KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Penyebab Volume Sperma Berkurang Seiring Waktu

Mengenal Hipospermia: Faktor yang Memengaruhi Volume Sperma Berkurang

Ilustrasi hipospermia penyebab volume sperma berkurang seiring waktu

Volume sperma yang keluar saat ejakulasi sering menjadi perhatian pria, terutama ketika jumlahnya terlihat semakin sedikit dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini tidak selalu menandakan adanya penyakit serius. Namun, jika perubahan volume sperma berkurang secara terus-menerus, kondisi tersebut perlu dicari penyebab berkurangnya karena bisa berkaitan dengan frekuensi ejakulasi, perubahan hormon, hingga gangguan pada sistem reproduksi. 

Dalam dunia medis, volume air mani yang lebih sedikit dari batas normal disebut hipospermia. Kondisi ini berbeda dengan jumlah sperma yang sedikit, sebab volume air mani dan konsentrasi sel sperma merupakan dua hal yang berbeda. Lantas, apa penyebab hipospermia, apakah kondisi ini memengaruhi kesuburan, dan kapan pria perlu memeriksakan diri ke dokter?

1. Apa Itu Hipospermia?

Hipospermia adalah kondisi ketika volume air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi lebih rendah daripada nilai acuan pemeriksaan laboratorium. Air mani atau semen merupakan cairan yang membawa sel sperma dan sebagian besar tersusun dari cairan yang diproduksi oleh vesikula seminalis serta kelenjar prostat.

Menurut pedoman laboratorium Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) edisi keenam tahun 2021, batas bawah nilai referensi volume semen adalah sekitar 1,4 mL. Angka tersebut merupakan persentil kelima pada kelompok pria yang pasangannya berhasil mengalami kehamilan, bukan batas mutlak yang menentukan seorang pria subur atau tidak subur.

Artinya, volume di bawah angka tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami infertilitas. Sebaliknya, volume semen yang normal juga tidak menjamin kualitas sperma baik.

Hipospermia perlu dibedakan dari oligozoospermia, yaitu kondisi ketika konsentrasi sel sperma lebih rendah daripada nilai referensi. Seorang pria dapat memiliki volume air mani sedikit dengan konsentrasi sperma yang masih baik, atau volume normal tetapi jumlah sel spermanya rendah.

2. Mengapa Volume Sperma Bisa Berkurang Seiring Waktu?

Volume air mani dapat berubah dari satu ejakulasi ke ejakulasi berikutnya. Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan jumlah cairan yang keluar terlihat lebih sedikit.

Frekuensi ejakulasi yang terlalu sering

Salah satu penyebab paling umum adalah jarak ejakulasi yang terlalu dekat. Jika seorang pria sering melakukan hubungan seksual atau masturbasi dalam waktu berdekatan, tubuh mungkin belum memiliki cukup waktu untuk mengisi kembali cairan semen.

Akibatnya, volume ejakulasi berikutnya dapat terlihat lebih sedikit. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan tidak selalu menunjukkan gangguan kesehatan.

Faktor usia dan perubahan hormon

Seiring bertambahnya usia, fungsi sistem reproduksi pria dapat mengalami perubahan. Produksi cairan dari kelenjar reproduksi bisa berubah, sementara gangguan hormon tertentu juga dapat memengaruhi proses pembentukan sperma dan fungsi seksual.

Meski demikian, volume semen yang menurun tidak boleh langsung dianggap sebagai proses penuaan normal. Jika perubahannya menetap, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.

Gangguan pada prostat dan vesikula seminalis

Sebagian besar cairan semen dihasilkan oleh vesikula seminalis dan prostat. Peradangan, gangguan fungsi, atau kelainan pada organ-organ tersebut dapat memengaruhi volume air mani.

Pada kondisi tertentu, saluran ejakulasi juga dapat mengalami penyumbatan sehingga cairan semen yang keluar menjadi lebih sedikit. Keluhan lain, seperti nyeri saat ejakulasi, darah dalam semen, atau gangguan berkemih, perlu menjadi perhatian.

Ejakulasi retrograd

Ejakulasi retrograd terjadi ketika sebagian atau seluruh air mani masuk ke kandung kemih, bukan keluar melalui penis. Akibatnya, cairan yang terlihat saat ejakulasi menjadi sangat sedikit atau bahkan tidak keluar sama sekali.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan diabetes yang menyebabkan gangguan saraf, tindakan operasi tertentu, atau penggunaan obat-obatan tertentu. Salah satu petunjuknya adalah urine yang tampak keruh setelah ejakulasi, meskipun tanda ini tidak selalu muncul.

Gangguan hormon

Hormon testosteron dan hormon reproduksi lain berperan dalam fungsi sistem reproduksi pria. Gangguan hormon tertentu dapat memengaruhi produksi sperma dan fungsi kelenjar reproduksi.

Namun, kadar testosteron rendah tidak selalu menjadi penyebab langsung volume semen berkurang. Dokter perlu menilai gejala lain dan melakukan pemeriksaan yang sesuai sebelum menyimpulkan adanya gangguan hormon.

Dehidrasi dan kondisi tubuh

Kekurangan cairan dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan. Akan tetapi, volume semen tidak hanya ditentukan oleh banyaknya air yang diminum, sehingga dehidrasi tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama setiap kasus hipospermia.

Menjaga asupan cairan, pola makan seimbang, tidur cukup, dan kesehatan secara umum tetap penting, tetapi kebiasaan tersebut tidak dapat mengatasi semua penyebab volume semen yang rendah.

3. Apakah Hipospermia Bisa Menyebabkan Infertilitas?

Hipospermia dapat berkaitan dengan masalah kesuburan, tetapi tidak selalu menyebabkan infertilitas. Hal ini bergantung pada penyebabnya serta kualitas sperma yang terkandung dalam air mani.

