi ereksi.
Dengan kata lain, penis mungkin secara anatomi tidak mengalami kelainan, tetapi kondisi mental dapat mengganggu respons seksual sehingga ereksi menjadi lebih sulit.
Stres Bisa Membuat Ereksi Lebih Sulit
Stres merupakan salah satu faktor psikologis yang sering berkaitan dengan gangguan ereksi.
Tekanan pekerjaan, masalah finansial, konflik dalam hubungan, kurang tidur, atau berbagai beban kehidupan dapat membuat seseorang sulit merasa rileks ketika melakukan aktivitas seksual. Ketika pikiran justru dipenuhi kekhawatiran, perhatian terhadap rangsangan seksual dapat terganggu.
Stres juga dapat menjadi bagian dari siklus masalah ereksi. Seorang pria mengalami kesulitan ereksi, kemudian merasa khawatir hal tersebut akan terulang. Kekhawatiran tersebut meningkatkan stres ketika akan melakukan hubungan berikutnya sehingga ereksi justru semakin sulit terjadi. NIDDK memasukkan stres sebagai salah satu faktor emosional yang dapat menyebabkan atau memperburuk ED.
Mengenal Performance Anxiety
Salah satu masalah psikologis yang sering dibicarakan dalam gangguan ereksi adalah performance anxiety, yaitu kecemasan mengenai kemampuan seksual.
Seorang pria mungkin mulai memikirkan berbagai pertanyaan seperti, “Apakah saya bisa ereksi?”, “Bagaimana kalau ereksi hilang?”, atau “Apakah pasangan saya kecewa?”
Ketika perhatian terlalu terpusat pada keberhasilan mempertahankan ereksi, aktivitas seksual terasa seperti sebuah ujian. Kekhawatiran terhadap kegagalan kemudian dapat semakin mengganggu respons seksual.
American Urological Association menyebut bahwa keterlibatan tenaga profesional kesehatan mental dapat dipertimbangkan pada pria yang menjalani terapi disfungsi ereksi, termasuk untuk membantu mengurangi performance anxiety dan meningkatkan keberhasilan penanganan.
Kecemasan dan Impotensi Bisa Saling Memengaruhi
Gangguan kecemasan juga dapat berkaitan dengan disfungsi ereksi.
Tinjauan penelitian mengenai pria dengan gangguan kecemasan menemukan adanya hubungan antara gangguan kecemasan dan ED, walaupun tingkat kejadian yang dilaporkan berbeda-beda pada masing-masing penelitian. Peneliti juga menekankan bahwa bukti yang tersedia memiliki variasi yang cukup besar sehingga hubungan ini tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis penyebab ED pada seseorang secara langsung.
Secara praktis, kecemasan dapat membuat seseorang terlalu fokus terhadap apakah ereksinya cukup keras, berapa lama bertahan, atau apakah pasangan merasa puas.
Jika kegagalan ereksi kemudian terjadi, rasa cemas dapat meningkat pada aktivitas seksual berikutnya. Akhirnya terbentuk siklus cemas → gangguan ereksi → semakin cemas → gangguan ereksi semakin berat.
Depresi Juga Dapat Berkaitan dengan Gangguan Ereksi
Depresi bukan hanya memengaruhi suasana hati. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan kesehatan seksual.
NIDDK mencantumkan depresi sebagai salah satu masalah mental atau emosional yang dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi. Sebaliknya, ED sendiri juga dapat menimbulkan masalah emosional, termasuk depresi, kecemasan, dan rendahnya harga diri.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara impotensi dan masalah psikologis dapat berjalan dua arah.
Seseorang yang mengalami depresi dapat mengalami gangguan fungsi seksual. Di sisi lain, pria yang terus mengalami kesulitan ereksi dapat merasa kecewa, malu, kurang percaya diri, atau mulai menghindari hubungan intim.
Sebuah tinjauan sistematis juga menemukan hubungan dua arah antara depresi dan disfungsi ereksi, walaupun hubungan individual tetap dipengaruhi banyak faktor lainnya.
Obat untuk Masalah Psikologis Juga Perlu Dievaluasi
Ada satu hal yang penting diketahui. Pada sebagian pasien, bukan hanya kondisi psikologisnya yang dapat memengaruhi ereksi, tetapi obat tertentu yang digunakan untuk mengobatinya juga dapat berperan.
NIDDK mencantumkan beberapa antidepresan sebagai obat yang dapat mempunyai efek samping berupa disfungsi ereksi pada sebagian orang.
Namun, jangan menghentikan obat antidepresan atau obat kesehatan mental lainnya secara mendadak tanpa arahan dokter.
Jika gangguan ereksi muncul setelah memulai obat tertentu, sampaikan keluhan tersebut kepada dokter. Tenaga kesehatan dapat mengevaluasi apakah obat mungkin berperan dan menentukan apakah diperlukan perubahan dosis, penggantian obat, atau pendekatan lainnya. NIDDK secara tegas menganjurkan pasien untuk tidak menghentikan obat sendiri ketika sedang mengevaluasi penyebab ED.
Bagaimana Mengetahui Impotensi Disebabkan Psikologis atau Fisik?
Tidak selalu mudah membedakannya sendiri.
