Sulit Ereksi Saat Kena Diabetes?

Banyak kasus pria dapat mengalami sulit ereksi akibat diabetes. Pengidap diabetes dapat mengalami disfungsi ereksi akibat gangguan saraf. Tingginya kadar gula dapat memengaruhi kerja pembuluh darah sehingga proses ereksi tidak dapat berjalan maksimal.
Jadi, jika Anda mengalami sulit ereksi saat kena diabetes, kondisi tersebut bukan sekadar kebetulan. Pria dengan diabetes memang mempunyai risiko lebih tinggi mengalami gangguan ereksi. CDC menyebut pria dengan diabetes sekitar tiga kali lebih mungkin mengalami disfungsi ereksi dibandingkan pria tanpa diabetes.
Kabar baiknya, gangguan ereksi pada penderita diabetes dapat dievaluasi dan tersedia berbagai pilihan penanganan. Yang terpenting adalah tidak hanya mengandalkan obat kuat, tetapi juga mencari penyebab dan mengendalikan diabetes dengan baik.
Apa Itu Disfungsi Ereksi?
Disfungsi ereksi adalah kondisi ketika seorang pria sulit mendapatkan ereksi atau tidak mampu mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan aktivitas seksual. Kondisi ini dulu lebih sering disebut impotensi.
Mengalami kegagalan ereksi sesekali belum tentu berarti seseorang mengalami disfungsi ereksi. Kelelahan, stres, kondisi emosional, maupun berbagai faktor sementara dapat memengaruhi fungsi seksual. Namun, apabila masalah terus terjadi, semakin sering, atau mengganggu kehidupan seksual, sebaiknya dilakukan pemeriksaan.
Pada penderita diabetes, gangguan ereksi perlu mendapat perhatian karena dapat berhubungan dengan kerusakan saraf dan pembuluh darah akibat kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang.
Mengapa Diabetes Bisa Membuat Sulit Ereksi?
Untuk mendapatkan ereksi, tubuh membutuhkan kerja sama antara otak, saraf, pembuluh darah, hormon, dan jaringan penis. Ketika terdapat rangsangan seksual, pembuluh darah penis harus mampu melebar sehingga darah dapat mengalir masuk dan mengisi jaringan erektil.
Diabetes dapat mengganggu proses tersebut melalui beberapa mekanisme.
1. Gula Darah Tinggi Dapat Merusak Saraf
Salah satu komplikasi diabetes adalah neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf akibat diabetes. Kerusakan ini dapat mengenai saraf otonom yang mengatur berbagai fungsi tubuh tanpa kita sadari, termasuk fungsi seksual. CDC mencantumkan kesulitan mendapatkan ereksi sebagai salah satu masalah yang dapat muncul akibat kerusakan saraf otonom pada diabetes.
Jika saraf yang membantu mengatur respons seksual terganggu, sinyal dari otak menuju penis tidak bekerja sebaik sebelumnya. Akibatnya, penis dapat lebih sulit memberikan respons terhadap rangsangan seksual.
2. Diabetes Dapat Merusak Pembuluh Darah
Ereksi sangat bergantung pada aliran darah. Agar penis menjadi keras, darah harus mengalir dengan baik menuju jaringan erektil.
Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah. CDC menjelaskan bahwa kerusakan saraf dan berkurangnya suplai darah akibat diabetes dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
Jika pembuluh darah menuju penis mengalami gangguan, darah yang masuk mungkin tidak mencukupi untuk menghasilkan ereksi yang kuat atau mempertahankannya cukup lama. Inilah sebabnya kesehatan pembuluh darah merupakan bagian penting dalam kesehatan seksual pria dengan diabetes.
3. Diabetes Sering Datang Bersama Faktor Risiko Lain
Diabetes sering tidak berdiri sendiri. Sebagian pasien juga mengalami tekanan darah tinggi, obesitas, gangguan kolesterol, penyakit jantung, atau masalah pembuluh darah.
Kondisi seperti diabetes, hipertensi, obesitas, aterosklerosis, penyakit ginjal kronis, dan beberapa gangguan hormon semuanya dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi.
Karena itu, ketika pria dengan diabetes mengalami gangguan ereksi, dokter biasanya tidak hanya melihat kadar gula darah. Tekanan darah, berat badan, kondisi pembuluh darah, penggunaan obat, kesehatan hormonal, serta faktor psikologis mungkin juga perlu dievaluasi.
Apakah Sulit Ereksi Berarti Diabetes Sudah Parah?
Tidak selalu.
Gangguan ereksi tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan tingkat keparahan diabetes. Namun, pada orang yang sudah memiliki diabetes, masalah seksual dapat menjadi salah satu petunjuk adanya komplikasi yang memengaruhi saraf atau pembuluh darah. NIDDK menjelaskan bahwa diabetes dapat memengaruhi organ seksual melalui gangguan saraf, pembuluh darah, dan efek metabolik.
Karena itu, munculnya disfungsi ereksi merupakan alasan yang baik untuk mengevaluasi kembali pengelolaan diabetes dan faktor risiko kesehatan lainnya.
Jangan hanya menutupi gejalanya dengan obat ereksi tanpa mengetahui apakah gula darah, tekanan darah, kolesterol, atau kondisi pembuluh darah sudah terkendali.
Apakah Mengontrol Gula Darah Bisa Membantu?
Mengendalikan diabetes merupakan bagian penting dari upaya mencegah atau memperlambat komplikasi. WHO menjelaskan bahwa hiperglikemia yang berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan serius pada berbagai sistem tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah.
Karena dua komponen tersebut sangat penting dalam proses ereksi, kontrol diabetes juga penting dalam menjaga kesehatan seksual.
