Cara Gunakan Kondom yang Benar Agar Terhindar dari IMS

Kebanyakan orang masih bingung atau kurang mengerti bagaimana cara menggunakan kondom dengan baik dan benar. Kondom merupakan salah satu metode penting untuk membantu mencegah infeksi menular seksual atau IMS. Selain membantu mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, kondom dapat mengurangi risiko penularan HIV, gonore, klamidia, dan berbagai IMS lainnya. Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada cara menggunakan kondom yang benar dan konsisten setiap kali berhubungan seksual.
Kesalahan sederhana seperti terlambat memakai kondom, menggunakan kondom yang sudah kedaluwarsa, memakai dua kondom sekaligus, atau menggunakan pelumas berbahan minyak pada kondom lateks dapat meningkatkan risiko kondom rusak atau terlepas.
Karena itu, mengetahui cara menggunakan kondom dengan benar merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan seksual.
Mengapa Kondom Penting untuk Mencegah IMS?
Infeksi menular seksual dapat menyebar melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral. Beberapa IMS juga dapat menyebar melalui kontak langsung kulit genital dengan kulit pasangan. Banyak IMS bahkan tidak menimbulkan tanda atau gejala sehingga seseorang dapat mengalami infeksi tanpa menyadarinya.
WHO menyatakan bahwa kondom yang digunakan dengan benar dan konsisten merupakan salah satu metode paling efektif untuk mencegah sebagian besar IMS, termasuk HIV.
Kondom bekerja sebagai penghalang yang mengurangi kontak langsung dengan cairan tubuh, mukosa, dan permukaan tubuh yang dapat menjadi jalur penularan infeksi.
Namun, kondom tidak membuat risiko menjadi nol. Perlindungan lebih tinggi terhadap infeksi yang terutama menyebar melalui cairan tubuh, seperti HIV, gonore, dan klamidia. Perlindungan terhadap herpes genital, HPV, atau sifilis dapat lebih terbatas karena infeksi tersebut juga dapat menyebar melalui kulit atau luka yang berada di luar area yang tertutup kondom.
1. Periksa Kemasan dan Tanggal Kedaluwarsa
Sebelum menggunakan kondom, periksa terlebih dahulu kondisi kemasannya.
Jangan menggunakan kondom jika kemasan terlihat sobek, bocor, atau rusak. Periksa juga tanggal kedaluwarsa yang tertera pada kemasan. CDC merekomendasikan untuk mengecek tanggal kedaluwarsa atau tanggal produksi sebelum menggunakan kondom.
Kondom yang telah melewati masa penggunaan atau mengalami kerusakan akibat penyimpanan mempunyai risiko lebih tinggi untuk tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Kondom juga sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk dan kering. Menyimpan kondom dalam dompet dalam waktu lama tidak dianjurkan karena panas dan gesekan dapat merusaknya.
2. Buka Bungkus dengan Hati-hati
Jangan menggunakan gigi, gunting, pisau, atau benda tajam lainnya untuk membuka bungkus kondom.
Benda tajam dapat menyebabkan lubang kecil yang mungkin tidak terlihat dengan mata. Kuku yang tajam juga dapat merusak kondom jika digunakan secara kasar.
CDC menyarankan kondom dibuka dengan hati-hati dan ditangani sedemikian rupa agar tidak rusak oleh kuku, gigi, atau benda tajam.
3. Kondom Dipasang Sebelum Terjadi Kontak Seksual
Kesalahan yang cukup sering dilakukan adalah baru menggunakan kondom ketika hubungan seksual sudah berlangsung.
Padahal, kondom sebaiknya dipasang sebelum terjadi kontak genital, oral, atau anal dengan pasangan. Penis juga sebaiknya sudah dalam keadaan ereksi ketika kondom dipasang.
Hal ini penting karena IMS tidak hanya dapat ditularkan saat ejakulasi.
Cairan tubuh maupun kontak kulit dan mukosa dapat memungkinkan penularan beberapa infeksi. Karena itu, memakai kondom hanya menjelang ejakulasi bukan cara perlindungan yang optimal.
