KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Bebas Gejala Belum Tentu Bebas Infeksi!

Silent IMS: Tanpa Gejala, Tapi Tetap BISA Menular

Ilustrasi bebas gejala bukan berarti bebas infeksi sifilis

Merasa sehat saja tidak mengalami keluhan atau gejala pada organ intim bukan berarti seseorang pasti bebas dari infeksi menular seksual (IMS). IMS tanpa gejala justru menjadi salah satu alasan mengapa infeksi dapat tidak disadari selama berbulan-bulan bahkan lebih lama. Seseorang mungkin tidak merasakan nyeri, tidak mengalami keluar cairan, dan tidak melihat adanya luka, tetapi infeksi tetap dapat terjadi dan berpotensi menular kepada pasangan.

Kondisi ini sering membuat seseorang merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan. Padahal, beberapa IMS seperti klamidia, gonore, dan sifilis dapat ditemukan pada orang yang tidak memiliki gejala. Karena itu, status kesehatan seksual tidak sebaiknya hanya dinilai berdasarkan ada atau tidaknya keluhan.

Apa yang Dimaksud IMS Tanpa Gejala?

IMS tanpa gejala atau infeksi asimtomatik adalah kondisi ketika seseorang terinfeksi tetapi tidak merasakan tanda-tanda penyakit yang jelas.

Misalnya, seseorang dapat mengalami infeksi klamidia tetapi tidak merasakan perih saat buang air kecil atau tidak mengalami perubahan cairan dari alat kelamin. Begitu pula dengan gonore yang pada sebagian orang dapat berlangsung tanpa keluhan yang khas.

Sebuah systematic review & meta-analysis tahun 2024 yang mencakup 48 penelitian pada perempuan di negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan bahwa lebih dari separuh infeksi klamidia, gonore, dan trikomoniasis dalam studi tersebut tidak menimbulkan gejala.

Artinya, tidak adanya gejala bukan alat yang cukup untuk memastikan seseorang bebas IMS.

Mengapa IMS Bisa Tidak Menimbulkan Gejala?

Tubuh setiap orang dapat memberikan respons yang berbeda terhadap infeksi.

Pada sebagian orang, peradangan yang terjadi mungkin cukup ringan sehingga tidak terasa. Lokasi infeksi juga dapat memengaruhi gejala. Infeksi pada tenggorokan, misalnya, dapat tidak menimbulkan keluhan yang jelas.

Selain itu, beberapa IMS memang dikenal sering menyebabkan infeksi yang tidak bergejala. CDC menyebutkan bahwa infeksi klamidia dapat bersifat asimtomatik pada pria maupun wanita.

Inilah yang membuat seseorang dapat merasa sehat tetapi tetap membawa infeksi.

1. Klamidia Bisa Diam-Diam Menginfeksi

Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Pada pria, sebagian kasus dapat tidak menimbulkan keluhan. Jika muncul gejala, keluhannya dapat berupa rasa perih saat buang air kecil atau keluarnya cairan dari penis.

Pada wanita, infeksi juga dapat berlangsung tanpa gejala. Bila tidak ditangani, infeksi klamidia dapat berkaitan dengan komplikasi pada saluran reproduksi, termasuk penyakit radang panggul (PID), kehamilan ektopik, dan gangguan kesuburan.

Karena itu, merasa tidak sakit bukan berarti infeksi tidak penting.

2. Gonore Juga Bisa Tanpa Keluhan

Gonore disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Banyak orang mengenalnya sebagai penyakit yang menyebabkan “kencing nanah”.

Padahal, tidak semua orang dengan gonore mengalami keluar nanah.

Infeksi dapat terjadi pada uretra, leher rahim, rektum, atau tenggorokan. Gejala juga dapat berbeda-beda berdasarkan lokasi infeksi. Pada beberapa orang, terutama pada lokasi tertentu, infeksi dapat tidak menimbulkan keluhan yang jelas.

Inilah sebabnya pemeriksaan dapat menjadi penting pada orang dengan faktor risiko atau riwayat paparan tertentu. Pedoman CDC merekomendasikan pemeriksaan gonore pada kelompok tertentu berdasarkan usia, jenis kelamin, perilaku seksual, lokasi paparan, dan faktor risiko.

3. Sifilis Bisa Masuk ke Fase Tanpa Gejala

Sifilis memiliki karakteristik yang sedikit berbeda.

Pada tahap awal, dapat muncul luka yang sering kali tidak terasa sakit. Karena tidak nyeri, seseorang mungkin tidak menyadarinya atau menganggapnya sebagai luka biasa.

Setelah itu, gejala dapat menghilang meskipun infeksi belum tentu selesai. Sifilis kemudian dapat memasuki fase laten, ketika seseorang tidak memiliki gejala yang jelas.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya menyimpulkan bahwa sifilis sudah hilang hanya karena luka atau ruam telah menghilang.

Tonton juga video Dokter Rio di TikTok:
nggak ada gejala bukan berarti bebas dari IMS! 

IMS Tanpa Gejala Tetap Bisa Menular

Salah satu masalah utama dari IMS asimtomatik adalah seseorang mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya terinfeksi.

Akibatnya, aktivitas seksual dapat berlangsung tanpa langkah pencegahan yang memadai. Infeksi kemudian dapat berpindah kepada pasangan meskipun orang yang terinfeksi merasa sehat.

Inilah alasan pemeriksaan dan komunikasi mengenai kesehatan seksual menjadi penting, terutama jika terdapat faktor risiko atau pasangan memiliki diagnosis IMS.

CDC juga menjelaskan bahwa IMS sering tidak menimbulkan gejala, tetapi tetap dapat menyebabkan masalah kesehatan dan menyebar kepada orang lain.

Apakah Semua Orang Harus Tes IMS?

