Rendahnya Libido Pria: Suami Menolak Berhubungan Intim

Ketika gairah suami mulai menurun ditandai dengan jarangnya mengajak berhubungan intim atau bahkan sering menolak ajakan istri, kondisi ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Istri mungkin bertanya-tanya apakah suami sudah tidak tertarik, sedang mengalami masalah dalam hubungan, atau bahkan memiliki orang lain.
Padahal, menurunnya libido pria tidak selalu berkaitan dengan rasa cinta atau ketertarikan kepada pasangan. Gairah seksual dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi hormon, kesehatan fisik, stres, kualitas tidur, obat-obatan, hingga kondisi psikologis dan hubungan dengan pasangan.
Dalam dunia medis, libido rendah dapat menjadi keluhan tersendiri dan perlu dinilai berdasarkan riwayat seksual, kondisi kesehatan, serta faktor psikologis dan hubungan.
Apa Itu Libido Rendah pada Pria?
Libido adalah dorongan atau keinginan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual.
Pria dengan libido rendah mungkin merasa jarang memiliki keinginan untuk berhubungan intim, tidak tertarik memulai hubungan seksual, atau lebih sering menolak ketika pasangan mengajak berhubungan.
Namun, tidak ada angka pasti mengenai seberapa sering seorang pria harus berhubungan seksual. Setiap pasangan mempunyai pola yang berbeda.
Yang menjadi perhatian adalah ketika terjadi perubahan yang cukup jelas dari kebiasaan sebelumnya dan kondisi tersebut membuat pria atau pasangannya merasa terganggu.
Pedoman European Association of Urology (EAU) menyebutkan bahwa rendahnya hasrat seksual pada pria dapat terjadi pada berbagai usia. Faktor usia memang berhubungan dengan libido, tetapi pria yang lebih muda juga dapat mengalaminya.
1. Kadar Testosteron Rendah
Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan libido pria adalah testosteron.
Testosteron berperan dalam fungsi seksual pria, termasuk dorongan seksual. Ketika kadar testosteron benar-benar rendah dan disertai gejala yang sesuai, libido dapat menurun.
Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa libido rendah pasti berarti testosteron rendah. Keinginan seksual tidak hanya ditentukan oleh satu hormon.
Pedoman EAU merekomendasikan pemeriksaan testosteron pada pria yang memiliki gejala yang mengarah pada kekurangan testosteron. Pemeriksaan testosteron total umumnya dilakukan pada pagi hari dan dalam kondisi tertentu perlu diulang untuk memastikan hasilnya.
Karena itu, mengonsumsi produk peningkat testosteron tanpa pemeriksaan bukan langkah yang tepat.
2. Stres dan Beban Pikiran
Pekerjaan yang menumpuk, masalah keuangan, konflik keluarga, atau kekhawatiran mengenai masa depan dapat membuat pikiran terus bekerja.
Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, perhatian terhadap aktivitas seksual dapat berkurang. Pria mungkin sebenarnya masih menyayangi pasangannya, tetapi pikirannya sedang dipenuhi masalah lain.
Pedoman EAU memasukkan kecemasan, masalah keuangan, kekhawatiran mengenai hubungan, dan stres psikologis sebagai faktor yang dapat berkaitan dengan rendahnya hasrat seksual pria.
Dalam kondisi seperti ini, memaksa pasangan untuk berhubungan intim justru dapat menambah tekanan.
3. Depresi dan Masalah Psikologis
Depresi bukan hanya membuat seseorang merasa sedih. Kondisi ini dapat memengaruhi energi, motivasi, konsentrasi, dan ketertarikan terhadap berbagai aktivitas, termasuk seks.
Pria yang mengalami depresi mungkin kehilangan minat terhadap hubungan seksual meskipun sebelumnya memiliki libido yang baik.
Masalah psikologis lain seperti kecemasan berlebihan atau tekanan emosional juga dapat memengaruhi gairah seksual.
Karena itu, jika penurunan libido disertai perubahan suasana hati, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, kelelahan berkepanjangan, atau gangguan tidur, evaluasi kondisi psikologis dapat menjadi bagian penting dari pemeriksaan.
4. Obat-obatan Tertentu
Beberapa obat dapat memengaruhi fungsi seksual.
Salah satu contohnya adalah obat yang digunakan untuk menangani depresi. Pada sebagian pria, obat antidepresan dapat menyebabkan efek samping seksual, termasuk perubahan libido.
Selain itu, kondisi medis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang juga dapat secara tidak langsung memengaruhi kehidupan seksual.
Karena itu, apabila penurunan libido mulai terjadi setelah memulai obat tertentu, jangan langsung menghentikan obat sendiri. Sampaikan keluhan tersebut kepada dokter agar dapat dinilai apakah obat, dosis, penyakit yang mendasari, atau faktor lain berperan. EAU merekomendasikan evaluasi terapi kronis yang berpotensi berdampak negatif terhadap hasrat seksual.
Tonton juga video Dokter Rio di TikTok: suami sering nolak pas diajak 'main'. ada main di belakang?
5. Masalah Ereksi Juga Bisa Menurunkan Libido
Kadang-kadang masalah sebenarnya bukan libido, tetapi pria mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi.
Pria yang beberapa kali gagal ereksi ketika berhubungan seksual dapat mulai merasa takut mengalami kegagalan lagi. Akibatnya, ia mungkin memilih menghindari hubungan intim.
Dari luar, kondisi tersebut bisa terlihat seperti “suami tidak mau berhubungan”, padahal sebenarnya ia khawatir tidak mampu mempertahankan ereksi.
