Onani Terlalu Sering Bisa Bikin Cepat ‘Keluar’? Ini Penjelasannya!

Kekhawatiran soal apakah sering onani bisa memicu ejakulasi dini? sering dirasakan oleh banyak pria yang merasa kontrol klimaksnya menurun. Masturbasi sebenarnya wajar, tetapi kebiasaan dengan pola rangsangan yang cepat dapat memengaruhi refleks tubuh. Kendati demikian, sering onani tidak bisa disimpulkan sebagai penyebab utama ejakulasi dini secara langsung.
Ejakulasi dini merupakan gangguan seksual yang melibatkan beberapa aspek, termasuk waktu ejakulasi yang terlalu cepat, kesulitan mengendalikan ejakulasi, serta munculnya rasa terganggu atau tertekan akibat kondisi tersebut.
Lantas, apa hubungan antara kebiasaan onani dan ejakulasi dini?
Apa Itu Ejakulasi Dini?
Ejakulasi dini atau premature ejaculation (PE) bukan sekadar ejakulasi yang terjadi dalam waktu singkat.
Menurut definisi International Society for Sexual Medicine (ISSM), ejakulasi dini melibatkan ejakulasi yang terjadi sangat cepat, ketidakmampuan menunda ejakulasi, serta munculnya konsekuensi negatif seperti frustrasi, stres, atau gangguan dalam hubungan seksual. Pada ejakulasi dini yang sudah ada sejak awal kehidupan seksual, ejakulasi biasanya terjadi sebelum atau sekitar satu menit setelah penetrasi. Sementara pada ejakulasi dini yang didapat kemudian, terjadi penurunan waktu ejakulasi yang bermakna dan mengganggu, sering kali hingga sekitar tiga menit atau kurang.
Artinya, tidak semua pria yang cepat ejakulasi dapat langsung dikategorikan mengalami ejakulasi dini.
Durasi hubungan seksual juga bisa berbeda-beda pada setiap orang.
Apakah Terlalu Sering Onani Menyebabkan Ejakulasi Dini?
Jawabannya adalah tidak sesederhana itu.
Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa frekuensi masturbasi tertentu secara langsung menyebabkan ejakulasi dini.
Namun, cara seseorang melakukan masturbasi mungkin berpengaruh terhadap pola respons seksualnya.
Misalnya, seorang pria terbiasa melakukan masturbasi dengan gerakan sangat cepat karena ingin segera mencapai orgasme. Jika pola tersebut dilakukan berulang kali, ia mungkin terbiasa meningkatkan rangsangan dengan cepat tanpa belajar mengenali tanda-tanda menjelang ejakulasi.
Akibatnya, ketika berhubungan seksual dengan pasangan, ia mungkin merasa lebih sulit mengontrol tingkat gairahnya.
Ini lebih tepat dipahami sebagai pola atau kebiasaan seksual, bukan kerusakan akibat masturbasi.
Pedoman European Association of Urology (EAU) juga mencatat bahwa aktivitas masturbasi dapat menjadi bagian dari penilaian terhadap pola seksual seseorang, sementara pendekatan perilaku tertentu dapat digunakan dalam penanganan gangguan ejakulasi.
Onani Cepat Bisa Membentuk Kebiasaan Respons Seksual
Bayangkan seseorang selalu melakukan masturbasi secara terburu-buru.
Ia mungkin terbiasa:
- Mendapatkan rangsangan secepat mungkin.
- Mempertahankan rangsangan tinggi.
- Mengabaikan sensasi ketika mulai mendekati ejakulasi.
- Segera mencapai orgasme sebelum menghentikan stimulasi.
Jika pola ini terus dilakukan, seseorang mungkin kurang terbiasa mengendalikan tingkat gairah seksualnya.
Namun, bukan berarti kebiasaan tersebut pasti menyebabkan ejakulasi dini. Faktor psikologis, hubungan dengan pasangan, fungsi ereksi, kondisi kesehatan, dan pengalaman seksual juga dapat berperan.
Mengapa Pria Bisa Cepat Ejakulasi Saat Berhubungan?
Ada banyak kemungkinan penyebab atau faktor yang berhubungan dengan ejakulasi dini.
1. Kecemasan saat berhubungan seksual
Rasa takut mengecewakan pasangan atau pikiran seperti “jangan sampai cepat keluar” justru dapat membuat seseorang semakin fokus pada ejakulasi.
Kecemasan seksual dapat membuat gairah meningkat terlalu cepat sehingga kontrol ejakulasi menjadi lebih sulit.
EAU merekomendasikan penilaian terhadap kecemasan dan faktor psikoseksual dalam evaluasi pria dengan ejakulasi dini.
2. Kurangnya kontrol terhadap gairah
Sebagian pria tidak terbiasa mengenali kapan gairah seksual sudah mendekati titik ejakulasi.
Akibatnya, stimulasi terus berlanjut sampai ejakulasi terjadi sebelum sempat mengurangi rangsangan.
3. Masalah ereksi
Pria dengan gangguan ereksi juga dapat mengalami masalah ejakulasi.
Seseorang yang takut kehilangan ereksi mungkin berusaha mempercepat aktivitas seksual. Sebaliknya, kecemasan karena sulit mempertahankan ereksi juga dapat memengaruhi respons seksual.
EAU menekankan pentingnya membedakan ejakulasi dini dari disfungsi ereksi karena keduanya dapat muncul bersamaan.
4. Faktor hubungan
Konflik dengan pasangan, kurangnya komunikasi seksual, atau tekanan dalam hubungan dapat memengaruhi pengalaman seksual.
Karena itu, masalah ejakulasi tidak selalu berasal dari organ reproduksi.