4. Pastikan Posisi Kondom Tidak Terbalik
Setelah kemasan dibuka, letakkan kondom pada ujung penis yang sudah ereksi.
Bagian gulungan harus berada di sisi luar sehingga kondom dapat digulung ke bawah dengan mudah.
Jika seorang pria tidak disunat, CDC menyarankan menarik kulup ke belakang sebelum memasang kondom.
Jika kondom sudah ditempelkan ke penis tetapi ternyata terbalik dan telah menyentuh ujung penis, sebaiknya gunakan kondom baru daripada membalik dan menggunakannya kembali.
5. Tekan Udara dari Ujung Kondom
Sebelum kondom digulung ke bawah, tekan atau cubit perlahan bagian ujung kondom untuk mengeluarkan udara.
CDC secara khusus memasukkan langkah mengeluarkan udara dari ujung kondom dalam petunjuk penggunaan kondom eksternal.
Setelah itu, gulung kondom hingga mencapai pangkal penis.
Pastikan kondom terpasang dengan nyaman, tidak menggulung kembali, dan tidak terlihat rusak.
6. Gunakan Pelumas yang Tepat
Pelumas dapat membantu mengurangi gesekan sehingga kemungkinan kondom bergeser atau rusak dapat berkurang. WHO menyebut pelumas sangat penting terutama untuk hubungan anal karena rektum tidak menghasilkan pelumasan alami seperti vagina.
Untuk kondom berbahan lateks, gunakan pelumas berbahan dasar air atau silikon.
Hindari minyak bayi, petroleum jelly atau vaselin, minyak pijat, lotion tubuh, minyak goreng, mentega, dan produk berbahan minyak lainnya. Produk berbahan minyak dapat melemahkan lateks dan meningkatkan kemungkinan kondom rusak.
Jenis kondom tertentu yang terbuat dari bahan sintetis mungkin memiliki kompatibilitas berbeda dengan pelumas. Karena itu, membaca petunjuk pada kemasan tetap penting.
7. Jangan Gunakan Dua Kondom Sekaligus
Ada anggapan bahwa menggunakan dua kondom sekaligus memberikan perlindungan dua kali lebih kuat. Justru sebaliknya.
CDC secara khusus menyarankan tidak menggunakan lebih dari satu kondom dalam waktu bersamaan.
Gesekan antara dua lapisan kondom dapat meningkatkan risiko masalah selama pemakaian.
Gunakan satu kondom yang sesuai dan gunakan dengan benar dari awal sampai akhir aktivitas seksual.
Kondom eksternal juga tidak sebaiknya digunakan bersamaan dengan kondom internal.
8. Gunakan Kondom Baru Setiap Melakukan Aktivitas Seksual
Kondom merupakan produk sekali pakai.
Jangan mencuci, mengeringkan, kemudian menggunakan kembali kondom yang sudah pernah dipakai. CDC merekomendasikan menggunakan kondom baru pada setiap aktivitas seksual, termasuk seks vaginal, anal, maupun oral.
Jika berpindah dari hubungan anal ke vaginal atau melakukan aktivitas seksual berikutnya, gunakan kondom baru.
Mengganti kondom juga membantu mengurangi perpindahan mikroorganisme dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya.
9. Pegang Pangkal Kondom Saat Menarik Penis Keluar
Setelah ejakulasi, jangan langsung menarik penis tanpa memegang kondom.
Saat menarik penis keluar, pegang bagian pangkal kondom agar kondom tidak terlepas atau cairan di dalamnya tumpah. CDC menyarankan penis ditarik keluar ketika masih ereksi sambil menahan kondom pada bagian pangkal.
Setelah keluar sepenuhnya, lepaskan kondom secara hati-hati.
Kondom yang sudah digunakan kemudian dibuang ke tempat sampah dan tidak digunakan kembali.
Kondom Sobek atau Terlepas, Apa yang Harus Dilakukan?
Jika kondom sobek, bocor, atau terlepas selama hubungan seksual, jangan panik tetapi jangan pula mengabaikannya.