Pedoman EAU menekankan pentingnya mengevaluasi beberapa aspek fungsi seksual secara bersamaan, termasuk libido, ereksi, ejakulasi, orgasme, dan kepuasan seksual.
6. Masalah dalam Hubungan
Hubungan pasangan juga dapat memengaruhi gairah seksual.
Konflik yang belum terselesaikan, komunikasi yang buruk, rasa kecewa, atau tekanan dalam hubungan dapat membuat keinginan seksual menurun.
Ini bukan berarti salah satu pasangan harus disalahkan. Hasrat seksual dalam hubungan memang dapat berubah dari waktu ke waktu.
EAU bahkan menekankan pentingnya melihat perbedaan tingkat keinginan seksual antar pasangan, bukan sekadar menganggap salah satu pasangan sebagai pihak yang “bermasalah”.
Karena itu, komunikasi yang terbuka sering menjadi bagian penting dari penanganan.
7. Penyakit Kronis dan Kondisi Kesehatan
Kesehatan tubuh secara keseluruhan juga dapat memengaruhi libido.
Beberapa kondisi yang berkaitan dengan libido rendah antara lain diabetes, penyakit jantung, gangguan hormonal, penyakit ginjal, gangguan tiroid, serta kondisi kronis lainnya.
Prostatitis atau nyeri panggul kronis juga dapat mengganggu kehidupan seksual.
Jika seorang pria mengalami beberapa keluhan kesehatan sekaligus, pemeriksaan sebaiknya tidak hanya berfokus pada libido. Dokter perlu mencari kemungkinan kondisi yang mendasarinya.
Bagaimana Cara Mengatasi Libido Rendah?
Penanganan libido rendah tidak bisa disamakan untuk semua pria. Solusinya tergantung penyebabnya.
Langkah pertama adalah mencari tahu apa yang berubah.
Dokter biasanya akan menanyakan riwayat kesehatan, obat-obatan yang digunakan, kondisi seksual, suasana hati, hubungan dengan pasangan, serta keluhan lain yang menyertai.
Jika dicurigai terdapat gangguan hormonal, pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan. EAU merekomendasikan pemeriksaan untuk menyingkirkan gangguan endokrin pada pria dengan libido rendah.
Jika ditemukan kekurangan testosteron yang memang memenuhi kriteria medis, terapi dapat dipertimbangkan oleh dokter. Terapi testosteron bukan untuk semua pria yang merasa libidonya menurun dan tidak dianjurkan digunakan sembarangan pada pria dengan kadar testosteron normal.
Jika penyebabnya lebih berkaitan dengan stres, kecemasan, depresi, atau masalah hubungan, pendekatan psikologis atau konseling dapat menjadi bagian dari penanganan.
Apa yang Bisa Dilakukan Istri?
Ketika suami menolak hubungan intim, hindari langsung menyimpulkan bahwa dirinya sudah tidak mencintai atau tertarik lagi.
Cobalah membicarakannya pada waktu yang tenang, bukan ketika sedang mengajak berhubungan seksual.
Pertanyaan sederhana seperti “Apakah akhir-akhir ini ada sesuatu yang membuat kamu stres atau tidak nyaman?” dapat membuka percakapan lebih baik daripada memberikan tekanan.
Jika masalah berlangsung lama, ajak suami untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan bukan berarti suami “sakit”, tetapi membantu mengetahui apakah terdapat faktor kesehatan yang dapat diperbaiki.
Pasangan juga dapat membangun kembali kedekatan melalui komunikasi, sentuhan nonseksual, waktu bersama, dan mengurangi tekanan bahwa setiap kedekatan harus berakhir dengan hubungan seksual.
Kapan Suami Perlu Periksa?
Sebaiknya konsultasi dengan dokter apabila libido turun secara menetap dan mengganggu kehidupan pribadi atau hubungan dengan pasangan.
Pemeriksaan semakin penting jika libido rendah disertai:
- Sulit atau tidak mampu mempertahankan ereksi
- Ereksi pagi semakin jarang
- Mudah lelah
- Penurunan energi
- Perubahan suasana hati
- Gangguan tidur
- Penurunan massa atau kekuatan otot
- Nyeri ketika berhubungan atau ejakulasi
- Keluhan buang air kecil
- Penggunaan obat tertentu yang baru dimulai
Keluhan-keluhan tersebut dapat membantu dokter menentukan pemeriksaan yang diperlukan, termasuk evaluasi hormonal bila memang ada indikasinya.
Kesimpulan
Suami yang sering menolak berhubungan intim belum tentu sudah tidak tertarik kepada istrinya. Libido pria dapat menurun karena banyak faktor, seperti testosteron rendah, stres, depresi, obat-obatan, masalah ereksi, penyakit kronis, hingga konflik dalam hubungan.
Daripada langsung menyalahkan pasangan atau membeli obat peningkat gairah secara sembarangan, lebih baik cari tahu penyebabnya. Dengan pemeriksaan yang tepat, penyebab libido rendah dapat dievaluasi dan penanganannya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing pria.
📢 Mengalami Masalah Vitalitas atau Keluhan Performa Pria?
Jangan biarkan rasa ragu dan informasi mitos mengganggu kepercayaan diri Anda! Jika Anda mengalami gejala seperti ereksi melemah, ejakulasi dini, atau masalah vitalitas pria lainnya, segera cari penanganan medis yang tepat dan terpercaya.
Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.
Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional tanpa obat-obatan sembarangan.
👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)
Baca juga: Lemah Syahwat Bukan Cuma Masalah Lansia!