Namun, memperbaiki kadar gula darah tidak berarti ereksi pasti kembali normal dalam waktu singkat. Jika kerusakan saraf atau pembuluh darah sudah terjadi, pasien mungkin tetap memerlukan terapi tambahan untuk disfungsi ereksi.
Pendekatan terbaik adalah menangani penyakit dasarnya sekaligus mengevaluasi gangguan ereksi secara khusus. NIDDK menjelaskan bahwa tenaga kesehatan menangani penyebab yang mendasari ED kemudian menentukan terapi untuk memperbaiki fungsi seksual.
Gaya Hidup Juga Penting
Pengelolaan disfungsi ereksi pada penderita diabetes tidak hanya bergantung pada obat.
Menjaga berat badan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, tidak merokok, mengatur pola makan, serta mengendalikan penyakit metabolik dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah. Pola makan yang membantu menurunkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan obesitas juga berkaitan dengan risiko ED yang lebih rendah atau perbaikan gejala ED.
Perubahan gaya hidup tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, terutama jika sudah menggunakan insulin atau obat diabetes yang dapat menyebabkan gula darah terlalu rendah ketika aktivitas fisik atau pola makan berubah.
Karena itu, perubahan terapi diabetes sebaiknya dilakukan bersama dokter atau tenaga kesehatan yang menangani diabetes.
Bagaimana dengan Obat Kuat?
Disfungsi ereksi dapat ditangani dengan beberapa metode. Salah satunya adalah obat yang membantu meningkatkan aliran darah ke penis. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan obat lain yang sedang digunakan.
Hal ini penting karena penderita diabetes juga mungkin mempunyai hipertensi, penyakit jantung, atau gangguan kesehatan lain dan menggunakan beberapa jenis obat sekaligus. CDC mengingatkan bahwa beberapa obat disfungsi ereksi tidak aman bila digunakan bersama obat jantung tertentu sehingga dokter perlu mengetahui seluruh obat yang sedang dikonsumsi pasien.
Hindari membeli “obat kuat”, jamu, madu stamina, atau suplemen seksual yang kandungannya tidak jelas. Produk peningkat performa seksual tertentu pernah ditemukan mengandung obat tersembunyi yang dapat menimbulkan interaksi berbahaya.
Masalah Psikologis Juga Bisa Berperan
Walaupun diabetes dapat menyebabkan gangguan ereksi secara fisik, masalah psikologis juga dapat memperburuk keadaan.
Setelah beberapa kali gagal ereksi, seorang pria dapat menjadi cemas dan takut mengalami kegagalan lagi. Kecemasan tersebut kemudian dapat semakin mengganggu fungsi seksual.
NIDDK menjelaskan bahwa stres, kecemasan, depresi, rendahnya kepercayaan diri, serta masalah emosional lainnya dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi.
Artinya, seorang pasien diabetes dapat mengalami kombinasi antara gangguan pembuluh darah, kerusakan saraf, dan faktor psikologis sekaligus.
Bagaimana Dokter Memeriksa Gangguan Ereksi?
Diagnosis disfungsi ereksi tidak hanya dilakukan dengan memeriksa penis.
Dokter dapat menanyakan riwayat kesehatan, pola gangguan ereksi, riwayat seksual, kondisi psikologis, penyakit yang dimiliki, serta obat dan suplemen yang sedang digunakan. Pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan lain dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Pada pasien diabetes, evaluasi juga dapat mempertimbangkan apakah terdapat komplikasi diabetes atau kondisi lain seperti hipertensi, obesitas, penyakit pembuluh darah, gangguan hormon, atau penyakit ginjal yang berkontribusi terhadap ED.
Dengan mengetahui penyebabnya, pengobatan dapat dilakukan dengan lebih tepat dibandingkan sekadar mencoba obat ereksi sendiri.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Jika gangguan ereksi hanya terjadi sesekali, Anda tidak perlu langsung panik. Namun, lakukan pemeriksaan apabila sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksi terjadi berulang, semakin sering, atau mulai mengganggu hubungan seksual.
Klinik Lelaki Indonesia menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan berbagai gangguan kesehatan seksual pria, termasuk impotensi, disfungsi ereksi, ejakulasi dini, penurunan gairah seksual, dan gangguan hormon.
Pemeriksaan dan penanganan dilakukan langsung oleh Dokter Rio agar penyebab gangguan ereksi dapat diketahui dan terapi disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Jangan membeli atau menggunakan obat kuat sembarangan tanpa diagnosis dokter.
Kesimpulan
Jadi, sulit ereksi saat kena diabetes memang dapat terjadi. Pria dengan diabetes bahkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi dibandingkan mereka yang tidak memiliki diabetes.
Penyebab utamanya dapat melibatkan kerusakan saraf dan pembuluh darah akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Diabetes juga sering disertai kondisi lain seperti obesitas, hipertensi, serta penyakit pembuluh darah yang dapat semakin meningkatkan risiko gangguan ereksi.
Namun, disfungsi ereksi bukan berarti kehidupan seksual harus berakhir. Mengendalikan diabetes, menjaga kesehatan pembuluh darah, memperbaiki gaya hidup, mengevaluasi faktor psikologis, dan mendapatkan terapi ED yang sesuai dapat membantu.
Yang terpenting, jangan malu membicarakan gangguan ereksi dengan dokter. Pada penderita diabetes, masalah ereksi bukan hanya persoalan performa seksual, tetapi dapat menjadi salah satu tanda bahwa kesehatan saraf dan pembuluh darah juga perlu mendapat perhatian.
Baca juga: Diabetes Bikin Lemah Syahwat?