Kenali Faktor Risiko Hubungan Beresiko

Penyakit kelamin atau dalam istilah medis disebut infeksi menular seksual (IMS) dapat menular lewat hubungan beresiko melalui vaginal, anal, maupun oral. Resiko penularannya tidak sama pada setiap orang dan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak pasangan seksual yang dimiliki.
Yang dimaksud dengan hubungan seksual berisiko adalah aktivitas seksual yang meningkatkan kemungkinan seseorang terpapar infeksi, misalnya hubungan tanpa kondom, memiliki pasangan baru atau beberapa pasangan seksual, berhubungan dengan pasangan yang status IMS-nya tidak diketahui, atau melakukan aktivitas seksual saat berada di bawah pengaruh alkohol atau zat tertentu sehingga keputusan menjadi kurang aman. CDC memasukkan hubungan vaginal, anal, maupun oral tanpa kondom, memiliki banyak pasangan, dan pasangan anonim sebagai beberapa perilaku yang meningkatkan risiko IMS.
Masalahnya, banyak IMS dapat terjadi tanpa gejala. Seseorang bisa tampak sehat tetapi tetap membawa infeksi dan menularkannya kepada pasangan.
Apa Itu Penyakit Kelamin?
Penyakit kelamin merupakan istilah umum untuk berbagai infeksi yang terutama dapat ditularkan melalui kontak seksual. Beberapa contohnya adalah gonore, klamidia, sifilis, trikomoniasis, herpes genital, human papillomavirus atau HPV, serta HIV.
Sebagian IMS disebabkan bakteri atau parasit dan dapat disembuhkan dengan terapi yang tepat. Sementara itu, beberapa infeksi virus seperti herpes genital dan HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan tetapi bersifat menetap dalam tubuh.
Karena sifat setiap infeksi berbeda, gejala, cara pemeriksaan, dan pengobatannya juga tidak sama.
Mengapa Hubungan Tanpa Kondom Lebih Berisiko?
Kondom berfungsi sebagai penghalang yang membantu mengurangi kontak dengan cairan tubuh maupun permukaan mukosa yang dapat menjadi jalur penularan berbagai IMS.
WHO menyatakan bahwa kondom yang digunakan secara benar dan konsisten merupakan salah satu metode paling efektif untuk mengurangi risiko sebagian besar IMS, termasuk HIV. Kondom dapat digunakan dalam aktivitas seksual vaginal, anal, maupun oral.
Artinya, hubungan seksual tanpa kondom dapat meningkatkan kemungkinan terpapar infeksi apabila salah satu pasangan membawa IMS.
Namun, perlu dipahami bahwa kondom tidak memberikan perlindungan 100 persen. Infeksi yang dapat menyebar melalui kontak kulit, luka, atau area genital yang tidak tertutup kondom, seperti herpes genital, HPV, dan sebagian kasus sifilis, masih dapat menular.
Jadi, kondom menurunkan risiko, tetapi tidak membuat risiko menjadi nol.
Berganti-ganti Pasangan Dapat Meningkatkan Risiko
Semakin banyak pasangan seksual, semakin banyak pula kemungkinan terjadinya paparan terhadap seseorang yang memiliki IMS.
CDC memasukkan memiliki beberapa pasangan seksual serta pasangan anonim sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko IMS.
Namun, memiliki hanya satu pasangan juga tidak otomatis berarti tidak memiliki risiko. Jika pasangan tersebut memiliki infeksi yang belum diketahui atau juga mempunyai pasangan lain, penularan tetap dapat terjadi.
Karena itu, yang lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah pasangan adalah mengetahui faktor risiko, melakukan komunikasi mengenai kesehatan seksual, menggunakan perlindungan, dan melakukan pemeriksaan ketika diperlukan.
Seks Oral Juga Dapat Menularkan Penyakit Kelamin
Ada anggapan bahwa seks oral sepenuhnya aman dari penyakit menular seksual. Ini tidak tepat.
CDC menjelaskan bahwa berbagai IMS dapat ditularkan melalui aktivitas seksual oral. Infeksi dapat terjadi pada mulut, tenggorokan, genital, maupun rektum tergantung jenis kontak seksual dan infeksi yang terlibat.
Namun, risiko masing-masing penyakit berbeda. Dalam konteks HIV, misalnya, risiko penularan melalui seks oral jauh lebih rendah dibandingkan hubungan anal atau vaginal.
Meski begitu, gonore, sifilis, herpes, dan beberapa infeksi lain tetap dapat menyebar melalui kontak oral-genital. Karena itu, tidak adanya penetrasi vaginal tidak berarti seseorang bebas dari kemungkinan IMS.
Hubungan Anal Memiliki Risiko Tertentu yang Lebih Tinggi
Untuk HIV, hubungan seksual anal merupakan aktivitas seksual dengan risiko penularan lebih tinggi dibandingkan aktivitas seksual vaginal atau oral, terutama bagi pasangan yang menerima penetrasi.
Salah satu alasannya adalah jaringan rektum relatif tipis dan lebih mudah mengalami luka mikroskopis yang dapat menjadi jalan masuk virus.
Namun, hal ini tidak berarti setiap orang yang melakukan hubungan anal akan terkena HIV. Risiko tetap dipengaruhi oleh status HIV pasangan, penggunaan kondom, penggunaan PrEP, terapi antiretroviral dan supresi virus pada pasangan dengan HIV, serta faktor lain.
