Jangan Anggap Sepele! Ini Tanda-Tanda Gonore yang Perlu Diperiksa

Gonore adalah infeksi menular seksual (IMS) yang kerap tidak menunjukkan ada gejala di awal. Bakteri ini menginfeksi saluran kemih, organ reproduksi, tenggorokan, hingga anus.
Meski bisa sembuh total dengan antibiotik yang tepat, gonore yang terlambat ditangani berisiko memicu komplikasi serius dan menularkan infeksi ke pasangan.
Apa Itu Gonore?
Gonore merupakan infeksi bakteri yang terutama ditularkan melalui hubungan seksual vaginal, anal, atau oral dengan seseorang yang terinfeksi. Bakteri Neisseria gonorrhoeae dapat menginfeksi beberapa bagian tubuh, termasuk uretra, leher rahim, rektum, dan tenggorokan.
Pada pria, infeksi sering menyerang uretra. Salah satu tanda yang cukup khas adalah keluarnya cairan seperti nanah dari penis. Sementara itu, pada wanita, gonore sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga infeksi dapat diketahui setelah pemeriksaan atau ketika komplikasi mulai muncul.
Apa Saja Gejala Gonore?
Gejala gonore dapat berbeda pada setiap orang. Pada pria, beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:
- Keluar cairan putih, kuning, atau kehijauan dari penis.
- Rasa perih atau terbakar ketika buang air kecil.
- Ujung penis terasa nyeri atau mengalami iritasi.
- Nyeri atau pembengkakan pada testis.
- Rasa tidak nyaman pada saluran kemih.
Pada wanita, gejalanya dapat lebih samar. Keluhan yang mungkin muncul meliputi keputihan yang tidak biasa, rasa terbakar saat buang air kecil, serta perdarahan di luar menstruasi atau setelah berhubungan seksual.
Gonore juga dapat menginfeksi anus. Gejalanya dapat berupa rasa gatal, nyeri, keluar cairan, perdarahan, atau nyeri ketika buang air besar.
Sementara itu, gonore pada tenggorokan sering kali tidak menimbulkan gejala. Jika muncul keluhan, seseorang dapat mengalami sakit tenggorokan atau kemerahan pada tenggorokan. Karena gejalanya bisa tidak terlihat, pemeriksaan menjadi penting pada orang yang memiliki risiko paparan.
Mengapa Gejala Gonore Tidak Boleh Diabaikan?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu sampai gejala hilang sendiri. Padahal, berkurangnya gejala tidak selalu berarti bakteri sudah hilang dari tubuh.
Gonore yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi. Pada wanita, infeksi dapat berkembang menjadi penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID). Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada saluran reproduksi dan meningkatkan risiko infertilitas serta kehamilan ektopik.
Pada pria, infeksi yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi seperti peradangan atau pembengkakan pada area testis dan, pada kasus tertentu, masalah pada sistem reproduksi. Infeksi gonore juga dapat meningkatkan risiko tertular atau menularkan HIV.
Dalam kasus yang jarang, bakteri gonore dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lain, termasuk sendi dan kulit. Karena itu, gonore bukan sekadar masalah keluarnya cairan dari penis atau keputihan.
Tonton juga video Dokter Rio di TikTok: ada gejala kencing nanah? jangan tunda pengobatan!
Bagaimana Gonore Didiagnosis?
Gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan seseorang terkena gonore. Beberapa infeksi menular seksual lain dapat menimbulkan keluhan yang mirip.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan dan mengambil sampel sesuai lokasi yang dicurigai terinfeksi. Pemeriksaan molekuler seperti nucleic acid amplification test (NAAT) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendeteksi N. gonorrhoeae. Sampel dapat berasal dari urine atau swab pada bagian tubuh tertentu, tergantung riwayat paparan dan gejala.
Karena seseorang dapat mengalami lebih dari satu IMS sekaligus, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan untuk infeksi lain seperti klamidia, sifilis, dan HIV.
Apakah Gonore Bisa Disembuhkan?
Ya. Gonore dapat disembuhkan dengan antibiotik yang sesuai. Namun, obat tidak boleh dipilih secara sembarangan atau berdasarkan pengalaman orang lain.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gonore saat ini adalah meningkatnya resistensi antibiotik. Bakteri Neisseria gonorrhoeae telah menunjukkan kemampuan menjadi kebal terhadap berbagai jenis antibiotik yang sebelumnya digunakan untuk mengobatinya. WHO menyebut resistensi antimikroba pada gonore sebagai masalah yang semakin serius karena dapat mempersempit pilihan pengobatan.
Pedoman CDC saat ini merekomendasikan ceftriaxone sebagai terapi utama untuk gonore tanpa komplikasi pada populasi yang dicakup pedoman tersebut. Dosis dan pilihan terapi dapat berbeda berdasarkan kondisi pasien, berat badan, lokasi infeksi, alergi obat, kemungkinan infeksi lain, serta pedoman lokal.
Karena itu, jangan membeli atau menggunakan antibiotik sendiri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan berkontribusi terhadap resistensi bakteri.
Bagaimana Jika Sudah Mendapat Pengobatan?
Setelah mendapatkan diagnosis dan terapi, pasien perlu mengikuti instruksi tenaga kesehatan sampai pengobatan selesai atau sesuai regimen yang diberikan.
CDC menyarankan penderita gonore untuk menghindari aktivitas seksual selama setidaknya tujuh hari setelah pengobatan dan sampai pasangan seksualnya juga telah mendapatkan pengobatan. Hal ini penting untuk mengurangi risiko penularan dan infeksi kembali.
Pasangan seksual juga perlu diberi tahu agar dapat menjalani pemeriksaan dan, bila diperlukan, mendapatkan pengobatan. Jika hanya satu orang yang diobati sementara pasangan masih terinfeksi, gonore dapat kembali terjadi akibat reinfeksi.
Jika keluhan tetap muncul setelah pengobatan, jangan langsung mengulang antibiotik sendiri. Segera kembali ke dokter karena keluhan yang menetap dapat disebabkan oleh reinfeksi, infeksi lain, atau dalam keadaan tertentu kemungkinan resistensi antibiotik.
Jangan Menunggu Gonore Semakin Parah
Jika Anda mengalami keluarnya cairan seperti nanah dari penis, nyeri saat buang air kecil, perdarahan yang tidak biasa, atau keluhan genital setelah melakukan hubungan seksual berisiko, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Semakin cepat gonore diketahui dan ditangani dengan tepat, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi dan menghentikan penularan kepada pasangan.
Yang juga penting, gonore tidak selalu menimbulkan gejala. Jadi, merasa sehat bukan berarti seseorang pasti bebas dari infeksi menular seksual.
Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta diagnosis langsung oleh dokter. Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep atau mengulang pengobatan sendiri.
📢Mengalami Keluhan Berbahaya pada Organ Vital atau Gejala Infeksi Menular Seksual?
Jangan biarkan rasa malu dan takut menghambat Anda untuk sembuh! Jika Anda mengalami gejala seperti keluar nanah saat buang air kecil, luka tanpa rasa sakit pada organ vital, rasa terbakar, atau ruam kulit—bisa jadi itu adalah indikasi infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore (kencing nanah), klamidia, atau sifilis.
Infeksi ini membutuhkan penanganan antibiotik yang tepat dari tenaga medis profesional, bukan pengobatan asal-asalan yang justru bisa memperparah kondisi Anda.
Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.
Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional, cepat, dan rahasia.
👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)
Baca juga: Sudah Terkena Gonore Tapi Tidak Sadar?