KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Penyakit Klamidia Apakah Berbahaya?

Penyakit Klamidia Apakah Berbahaya?

Ilustrasi penyakit klamidia bisa menyerang pria dan wanita

Penyakit klamidia merupakan salah satu penyakit menular seksual yang bisa menyerang pria dan wanita. Sering kali penyakiit ini tidak menimbulkan gejala sehingga kebanyakan orang akan terlambat menyadarinya. Padahal, penyakit klamidia bisa berbahaya jika tidak mendapatkan pengobatan, terutama karena dapat menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi.

Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi ini dapat terjadi pada pria maupun wanita dan terutama ditularkan melalui aktivitas seksual vaginal, anal, maupun oral dengan seseorang yang mengalami infeksi. Klamidia sebenarnya dapat disembuhkan menggunakan antibiotik yang tepat. Namun, kerusakan organ yang sudah terjadi sebelum pengobatan belum tentu dapat diperbaiki.

Jadi, apakah penyakit klamidia berbahaya? Jawabannya: bisa, terutama jika infeksi tidak diketahui dan dibiarkan tanpa terapi.

Klamidia Sering Tidak Menimbulkan Gejala

Salah satu alasan klamidia perlu diwaspadai adalah banyak penderita tidak merasakan keluhan. WHO menyebut infeksi klamidia sering tidak bergejala atau hanya menimbulkan gejala ringan. Jika gejala muncul, keluhan juga tidak selalu langsung muncul setelah penularan.

Artinya, seseorang dapat merasa sehat tetapi tetap membawa bakteri dan berpotensi menularkannya kepada pasangan.

Tidak adanya rasa sakit, luka, atau cairan dari organ genital juga bukan jaminan bahwa seseorang bebas klamidia. Pemeriksaan laboratorium menjadi penting jika terdapat riwayat paparan seksual yang berisiko atau pasangan diketahui mengalami infeksi menular seksual.

Apa Gejala Klamidia pada Wanita?

Pada wanita, klamidia dapat menginfeksi leher rahim dan bagian lain dari sistem reproduksi. Ketika menimbulkan gejala, beberapa keluhan yang dapat muncul meliputi:

  • cairan vagina yang berubah atau tidak seperti biasanya,
  • rasa terbakar ketika buang air kecil,
  • perdarahan di antara periode menstruasi,
  • perdarahan setelah berhubungan seksual,
  • nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah,
  • serta rasa gatal pada area genital.

Namun, infeksi pada wanita dapat tetap menyebabkan kerusakan pada sistem reproduksi meskipun tidak terdapat gejala yang jelas.

Apa Gejala Klamidia pada Pria?

Pada pria, klamidia dapat menyebabkan peradangan pada uretra atau saluran tempat keluarnya urine.

Gejala yang dapat muncul antara lain rasa panas atau terbakar saat buang air kecil, keluarnya cairan dari penis, serta rasa sakit pada testis. Pada sebagian kasus dapat terjadi nyeri dan pembengkakan pada satu atau kedua testis, meskipun keluhan tersebut lebih jarang terjadi.

Infeksi pada rektum juga mungkin terjadi pada pria maupun wanita. Keluhannya dapat berupa nyeri, keluarnya cairan dari anus, atau perdarahan. Infeksi klamidia pada tenggorokan setelah paparan oral justru sering tidak menunjukkan gejala.

Mengapa Klamidia Berbahaya bagi Wanita?

Komplikasi klamidia yang paling dikhawatirkan pada wanita adalah pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul.

Infeksi yang awalnya berada pada bagian bawah sistem reproduksi dapat menyebar ke rahim dan saluran tuba. Peradangan tersebut kemudian dapat menyebabkan kerusakan dan pembentukan jaringan parut pada saluran reproduksi.

Masalahnya, PID juga dapat berlangsung dengan gejala yang sangat ringan atau bahkan tidak dikenali. CDC menyatakan bahwa wanita dengan PID ringan atau tanpa gejala jelas tetap dapat berisiko mengalami infertilitas.

Karena itu, klamidia yang tidak menimbulkan gejala bukan berarti tidak berbahaya.

Klamidia Bisa Menyebabkan Sulit Hamil

Salah satu komplikasi jangka panjang klamidia pada wanita adalah gangguan kesuburan.

Infeksi yang berkembang menjadi PID dapat menimbulkan jaringan parut yang menyumbat atau merusak saluran tuba. Saluran ini dibutuhkan untuk membawa sel telur dan menjadi tempat terjadinya proses awal pembuahan.

Jika saluran tuba mengalami kerusakan, kemungkinan untuk hamil dapat berkurang. CDC menyebut infertilitas sebagai salah satu komplikasi penting dari PID akibat klamidia yang tidak ditangani.

Hal penting lainnya adalah antibiotik dapat menyembuhkan infeksi klamidia, tetapi tidak dapat selalu mengembalikan kerusakan permanen pada organ reproduksi yang sudah terbentuk sebelumnya.

Inilah sebabnya deteksi dan pengobatan dini sangat penting.

Risiko Kehamilan Ektopik

Kerusakan saluran tuba akibat PID juga dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Kehamilan ektopik terjadi ketika kehamilan berkembang di luar rahim, paling sering di dalam saluran tuba. Kondisi tersebut dapat menjadi keadaan serius dan berpotensi mengancam keselamatan jika tidak segera ditangani. Klamidia yang tidak diobati merupakan salah satu infeksi yang dapat meningkatkan risiko tersebut melalui kerusakan pada organ reproduksi.