Volume semen yang rendah dapat mengurangi jumlah total sperma yang dikeluarkan dalam satu kali ejakulasi. Jika kondisi tersebut disebabkan oleh sumbatan saluran ejakulasi atau gangguan fungsi reproduksi, kesuburan pria juga mungkin terdampak.

Namun, volume semen saja tidak cukup untuk menilai kemampuan seorang pria dalam membuahi sel telur. Pemeriksaan analisis sperma diperlukan untuk menilai beberapa parameter, seperti volume, konsentrasi, jumlah total, pergerakan, dan bentuk sperma.

Karena itu, pria yang sedang merencanakan kehamilan sebaiknya tidak langsung menyimpulkan dirinya mandul hanya karena volume air mani terlihat sedikit.

4. Bagaimana Cara Mendiagnosis Hipospermia?

Diagnosis hipospermia dilakukan melalui evaluasi medis, bukan hanya berdasarkan pengamatan visual. Dokter biasanya akan menanyakan riwayat kesehatan, frekuensi ejakulasi, obat-obatan yang digunakan, serta keluhan lain yang menyertai.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Analisis sperma: mengukur volume semen sekaligus menilai konsentrasi, pergerakan, dan karakteristik sperma lainnya.

  • Pemeriksaan hormon: dapat mencakup testosteron, FSH, dan LH apabila dicurigai terdapat gangguan hormon.

  • Pemeriksaan urine setelah ejakulasi: dapat dipertimbangkan jika dokter mencurigai ejakulasi retrograd.

  • Pemeriksaan pencitraan: seperti ultrasonografi transrektal, apabila ditemukan indikasi adanya sumbatan saluran ejakulasi.

Pemeriksaan analisis sperma sebaiknya mengikuti petunjuk laboratorium mengenai masa pantang ejakulasi dan cara mengumpulkan sampel. Sampel yang tidak tertampung seluruhnya dapat menghasilkan volume yang tampak lebih rendah dari keadaan sebenarnya.

Jika hasil pertama menunjukkan volume rendah, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ulang untuk memastikan bahwa temuan tersebut konsisten.

Tonton juga video Dokter Rio di TikTok:

pasangan kateter bikin sp*rma berkurang? dokter Rio: jangan salah paham!

5. Apakah Hipospermia Bisa Diatasi?

Penanganan hipospermia bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua pria.

Jika volume semen berkurang karena ejakulasi yang terlalu berdekatan, memberi jeda sebelum ejakulasi berikutnya dapat membantu volume kembali meningkat. Jika masalahnya berasal dari gangguan hormon, dokter akan menentukan pemeriksaan dan terapi yang sesuai.

Sementara itu, gangguan akibat sumbatan saluran ejakulasi mungkin memerlukan evaluasi urologi dan tindakan khusus. Ejakulasi retrograd juga membutuhkan penanganan berdasarkan penyebabnya, termasuk peninjauan obat-obatan yang digunakan.

Penting untuk tidak mengonsumsi suplemen penambah sperma atau obat hormon tanpa konsultasi medis. Produk yang mengklaim dapat memperbanyak air mani belum tentu terbukti efektif, dan penggunaan testosteron dari luar justru dapat menekan produksi sperma serta mengganggu kesuburan.

Menjaga berat badan, tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi alkohol, serta menghindari rokok dapat mendukung kesehatan reproduksi secara umum. Namun, langkah-langkah tersebut bukan pengganti pengobatan jika terdapat gangguan anatomis atau medis.

6. Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Pria sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika volume air mani terus berkurang tanpa penyebab yang jelas, terutama jika perubahan tersebut berlangsung selama beberapa minggu atau berulang pada banyak ejakulasi.

Pemeriksaan juga dianjurkan jika air mani hampir tidak keluar, terdapat nyeri saat ejakulasi, darah dalam semen, gangguan berkemih, atau kesulitan memperoleh keturunan.

Jika sedang menjalani program kehamilan dan belum berhasil setelah 12 bulan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi, evaluasi kesuburan kedua pasangan dianjurkan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal apabila terdapat faktor risiko atau keluhan reproduksi yang diketahui.

Jangan menunda konsultasi jika muncul nyeri hebat atau demam yang disertai keluhan pada saluran kemih maupun organ reproduksi.

Kesimpulan

Hipospermia adalah kondisi ketika volume air mani lebih rendah daripada nilai referensi laboratorium. Penyebabnya beragam, mulai dari frekuensi ejakulasi, masalah pengumpulan sampel, hingga gangguan hormon, ejakulasi retrograd, dan sumbatan saluran ejakulasi.

Volume semen yang sedikit tidak otomatis berarti pria mengalami infertilitas. Untuk mengetahui penyebabnya, diperlukan evaluasi medis dan, bila diindikasikan, pemeriksaan analisis sperma.

Jika volume sperma terus berkurang seiring waktu, jangan hanya mengandalkan pengamatan sendiri. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu menemukan penyebabnya lebih awal dan menentukan langkah penanganan sesuai kondisi masing-masing.

📢 Mengalami Masalah Vitalitas atau Keluhan Performa Pria?

Jangan biarkan rasa ragu dan informasi mitos mengganggu kepercayaan diri Anda! Jika Anda mengalami gejala seperti ereksi melemah, ejakulasi dini, atau masalah vitalitas pria lainnya, segera cari penanganan medis yang tepat dan terpercaya.

Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.

Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional tanpa obat-obatan sembarangan.

👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)

Baca juga: Makanan ini Bisa Menurunkan Kualitas Sperma!