Gangguan ereksi yang berhubungan dengan kondisi tertentu, misalnya hanya muncul dalam situasi seksual tertentu tetapi ereksi spontan masih terjadi, dapat memberikan petunjuk adanya komponen psikologis. Namun, pola seperti ini tidak cukup untuk memastikan diagnosis.
Dokter tetap perlu mempertimbangkan kemungkinan penyakit fisik.
Diabetes, obesitas, hipertensi, aterosklerosis, gangguan hormon, kerusakan saraf, penyakit ginjal kronis, dan beberapa kondisi lain dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
Bahkan pada pasien yang jelas mengalami stres atau kecemasan, penyebab fisik dan psikologis dapat terjadi bersamaan.
Karena itu, pemeriksaan ED biasanya mencakup riwayat kesehatan, riwayat seksual, riwayat kesehatan mental, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan tambahan bila diperlukan.
Hubungan dengan Pasangan Juga Bisa Berpengaruh
Gangguan ereksi terkadang memengaruhi hubungan dengan pasangan.
Ketika masalah tidak dibicarakan, pasangan dapat salah mengira bahwa menurunnya ereksi berarti kehilangan ketertarikan seksual. Sebaliknya, pria yang mengalami ED mungkin merasa malu atau takut mengecewakan pasangan sehingga mulai menghindari keintiman.
NIDDK mencatat bahwa disfungsi ereksi dapat menyebabkan berkurangnya keintiman dengan pasangan. Dalam penanganannya, konselor juga dapat melibatkan pasangan apabila hal tersebut membantu mengurangi stres dan kecemasan mengenai hubungan seksual.
Komunikasi yang terbuka dapat membantu mengurangi tekanan bahwa aktivitas seksual harus selalu berakhir dengan penetrasi atau ereksi sempurna.
Apakah Konseling Bisa Membantu?
Bisa, terutama jika faktor mental atau emosional ikut berperan.
NIDDK menyatakan bahwa tenaga kesehatan dapat menyarankan konseling apabila masalah kesehatan mental atau emosional memengaruhi ED. Konseling dapat membantu menurunkan kecemasan dan stres mengenai aktivitas seksual, dan pasangan dapat dilibatkan jika diperlukan.
American Urological Association juga menyarankan mempertimbangkan rujukan ke profesional kesehatan mental dalam pengelolaan ED, termasuk untuk membantu mengurangi performance anxiety.
Namun, terapi psikologis tidak berarti masalah ereksi dianggap “hanya ada di pikiran”. Pendekatan tersebut merupakan salah satu bagian dari penanganan menyeluruh ketika faktor psikologis memang berperan.
Apakah Tetap Memerlukan Obat Impotensi?
Tidak semua pria membutuhkan pengobatan yang sama.
Tenaga kesehatan akan berusaha menangani penyebab ED apabila dapat diketahui. Pilihan terapi dapat mencakup perubahan gaya hidup, konseling, evaluasi obat yang sedang digunakan, obat disfungsi ereksi, perangkat vakum, atau terapi lainnya sesuai kondisi pasien.
Obat golongan PDE5 inhibitor dapat membantu meningkatkan aliran darah menuju penis pada pasien yang sesuai, tetapi penggunaan obat tetap perlu mempertimbangkan kesehatan secara keseluruhan dan obat lain yang sedang digunakan.
Karena itu, membeli “obat kuat” sendiri bukan langkah terbaik untuk masalah ereksi yang terus berulang.
Kapan Sebaiknya Periksa ke Dokter?
Kesulitan ereksi yang terjadi sesekali belum tentu menunjukkan gangguan menetap. Namun, pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi terus berulang, semakin sering, atau mulai mengganggu kehidupan seksual dan hubungan dengan pasangan.
Klinik Lelaki Indonesia menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan berbagai gangguan kesehatan seksual pria, termasuk impotensi, disfungsi ereksi, ejakulasi dini, penurunan gairah seksual, dan gangguan hormon.
Pemeriksaan dan penanganan dilakukan langsung oleh Dokter Rio agar penyebab gangguan ereksi dapat diketahui dan terapi disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Jangan membeli atau menggunakan obat kuat sembarangan tanpa diagnosis dokter.
Kesimpulan
Hubungan antara impotensi dan masalah psikologis sangat erat. Stres, kecemasan, depresi, rendahnya kepercayaan diri, citra tubuh negatif, dan performance anxiety dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi.
Hubungannya juga dapat berlangsung dua arah. Gangguan ereksi dapat menyebabkan kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, serta menurunkan keintiman dengan pasangan.
Meski demikian, jangan langsung menyimpulkan bahwa impotensi hanya disebabkan pikiran. Diabetes, hipertensi, obesitas, gangguan pembuluh darah, masalah hormon, saraf, dan efek obat juga dapat berperan. Pemeriksaan yang tepat membantu menentukan apakah penyebabnya dominan fisik, psikologis, atau kombinasi keduanya.
Jika gangguan ereksi terus terjadi, membicarakannya dengan dokter merupakan langkah yang lebih tepat daripada menutupinya atau mengandalkan obat kuat tanpa pemeriksaan. Penanganan dapat mencakup perbaikan penyakit dasar, konseling, perubahan gaya hidup, dan terapi medis sesuai kebutuhan.
Baca juga: Kecanduan Pornografi Sebabkan Impotensi