Hipertensi Bisa Bikin Performa di Ranjang Menurun?

Banyak pria yang mengalami hipertensi mengeluhkan soal performa seksual dengan pasangannya menurun. Hal ini dipengaruhi karena ereksi sangat bergantung pada kondisi pembuluh darah.
American Heart Association menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi yang berlangsung terlalu lama dapat merusak pembuluh darah dan mengurangi aliran darah ke berbagai bagian tubuh, termasuk daerah panggul. Berkurangnya darah yang mencapai penis dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
Namun, gangguan seksual pada penderita hipertensi tidak selalu disebabkan oleh tekanan darah tinggi saja. Diabetes, obesitas, penyakit pembuluh darah, obat-obatan, stres, kecemasan, dan faktor lainnya juga dapat ikut berperan.
Mengapa Ereksi Membutuhkan Pembuluh Darah yang Sehat?
Ereksi sebenarnya merupakan proses yang cukup kompleks. Otak, saraf, hormon, jaringan penis, dan pembuluh darah harus bekerja bersama-sama.
Ketika seorang pria mendapatkan rangsangan seksual, pembuluh darah menuju penis akan melebar. Darah kemudian mengalir ke jaringan erektil sehingga penis menjadi lebih besar dan keras.
Jika pembuluh darah tidak dapat melebar dengan baik atau aliran darah berkurang, ereksi dapat menjadi lebih sulit diperoleh atau tidak mampu bertahan cukup lama.
Inilah salah satu alasan mengapa kesehatan jantung dan pembuluh darah mempunyai hubungan erat dengan kesehatan seksual.
Bagaimana Hipertensi Bisa Menurunkan Kemampuan Ereksi?
Tekanan darah yang terlalu tinggi dalam waktu lama dapat memberikan tekanan berlebihan pada dinding pembuluh darah. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat merusak fungsi pembuluh darah dan membuat aliran darah tidak bekerja sebaik sebelumnya.
American Heart Association menjelaskan bahwa kerusakan pembuluh darah akibat hipertensi dapat mengurangi aliran darah ke seluruh tubuh. Pada pria, ketika darah yang mencapai penis tidak mencukupi, disfungsi ereksi dapat terjadi.
Disfungsi ereksi atau erectile dysfunction adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk aktivitas seksual. Gejalanya tidak selalu berupa ketidakmampuan total untuk ereksi. Seorang pria dapat masih mengalami ereksi, tetapi hanya sesekali atau ereksinya tidak bertahan cukup lama.
Karena itu, perubahan kualitas ereksi yang terjadi terus-menerus sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah usia atau menurunnya “kejantanan”.
Apa Saja Tanda Performa Seksual Mulai Terganggu?
Gangguan yang paling berkaitan dengan hipertensi adalah perubahan kemampuan ereksi.
Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
- lebih sulit mendapatkan ereksi dibandingkan sebelumnya,
- penis dapat ereksi tetapi kurang keras,
- ereksi mudah hilang sebelum atau ketika melakukan hubungan seksual,
- hanya mampu mengalami ereksi pada beberapa kesempatan,
- atau tidak mampu mendapatkan ereksi sama sekali.
NIDDK memasukkan ereksi yang hanya muncul sesekali, ereksi yang tidak bertahan cukup lama, dan ketidakmampuan mengalami ereksi sebagai gejala utama disfungsi ereksi.
Namun, istilah “performa seksual” sangat luas. Penurunan gairah seksual, ejakulasi terlalu cepat, sulit orgasme, dan gangguan ereksi merupakan masalah yang berbeda dan dapat memiliki penyebab berbeda pula.
Jadi, hipertensi tidak boleh dianggap sebagai penyebab setiap masalah seksual yang dialami seorang pria.
Apakah Semua Pria dengan Hipertensi Akan Mengalami Impotensi?
Tidak.
Hipertensi meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan ereksi karena dapat memengaruhi pembuluh darah, tetapi tidak setiap pria dengan tekanan darah tinggi pasti mengalami impotensi.
NIDDK menjelaskan bahwa disfungsi ereksi dapat dipengaruhi berbagai penyakit dan kondisi yang mengenai pembuluh darah, saraf, maupun hormon. Selain hipertensi, diabetes, aterosklerosis, obesitas, penyakit ginjal kronis, gangguan testosteron, serta masalah neurologis juga dapat menyebabkan ED.
Faktor psikologis juga penting. Stres, kecemasan, dan masalah emosional dapat memengaruhi kemampuan ereksi.
Karena itu, jika seorang penderita hipertensi mulai mengalami masalah seksual, evaluasi sebaiknya melihat kesehatan secara keseluruhan.
Apakah Obat Hipertensi Bisa Memengaruhi Ereksi?
Ini merupakan pertanyaan yang cukup sering membuat pasien khawatir.
Beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah memang dapat berkaitan dengan gangguan ereksi pada sebagian pasien. NIDDK mencantumkan obat tekanan darah dan diuretik sebagai beberapa obat yang dapat menyebabkan ED sebagai efek samping.
American Heart Association juga mencantumkan gangguan seksual atau disfungsi ereksi sebagai salah satu kemungkinan efek samping beta-blocker. Namun, efek setiap obat dapat berbeda pada masing-masing orang.
Hal penting yang perlu diingat adalah jangan menghentikan obat hipertensi sendiri.
Tekanan darah yang tidak terkontrol justru dapat terus merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, serta komplikasi lain. Jika gangguan ereksi muncul setelah menggunakan obat tertentu, konsultasikan dengan dokter.
