Pria Juga Bisa Menopause? Ketahui Faktanya!

Kebanyakan orang hanya mengenal menopause hal yang pasti dialami oleh wanita yang sudah berusia lanjut. Namun, tidak sedikit yang bertanya, apakah pria juga bisa menopause? Sebutan menopause pada pria untuk kondisi andropause sebenarnya tidaklah akurat. Terjadinya andropause dan menopause memang sama-sama dipengaruhi oleh kadar hormon reproduksi yang berkurang. Namun, keduanya bukanlah kondisi yang sama.
Secara medis, pria tidak mengalami menopause seperti wanita. Namun, pria dapat mengalami penurunan kadar hormon testosteron secara bertahap yang dikenal sebagai late-onset hypogonadism (LOH) atau sering disebut juga sebagai andropause. Meski istilah “menopause pria” cukup populer di masyarakat, kondisi ini berbeda dengan menopause pada wanita. Lalu, bagaimana penjelasan medisnya? Simak ulasan berikut.
Apa Itu Menopause?
Menopause adalah kondisi ketika seorang wanita berhenti mengalami menstruasi secara permanen akibat menurunnya fungsi ovarium dan produksi hormon estrogen. Diagnosis menopause ditegakkan apabila seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut tanpa penyebab lain.
Pada wanita, perubahan hormon terjadi dalam waktu yang relatif singkat sehingga gejalanya sering muncul dengan jelas.
Apakah Pria Juga Mengalami Menopause?
Jawabannya, tidak dalam arti yang sama seperti wanita.
Pria tidak mengalami penghentian fungsi reproduksi secara mendadak. Testis tetap dapat memproduksi testosteron dan sperma hingga usia lanjut, meskipun kemampuannya dapat menurun.
Yang terjadi pada sebagian pria adalah penurunan kadar testosteron secara bertahap, biasanya mulai setelah usia 30–40 tahun. Penurunan ini berlangsung perlahan, sekitar 1% per tahun, sehingga banyak pria tidak langsung merasakan perubahan yang signifikan.
Karena prosesnya berbeda dengan menopause pada wanita, istilah yang lebih tepat adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau andropause, bukan menopause pria.
Apa Itu Andropause?
Andropause adalah kondisi ketika kadar testosteron menurun disertai munculnya gejala yang memengaruhi kualitas hidup.
Tidak semua pria akan mengalami andropause. Banyak pria tetap memiliki kadar testosteron yang normal hingga usia lanjut dan tidak mengalami keluhan berarti.
Diagnosis andropause tidak hanya didasarkan pada usia atau gejala, tetapi juga harus didukung oleh pemeriksaan kadar testosteron melalui tes darah.
Mengapa Kadar Testosteron Menurun?
Beberapa faktor yang berperan dalam penurunan testosteron meliputi:
- Proses penuaan alami.
- Menurunnya fungsi sel penghasil testosteron di testis.
- Perubahan regulasi hormon dari otak.
- Peningkatan kadar sex hormone-binding globulin (SHBG) sehingga testosteron bebas berkurang.
Selain usia, beberapa kondisi dapat mempercepat penurunan hormon.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Andropause
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko testosteron rendah antara lain:
1. Obesitas
Kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan perubahan testosteron menjadi estrogen sehingga kadar testosteron menurun.
2. Diabetes
Diabetes yang tidak terkontrol dapat mengganggu produksi hormon dan fungsi seksual.
3. Kurang Tidur
Produksi testosteron banyak terjadi saat tidur. Tidur yang tidak cukup dapat menurunkan kadar hormon ini.
4. Stres Berkepanjangan
Kadar hormon kortisol yang tinggi akibat stres dapat menghambat produksi testosteron.
5. Penyakit Kronis
Beberapa penyakit seperti penyakit ginjal kronis, gangguan hati, gangguan tiroid, dan penyakit tertentu lainnya dapat memengaruhi kadar hormon pria.
6. Penggunaan Obat Tertentu
Obat-obatan seperti kortikosteroid jangka panjang atau opioid dapat memengaruhi produksi testosteron.
Tonton juga video Dokter Rio di TikTok: Terbaik Lakukan PMO 1-2 Kali Per Minggu
Gejala Andropause pada Pria
Tidak semua pria dengan testosteron rendah mengalami gejala. Namun, beberapa keluhan yang sering muncul meliputi:
Penurunan Gairah Seksual
Hasrat untuk berhubungan seksual menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
Disfungsi Ereksi
Sebagian pria mengalami kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi.