Kejadian tersebut dapat berarti terdapat paparan terhadap IMS atau risiko kehamilan yang tidak direncanakan.
Jika terdapat kemungkinan paparan HIV, penilaian medis segera menjadi penting karena terdapat terapi post-exposure prophylaxis atau PEP yang harus dimulai dalam waktu tertentu setelah paparan. Untuk risiko kehamilan, kontrasepsi darurat mungkin dapat dipertimbangkan sesuai situasi.
Selain itu, konsultasikan kebutuhan pemeriksaan IMS karena jenis serta waktu tes berbeda tergantung infeksi dan jenis paparan.
Kondom Tidak Melindungi 100 Persen dari Semua IMS
Hal ini sangat penting untuk dipahami.
Kondom sangat membantu menurunkan risiko penularan IMS ketika digunakan dengan benar dan konsisten, tetapi tidak memberikan perlindungan sempurna.
IMS seperti gonore dan klamidia yang terutama menyebar melalui cairan tubuh umumnya dapat dicegah lebih baik dengan kondom. Sementara itu, herpes genital, HPV, dan sifilis dapat ditularkan melalui luka atau kulit yang berada di luar bagian yang tertutup kondom.
Karena itu, pencegahan IMS tidak sebaiknya hanya mengandalkan kondom.
Pemeriksaan IMS berdasarkan faktor risiko, komunikasi mengenai status kesehatan seksual dengan pasangan, mengurangi jumlah pasangan seksual, vaksinasi HPV dan hepatitis B bila sesuai rekomendasi, serta pengobatan bila terdapat infeksi juga merupakan bagian dari strategi pencegahan.
Kapan Perlu Tes IMS?
Pertimbangkan pemeriksaan jika pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom, kondom sobek atau terlepas, memiliki pasangan baru atau beberapa pasangan seksual, pasangan diketahui mengalami IMS, atau muncul gejala seperti luka genital, cairan tidak normal, nyeri saat buang air kecil, atau ruam tertentu.
Tidak adanya gejala bukan berarti seseorang pasti bebas IMS. CDC menegaskan banyak IMS tidak mempunyai tanda atau gejala sehingga pemeriksaan merupakan cara penting untuk mengetahui status infeksi.
Konsultasikan di Klinik Lelaki Indonesia
Jika Anda mengalami gejala keluar cairan tidak biasa dari penis atau vagina, rasa terbakar ketika buang air kecil, gatal atau rasa tidak nyaman pada area genital dan perubahan fungsi seksual, segera lakukan konsultasi di Klinik Lelaki Indonesia. Pemeriksaan dilakukan secara privat dan profesional untuk membantu menemukan penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai.
Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dr. Mohammad Caesario (Dokter Rio), jangan menunggu hingga infeksi berkembang menjadi lebih serius. Semakin cepat mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk sembuh dan terhindar dari komplikasi jangka panjang.
Kesimpulan
Mengetahui cara menggunakan kondom yang benar merupakan langkah sederhana tetapi penting untuk membantu mengurangi risiko infeksi menular seksual.
Periksa tanggal kedaluwarsa dan kemasan, buka kondom dengan hati-hati, pasang sebelum terjadi kontak seksual, keluarkan udara dari ujungnya, gulung sampai pangkal penis, gunakan pelumas yang sesuai, dan pegang bagian pangkal kondom ketika penis ditarik keluar. Selalu gunakan kondom baru untuk setiap aktivitas seksual.
Hindari menggunakan dua kondom sekaligus dan jangan menggunakan pelumas berbahan minyak pada kondom lateks.
Yang terpenting, kondom menurunkan risiko tetapi tidak dapat menghilangkan seluruh kemungkinan penularan IMS. Pemeriksaan sesuai faktor risiko, komunikasi dengan pasangan, vaksinasi yang direkomendasikan, serta aktivitas seksual yang lebih aman tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan seksual.
Baca juga: Hubungan Seks Tanpa Pengaman, Risiko Gonore!