Dokter dapat mengevaluasi apakah keluhan kemungkinan berhubungan dengan obat dan mempertimbangkan perubahan dosis atau jenis terapi bila memang diperlukan. NIDDK secara tegas menyarankan pasien untuk tidak menghentikan obat sendiri ketika mengevaluasi disfungsi ereksi.
Gangguan Ereksi Bisa Menjadi Sinyal Kesehatan Pembuluh Darah
Satu hal yang sering dilupakan adalah disfungsi ereksi bukan semata-mata masalah aktivitas seksual.
American Urological Association menyatakan bahwa pria dengan ED perlu diberi tahu bahwa disfungsi ereksi dapat menjadi penanda adanya penyakit kardiovaskular yang mendasari dan kondisi kesehatan lain yang mungkin memerlukan evaluasi.
Hal ini masuk akal karena penis dan jantung sama-sama membutuhkan pembuluh darah yang berfungsi baik.
Karena itu, pria dengan hipertensi yang mulai mengalami disfungsi ereksi tidak sebaiknya hanya mencari obat kuat. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, profil lemak, berat badan, kebiasaan merokok, dan faktor risiko kardiovaskular lainnya dapat diperlukan sesuai kondisi pasien.
Apakah Mengontrol Hipertensi Bisa Memperbaiki Performa Seksual?
Menjaga tekanan darah tetap terkontrol merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan pembuluh darah.
Selain terapi hipertensi yang diresepkan dokter, perubahan gaya hidup juga dapat membantu kesehatan seksual secara umum.
NIDDK merekomendasikan beberapa perubahan gaya hidup untuk membantu mencegah atau memperbaiki disfungsi ereksi, yaitu berhenti merokok, membatasi alkohol, meningkatkan aktivitas fisik, mempertahankan berat badan sehat, dan menerapkan pola makan sehat.
Langkah-langkah tersebut bukan hanya bermanfaat untuk ereksi. Aktivitas fisik, pola makan sehat, dan pengendalian berat badan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Namun, fungsi ereksi tidak selalu langsung kembali normal setelah tekanan darah membaik. Apabila sudah terdapat gangguan pembuluh darah atau faktor lain, terapi khusus ED mungkin tetap diperlukan.
Bagaimana dengan Obat untuk Disfungsi Ereksi?
Obat golongan phosphodiesterase type 5 inhibitor atau PDE5 inhibitor termasuk terapi yang digunakan untuk disfungsi ereksi. Obat ini bekerja membantu meningkatkan aliran darah ke penis sehingga pasien dapat lebih mudah mendapatkan dan mempertahankan ereksi ketika terdapat rangsangan seksual.
Namun, penderita hipertensi sebaiknya tidak membeli obat ereksi sendiri.
Dokter perlu mengetahui kondisi jantung, tekanan darah, dan seluruh obat yang sedang digunakan sebelum menentukan apakah terapi tersebut aman.
Hal ini sangat penting jika pasien juga memiliki penyakit jantung atau menggunakan obat lain yang dapat berinteraksi dengan obat disfungsi ereksi.
NIDDK juga menyarankan agar obat ED maupun suplemen tidak dipesan atau digunakan tanpa terlebih dahulu berdiskusi dengan tenaga kesehatan karena interaksi dengan obat lain dapat menimbulkan efek samping serius.
Jangan Abaikan Faktor Psikologis
Masalah ereksi dapat menimbulkan kecemasan tersendiri.
Setelah beberapa kali gagal mempertahankan ereksi, seorang pria mungkin mulai memikirkan apakah kejadian tersebut akan terulang. Kekhawatiran ini kemudian dapat menimbulkan stres saat akan melakukan aktivitas seksual dan semakin memperburuk kemampuan ereksi.
NIDDK menjelaskan bahwa konseling dapat menjadi bagian dari terapi ketika masalah emosional atau kesehatan mental ikut memengaruhi ED. Konseling dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres mengenai hubungan seksual.
Jadi, pada sebagian pasien hipertensi, gangguan ereksi dapat melibatkan kombinasi antara masalah pembuluh darah dan kecemasan mengenai performa seksual.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Kesulitan ereksi yang hanya terjadi sesekali tidak selalu menandakan penyakit serius. Namun, pemeriksaan sebaiknya dilakukan apabila gangguan terjadi berulang, semakin sering, atau mulai mengganggu kehidupan seksual.
Di Klinik Lelaki Indonesia, Anda dapat menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab gangguan fungsi seksual secara lebih akurat. Penanganan dilakukan langsung oleh Dokter Rio dengan pendekatan medis yang mengutamakan diagnosis yang tepat, menjaga privasi pasien, serta memberikan terapi sesuai dengan kondisi masing-masing. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan sekaligus menjaga kesehatan reproduksi pria dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Jadi, performa di ranjang menurun akibat hipertensi memang dapat terjadi, terutama dalam bentuk kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi.
Tekanan darah tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan mengurangi aliran darah menuju daerah panggul. Ketika darah yang masuk ke penis tidak mencukupi, ereksi dapat menjadi lebih sulit.
Beberapa obat hipertensi juga dapat memengaruhi fungsi ereksi pada sebagian pasien, tetapi obat tidak boleh dihentikan sendiri.
Yang paling penting, jangan melihat gangguan ereksi hanya sebagai persoalan performa seksual. Pada pria dengan hipertensi, perubahan fungsi ereksi juga dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kesehatan pembuluh darah dan faktor risiko kardiovaskular lainnya.
Mengontrol tekanan darah, menjalani pola hidup sehat, tidak merokok, menjaga berat badan, dan melakukan pemeriksaan jika masalah ereksi menetap dapat membantu menjaga kesehatan seksual sekaligus kesehatan jantung.
Baca juga: Obat Impotensi, Amankah Digunakan?