Mudah Lelah
Tubuh terasa kurang bertenaga meskipun aktivitas tidak terlalu berat.
Massa Otot Berkurang
Otot mengecil dan kekuatan tubuh menurun.
Lemak Tubuh Bertambah
Penumpukan lemak, terutama di area perut, menjadi lebih mudah terjadi.
Perubahan Suasana Hati
Pria dapat menjadi lebih mudah sedih, mudah marah, kehilangan motivasi, atau sulit berkonsentrasi.
Kepadatan Tulang Menurun
Dalam jangka panjang, testosteron rendah dapat meningkatkan risiko osteoporosis.
Apakah Semua Keluhan Disebabkan oleh Testosteron Rendah?
Tidak.
Gejala seperti mudah lelah, penurunan libido, atau gangguan ereksi juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, seperti:
- Diabetes.
- Penyakit jantung.
- Gangguan tiroid.
- Depresi.
- Efek samping obat-obatan.
- Kurang tidur.
Karena itu, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala.
Bagaimana Dokter Menentukan Diagnosis?
Untuk memastikan penyebab keluhan, dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh.
Wawancara Medis
Dokter akan menanyakan:
- Keluhan yang dialami.
- Riwayat penyakit.
- Penggunaan obat.
- Pola tidur.
- Gaya hidup.
- Fungsi seksual.
Pemeriksaan Fisik
Meliputi pemeriksaan berat badan, distribusi lemak tubuh, massa otot, rambut tubuh, serta kondisi organ reproduksi.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan testosteron dilakukan melalui tes darah pada pagi hari. Bila hasilnya rendah, dokter dapat menyarankan pemeriksaan ulang dan pemeriksaan hormon lain seperti LH, FSH, atau prolaktin bila diperlukan.
Apakah Andropause Bisa Diobati?
Ya, tetapi pengobatan disesuaikan dengan penyebabnya.
Apabila ditemukan penyakit tertentu, dokter akan menangani kondisi tersebut terlebih dahulu. Pada pria dengan hipogonadisme yang telah dipastikan melalui pemeriksaan klinis dan laboratorium, terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis.
Terapi testosteron tidak boleh digunakan tanpa pengawasan dokter karena memerlukan evaluasi manfaat, risiko, dan pemantauan secara berkala.
Cara Menjaga Kesehatan Hormon Pria
Untuk membantu menjaga kadar testosteron tetap optimal, lakukan beberapa kebiasaan berikut:
- Berolahraga secara rutin, terutama latihan kekuatan.
- Menjaga berat badan ideal.
- Tidur 7–9 jam setiap malam.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
- Mengelola stres.
- Berhenti merokok.
- Membatasi konsumsi alkohol.
- Mengontrol penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami:
- Penurunan gairah seksual yang menetap.
- Disfungsi ereksi.
- Mudah lelah tanpa penyebab yang jelas.
- Massa otot berkurang.
- Sulit berkonsentrasi.
- Perubahan suasana hati yang mengganggu.
- Kesulitan memiliki keturunan.
- Gejala yang memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.
Pemeriksaan sejak dini membantu menemukan penyebab keluhan sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat.
Konsultasikan di Klinik Lelaki Indonesia
Apabila Anda mengalami gejala yang mengarah pada penurunan hormon pria, seperti libido menurun, gangguan ereksi, mudah lelah, atau perubahan fungsi seksual lainnya, jangan menunda untuk memeriksakan diri.
Di Klinik Lelaki Indonesia, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Rio, yang akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kesehatan reproduksi dan hormon Anda. Pemeriksaan dilakukan secara profesional, menjaga privasi pasien, serta disesuaikan dengan penyebab keluhan sehingga terapi yang diberikan lebih tepat dan efektif.
Kesimpulan
Pria tidak mengalami menopause seperti wanita, tetapi dapat mengalami penurunan kadar testosteron secara bertahap yang dikenal sebagai andropause atau late-onset hypogonadism (LOH). Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan gairah seksual, disfungsi ereksi, mudah lelah, berkurangnya massa otot, hingga perubahan suasana hati pada sebagian pria.
Karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit lain, pemeriksaan oleh dokter sangat penting untuk memastikan penyebabnya. Jika Anda mengalami keluhan yang menetap dan mulai mengganggu aktivitas atau kualitas hidup, segera konsultasikan ke Klinik Lelaki Indonesia agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan langsung oleh Dokter Rio.
Baca juga: Kecanduan Pornografi Sebabkan Impotensi