5. Faktor biologis dan medis
Ejakulasi merupakan proses kompleks yang melibatkan sistem saraf, hormon, dan berbagai struktur tubuh.
Beberapa kondisi medis, seperti gangguan tiroid tertentu, prostatitis, uretritis, atau masalah seksual lainnya, dapat perlu dipertimbangkan ketika seseorang mengalami ejakulasi dini yang baru muncul.
Bagaimana Jika Selalu Ejakulasi Cepat Saat Onani?
Cepat ejakulasi ketika masturbasi belum otomatis berarti mengalami ejakulasi dini.
Konteks masturbasi berbeda dengan hubungan seksual bersama pasangan. Kecepatan masturbasi dapat dipengaruhi oleh teknik, fantasi seksual, tingkat rangsangan, privasi, dan tujuan seseorang saat masturbasi.
Pedoman EAU bahkan menjelaskan bahwa sebagian pria dapat mengalami masalah ejakulasi dalam aktivitas seksual non-penetratif seperti masturbasi, sehingga penilaian tidak dapat hanya menggunakan ukuran waktu penetrasi.
Karena itu, dokter biasanya akan menanyakan pola ejakulasi, kemampuan mengontrolnya, kapan masalah mulai muncul, serta seberapa besar kondisi tersebut mengganggu kehidupan seksual.
Apakah Harus Berhenti Onani?
Tidak selalu.
Jika masturbasi tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak menyebabkan cedera, dan tidak menjadi perilaku kompulsif, seseorang tidak otomatis harus berhenti hanya karena khawatir mengalami ejakulasi dini.
Yang lebih penting adalah memperhatikan pola masturbasi.
Jika terbiasa melakukannya dengan sangat cepat, seseorang dapat mencoba mengubah pola tersebut dengan memberikan waktu lebih banyak untuk mengenali peningkatan gairah dan mengurangi rangsangan sebelum mencapai titik ejakulasi.
Pendekatan perilaku seperti teknik start-stop juga digunakan dalam penanganan ejakulasi dini. EAU menyebutkan bahwa latihan perilaku yang dikombinasikan dengan edukasi seksual dan pendekatan psikologis tertentu dapat membantu sebagian pria.
Jangan Terjebak Mitos “Harus Menahan Ejakulasi”
Sebagian pria mencoba menahan ejakulasi dengan cara yang ekstrem karena menganggap semakin lama menahan sperma berarti semakin sehat.
Padahal, tujuan penanganan ejakulasi dini bukan sekadar membuat seseorang mampu menahan ejakulasi selama mungkin.
Yang lebih penting adalah kemampuan mengontrol ejakulasi dan mendapatkan pengalaman seksual yang memuaskan tanpa tekanan berlebihan.
Jadi, tidak perlu menjadikan durasi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hubungan seksual.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Sebaiknya berkonsultasi apabila:
- Ejakulasi selalu atau hampir selalu terjadi terlalu cepat.
- Sulit mengontrol ejakulasi meskipun sudah mencoba memperlambat rangsangan.
- Kondisi tersebut membuat frustrasi atau stres.
- Masalah baru muncul setelah sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan.
- Ejakulasi cepat disertai sulit ereksi.
- Terdapat nyeri saat ejakulasi atau buang air kecil.
- Ada keluhan pada penis, testis, atau saluran kemih.
- Masalah tersebut mulai mengganggu hubungan dengan pasangan.
Dokter dapat melakukan wawancara mengenai riwayat seksual dan kesehatan, kemudian menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tidak semua kasus membutuhkan pemeriksaan laboratorium. EAU menyebutkan bahwa pemeriksaan tambahan biasanya diarahkan berdasarkan hasil riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, bukan dilakukan secara rutin pada semua pasien.
Apakah Ejakulasi Dini Bisa Diatasi?
Bisa ditangani.
Penanganan tergantung penyebab dan jenis ejakulasi dini yang dialami.
Dokter dapat mempertimbangkan edukasi seksual, perubahan kebiasaan, teknik perilaku, terapi psikoseksual, obat-obatan tertentu, atau kombinasi beberapa pendekatan.
Untuk ejakulasi dini yang didapat kemudian, penyebab yang mendasarinya perlu ditangani terlebih dahulu. Misalnya, jika terdapat gangguan ereksi, kecemasan seksual, atau masalah pada saluran kemih, kondisi tersebut perlu dievaluasi.
Karena itu, jangan langsung membeli obat kuat atau obat penunda ejakulasi tanpa mengetahui penyebabnya.
Kesimpulan
Terlalu sering onani tidak terbukti secara langsung menyebabkan ejakulasi dini. Namun, kebiasaan masturbasi yang selalu dilakukan dengan sangat cepat dapat membentuk pola respons seksual tertentu dan mungkin membuat kontrol gairah terasa lebih sulit pada sebagian pria.
Ejakulasi dini memiliki banyak faktor, mulai dari kecemasan, masalah hubungan, gangguan ereksi, hingga kondisi medis tertentu. Jika ejakulasi cepat terjadi terus-menerus dan mengganggu kehidupan seksual, konsultasi dengan dokter dapat membantu menemukan penyebab serta pilihan penanganan yang tepat.
📢 Mengalami Masalah Vitalitas atau Keluhan Performa Pria?
Jangan biarkan rasa ragu dan informasi mitos mengganggu kepercayaan diri Anda! Jika Anda mengalami gejala seperti ereksi melemah, ejakulasi dini, atau masalah vitalitas pria lainnya, segera cari penanganan medis yang tepat dan terpercaya.
Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.
Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional tanpa obat-obatan sembarangan.
👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)