Tidak selalu semua orang membutuhkan semua jenis pemeriksaan IMS pada waktu yang sama.

Jenis pemeriksaan dan frekuensinya bergantung pada beberapa hal, seperti usia, riwayat seksual, jenis paparan, jumlah atau status pasangan, kehamilan, kondisi kesehatan tertentu, serta apakah seseorang pernah didiagnosis IMS sebelumnya.

Misalnya, rekomendasi skrining klamidia dan gonore pada perempuan berbeda dengan rekomendasi pada pria heteroseksual yang memiliki risiko rendah. Sementara itu, kelompok tertentu mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih rutin untuk klamidia, gonore, dan sifilis.

Karena itu, pemeriksaan sebaiknya dilakukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan, bukan sekadar melakukan sebanyak mungkin tes.

Bagaimana IMS Tanpa Gejala Dideteksi?

Pemeriksaan IMS dapat menggunakan berbagai metode tergantung penyakit yang dicurigai.

Untuk klamidia dan gonore, dokter dapat menggunakan NAAT (nucleic acid amplification test) dari urine atau sampel dari lokasi yang sesuai dengan riwayat paparan.

Penelitian sistematis menunjukkan bahwa NAAT memiliki akurasi yang tinggi untuk mendeteksi klamidia dan gonore pada berbagai jenis sampel.

Sementara itu, sifilis umumnya dievaluasi menggunakan pemeriksaan darah dengan kombinasi tes serologis tertentu. Interpretasinya perlu mempertimbangkan riwayat infeksi dan pengobatan sebelumnya.

Jadi, tidak ada satu jenis “tes IMS lengkap” yang otomatis cocok untuk semua orang.

Kapan Sebaiknya Mempertimbangkan Pemeriksaan?

Pemeriksaan dapat dipertimbangkan apabila seseorang:

  • memiliki pasangan seksual baru;
  • memiliki pasangan yang didiagnosis IMS;
  • melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang status IMS-nya tidak diketahui;
  • memiliki lebih dari satu pasangan seksual;
  • pernah mengalami IMS sebelumnya;
  • mengalami gejala yang mencurigakan;
  • sedang hamil atau merencanakan kehamilan;
  • atau termasuk kelompok yang direkomendasikan untuk skrining secara berkala.

Jika pasangan didiagnosis IMS, jangan menunggu muncul gejala terlebih dahulu. Diskusikan dengan dokter apakah perlu pemeriksaan dan jenis tes apa yang sesuai.

Jangan Menunggu Sampai Muncul Gejala

Kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu sampai muncul rasa sakit, nanah, luka, atau keluhan lain sebelum mencari pertolongan.

Padahal, beberapa IMS justru dapat berjalan tanpa gejala.

Namun, bukan berarti setiap orang yang merasa sehat harus panik atau melakukan seluruh pemeriksaan IMS setiap saat. Yang lebih penting adalah menilai risiko secara tepat dan melakukan pemeriksaan yang memang sesuai.

Pendekatan ini membantu menemukan infeksi lebih awal sekaligus menghindari pemeriksaan atau penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan.

Bagaimana Mencegah IMS Tanpa Gejala?

Pencegahan tetap menjadi bagian penting dari kesehatan seksual.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Gunakan kondom secara konsisten dan benar. Kondom dapat menurunkan risiko berbagai IMS, meskipun tidak memberikan perlindungan mutlak terhadap semua infeksi.

Lakukan pemeriksaan bila memiliki faktor risiko. Jangan hanya mengandalkan ada atau tidaknya gejala.

Komunikasikan status kesehatan seksual dengan pasangan. Pembicaraan mengenai pemeriksaan IMS bukan berarti menuduh atau mencurigai pasangan.

Segera periksa jika pasangan didiagnosis IMS. Beberapa infeksi membutuhkan evaluasi dan pengobatan pada pasangan seksual untuk mencegah penularan berulang.

Jangan mengonsumsi antibiotik sendiri. Antibiotik tidak boleh digunakan hanya karena khawatir terkena IMS tanpa diagnosis yang tepat.

Kesimpulan

Bebas gejala belum tentu bebas infeksi. Beberapa IMS seperti klamidia dan gonore dapat berlangsung tanpa keluhan, sementara sifilis juga dapat memasuki fase laten tanpa tanda yang jelas.

Karena itu, kesehatan seksual tidak cukup dinilai dari perasaan “saya baik-baik saja”. Bila terdapat faktor risiko, pasangan memiliki IMS, atau terdapat riwayat paparan yang mengkhawatirkan, pemeriksaan dapat membantu mengetahui kondisi sebenarnya.

Yang terpenting, jangan panik dan jangan pula mengabaikan risiko. Kenali faktor risiko, lakukan pemeriksaan yang sesuai, dan konsultasikan hasilnya dengan tenaga kesehatan. Dengan begitu, IMS dapat ditemukan dan ditangani lebih dini sebelum menimbulkan komplikasi atau menular kepada pasangan.

📢 Mengalami Keluhan Berbahaya pada Organ Vital atau Gejala Infeksi Menular Seksual?

Jangan biarkan rasa malu dan takut menghambat Anda untuk sembuh! Jika Anda mengalami gejala seperti keluar nanah saat buang air kecil, luka tanpa rasa sakit pada organ vital, rasa terbakar, atau ruam kulit—bisa jadi itu adalah indikasi infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore (kencing nanah), klamidia, atau sifilis.

Infeksi ini membutuhkan penanganan antibiotik yang tepat dari tenaga medis profesional, bukan pengobatan asal-asalan yang justru bisa memperparah kondisi Anda.

Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.

Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional, cepat, dan rahasia.

👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)

Baca juga: Sering Dianggap Luka Biasa, Ternyata ini Sifilis!