Alkohol dan Zat Tertentu Bisa Meningkatkan Perilaku Berisiko
Alkohol atau penggunaan zat tertentu tidak secara langsung menyebabkan penyakit kelamin. Namun, kondisi tersebut dapat menurunkan kontrol diri dan kemampuan mengambil keputusan sehingga seseorang lebih mungkin melakukan hubungan tanpa kondom atau mengambil keputusan seksual yang sebelumnya tidak direncanakan.
CDC memasukkan hubungan seksual ketika berada di bawah pengaruh alkohol atau obat tertentu sebagai salah satu situasi yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko.
Karena itu, faktor perilaku juga menjadi bagian penting dalam pencegahan IMS.
Jangan Mengandalkan Gejala Saja
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap pasangan aman karena tidak memiliki luka, kutil, cairan abnormal, atau keluhan lain.
Padahal, sebagian besar IMS dapat tidak menunjukkan tanda atau gejala yang jelas.
Ketika bergejala, IMS dapat menyebabkan antara lain:
- cairan tidak normal dari penis atau vagina,
- rasa terbakar ketika buang air kecil,
- luka atau lepuhan pada genital,
- kutil atau benjolan,
- nyeri perut bagian bawah,
- gatal atau rasa tidak nyaman pada area genital.
Namun, keluhan tersebut tidak spesifik dan dapat disebabkan penyakit lain.
Karena itu, status IMS seseorang tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan penampilan atau ada tidaknya gejala.
Apa Bahaya Jika IMS Tidak Diketahui?
Beberapa IMS dapat menyebabkan komplikasi ketika tidak didiagnosis dan diobati.
WHO menjelaskan bahwa IMS dapat berdampak pada kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk infertilitas, komplikasi kehamilan, kanker tertentu, serta peningkatan risiko memperoleh HIV.
Sebagai contoh, klamidia dan gonore yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit radang panggul pada perempuan dan meningkatkan risiko gangguan kesuburan.
Infeksi HPV risiko tinggi yang menetap dapat berkaitan dengan beberapa jenis kanker, sedangkan sifilis yang tidak mendapatkan terapi dapat berkembang menjadi komplikasi serius pada organ tubuh.
Inilah alasan mengapa pencegahan dan pemeriksaan lebih baik dilakukan sebelum muncul komplikasi.
Kapan Sebaiknya Melakukan Tes IMS?
Pemeriksaan sebaiknya dipertimbangkan ketika seseorang pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom, mempunyai pasangan baru atau beberapa pasangan, pasangannya didiagnosis IMS, atau mengalami gejala yang mencurigakan.
CDC juga merekomendasikan pemeriksaan yang lebih sering pada beberapa kelompok dengan risiko lebih tinggi, misalnya orang yang mempunyai beberapa atau pasangan anonim. Jadwal dan jenis pemeriksaan berbeda tergantung usia, jenis aktivitas seksual, jenis kelamin, kehamilan, serta faktor risiko lainnya.
Tes dapat berupa pemeriksaan darah, urine, atau swab dari genital, tenggorokan, maupun rektum tergantung infeksi dan lokasi paparan.
Bagaimana Mengurangi Risiko Penyakit Kelamin?
Langkah pertama adalah menggunakan kondom secara benar dan konsisten. WHO menyatakan kondom dapat secara bermakna menurunkan risiko sebagian besar IMS ketika digunakan dengan tepat.
Selain itu, risiko dapat dikurangi dengan:
- melakukan pemeriksaan IMS sesuai faktor risiko,
- berkomunikasi terbuka mengenai status kesehatan seksual dengan pasangan,
- mengurangi jumlah paparan seksual berisiko,
- tidak melakukan hubungan seksual ketika terdapat luka atau gejala infeksi,
- mendapatkan vaksinasi HPV dan hepatitis B jika memenuhi rekomendasi,
- serta mengikuti terapi hingga selesai jika didiagnosis IMS.
Untuk pencegahan HIV pada orang dengan risiko tertentu, tersedia juga PrEP atau pre-exposure prophylaxis. Namun, PrEP mencegah HIV dan tidak melindungi dari IMS lain sehingga strategi pencegahan tetap perlu disesuaikan.
Konsultasikan di Klinik Lelaki Indonesia
Jika Anda mengalami gejala keluar cairan tidak biasa dari penis atau vagina, rasa terbakar ketika buang air kecil, gatal atau rasa tidak nyaman pada area genital dan perubahan fungsi seksual, segera lakukan konsultasi di Klinik Lelaki Indonesia. Pemeriksaan dilakukan secara privat dan profesional untuk membantu menemukan penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai.
Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dr. Mohammad Caesario (Dokter Rio), jangan menunggu hingga infeksi berkembang menjadi lebih serius. Semakin cepat mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk sembuh dan terhindar dari komplikasi jangka panjang.
Kesimpulan
Hubungan seksual berisiko dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit kelamin atau infeksi menular seksual. Risiko meningkat terutama pada hubungan vaginal, anal, atau oral tanpa kondom, memiliki beberapa atau pasangan anonim, serta situasi ketika keputusan seksual dipengaruhi alkohol atau zat tertentu.
Namun, risiko tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Seseorang yang hanya memiliki satu pasangan tetap dapat terpapar apabila pasangan tersebut membawa infeksi yang belum diketahui.
Hal terpenting adalah memahami bahwa banyak IMS tidak menimbulkan gejala. Karena itu, merasa sehat atau melihat pasangan tampak sehat tidak dapat memastikan seseorang bebas infeksi.
Penggunaan kondom, pemeriksaan sesuai faktor risiko, komunikasi dengan pasangan, vaksinasi yang tersedia, serta pengobatan sejak dini merupakan langkah penting untuk mengurangi penularan dan mencegah komplikasi.
Baca juga: Penyakit Kelamin Pria Memicu Kanker?