Karena itu, riwayat klamidia yang tidak diobati sebaiknya disampaikan kepada dokter ketika merencanakan kehamilan atau menjalani pemeriksaan kehamilan.

Apakah Klamidia Berbahaya bagi Pria?

Walaupun komplikasi berat lebih sering dibahas pada wanita, pria juga dapat mengalami komplikasi.

WHO menyebut klamidia dapat menyebabkan epididimitis atau epididimo-orchitis, yaitu infeksi atau peradangan pada struktur yang berkaitan dengan testis. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan. Dalam kasus yang jarang, komplikasi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan kesuburan pada pria.

Karena itu, nyeri testis yang disertai keluarnya cairan dari penis atau rasa terbakar ketika buang air kecil setelah aktivitas seksual berisiko sebaiknya diperiksakan.

Klamidia dan Kehamilan

Klamidia juga perlu mendapat perhatian khusus selama kehamilan.

Wanita hamil yang mengalami klamidia dapat menularkan infeksi kepada bayinya ketika proses persalinan. Bayi yang terinfeksi dapat mengalami infeksi mata atau konjungtivitis maupun pneumonia. WHO juga mengaitkan klamidia pada kehamilan dengan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.

Karena itu, pemeriksaan dan pengobatan selama kehamilan perlu dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. CDC menekankan pentingnya skrining dan pengobatan selama kehamilan pada mereka yang memenuhi indikasi untuk mengurangi risiko infeksi pada bayi.

Apakah Klamidia Bisa Sembuh?

Ya. Klamidia dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat. WHO dan CDC sama-sama menegaskan bahwa infeksi ini dapat diobati dan disembuhkan.

Namun, jenis antibiotik dan cara penggunaannya sebaiknya ditentukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan kondisi pasien, termasuk apakah pasien sedang hamil dan apakah terdapat infeksi pada lokasi lain.

Jangan membeli antibiotik secara sembarangan atau menggunakan sisa antibiotik milik orang lain.

Pasangan seksual juga perlu mendapatkan evaluasi dan penanganan bila diperlukan karena seseorang dapat kembali tertular dari pasangan yang masih mengalami infeksi. WHO menyebut infeksi berulang dapat terjadi apabila pasangan seksual tidak diobati.

CDC juga merekomendasikan pemeriksaan ulang sekitar tiga bulan setelah terapi karena infeksi ulang cukup sering terjadi.

Bagaimana Klamidia Didiagnosis?

Klamidia tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala.

Pemeriksaan yang paling banyak digunakan adalah nucleic acid amplification test (NAAT), yaitu pemeriksaan molekuler untuk mendeteksi materi genetik Chlamydia trachomatis. WHO menyebut NAAT sebagai standar utama pemeriksaan klamidia.

Sampel dapat berupa urine maupun swab dari vagina, uretra, rektum, atau tenggorokan, tergantung lokasi paparan dan riwayat seksual pasien.

Jika klamidia ditemukan, pemeriksaan IMS lain seperti gonore, sifilis, atau HIV juga dapat direkomendasikan berdasarkan riwayat dan faktor risiko pasien.

Cara Mencegah Klamidia

Penggunaan kondom secara benar dan konsisten dapat membantu menurunkan risiko penularan klamidia. Hubungan monogami dengan pasangan yang telah menjalani pemeriksaan dan tidak mengalami infeksi juga dapat menurunkan risiko.

Selain itu, pemeriksaan perlu dipertimbangkan bila memiliki pasangan baru, pasangan seksual lebih dari satu, pasangan diketahui mengalami IMS, atau pernah melakukan aktivitas seksual tanpa kondom dengan pasangan yang status infeksinya tidak diketahui. Kebutuhan dan frekuensi pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan faktor risiko masing-masing individu dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Lakukan pemeriksaan apabila mengalami cairan tidak normal dari penis atau vagina, rasa terbakar ketika berkemih, perdarahan di luar menstruasi, nyeri pada perut bagian bawah, nyeri atau pembengkakan testis, atau keluhan pada anus setelah aktivitas seksual berisiko.

Di Klinik Lelaki Indonesia pemeriksaan dilakukan secara privat dan profesional untuk membantu menemukan penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai.

Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dr. Mohammad Caesario (Dokter Rio), dokter yang menangani berbagai masalah kesehatan pria, termasuk gangguan seksual, ejakulasi dini, dan keluhan organ reproduksi pria.

Kesimpulan

Jadi, apakah penyakit klamidia berbahaya? Ya, klamidia dapat menjadi berbahaya apabila tidak ditangani.

Pada wanita, infeksi yang tidak diobati dapat berkembang menjadi penyakit radang panggul, menyebabkan kerusakan saluran tuba, infertilitas, nyeri panggul kronis, dan meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Pada pria, komplikasi dapat berupa epididimitis dan, dalam kasus yang jarang, gangguan kesuburan.

Klamidia selama kehamilan juga dapat ditularkan kepada bayi dan menyebabkan infeksi mata atau pneumonia.

Kabar baiknya, klamidia merupakan infeksi yang dapat disembuhkan dengan antibiotik yang tepat. Karena infeksi sering tidak bergejala, jangan menunggu sampai muncul keluhan berat. Pemeriksaan setelah paparan berisiko dan pengobatan sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi jangka panjang.

 

Baca juga: Penyakit Kelamin Pria Memicu Kanker?