Kencing Nanah Bisa Tingkatkan Risiko HIV? Ini Penjelasannya

Risiko HIV perlu diperhatikan pada orang yang mengalami kencing nanah atau gonore, yaitu Infeksi Menular Seksual (IMS) akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gonore dapat menginfeksi alat kelamin, anus, maupun tenggorokan dan menular melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi.
Gonore tidak berarti seseorang pasti terkena HIV. Namun, infeksi gonore yang tidak ditangani dapat meningkatkan kemungkinan tertular atau menularkan HIV ketika terjadi paparan seksual dengan HIV.
Mengapa gonore dapat meningkatkan risiko HIV?
Untuk memahami hubungannya, penting diketahui bahwa gonore dapat menyebabkan peradangan pada jaringan yang terinfeksi. Peradangan tersebut dapat memengaruhi kondisi permukaan mukosa dan membuat jaringan lebih rentan terhadap masuknya HIV ketika terjadi paparan seksual.
Selain itu, infeksi menular seksual dapat menarik sel-sel kekebalan ke area yang mengalami peradangan. HIV menargetkan beberapa jenis sel kekebalan tersebut sehingga kondisi peradangan dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung terjadinya infeksi HIV.
Hubungan ini bukan berarti gonore berubah menjadi HIV. Gonore dan HIV merupakan dua infeksi yang berbeda, dengan penyebab dan cara penularan yang berbeda pula.
Seberapa besar risiko HIV setelah gonore?
Besarnya risiko tidak sama untuk setiap orang. Risiko dipengaruhi oleh jenis aktivitas seksual, penggunaan kondom, status HIV pasangan, jumlah pasangan seksual, serta keberadaan IMS lainnya.
Sebuah systematic review dan meta-analysis terhadap kelompok pria yang berhubungan seks dengan pria menemukan bahwa infeksi gonore berkaitan dengan peningkatan risiko mendapatkan HIV, dengan risk ratio sekitar 2,38. Namun, peneliti juga mencatat adanya heterogenitas dan potensi bias pada penelitian yang dianalisis.
Penelitian lain yang meneliti kelompok heteroseksual berisiko tinggi juga menemukan hubungan antara gonore dan peningkatan risiko HIV pada perempuan. Dalam analisis tersebut, gonore berkaitan dengan risk ratio sekitar 2,81. Namun, sebagian besar data berasal dari populasi dengan risiko seksual yang tinggi sehingga angka tersebut tidak dapat diterapkan begitu saja kepada semua orang.
Jadi, tidak tepat mengatakan bahwa seseorang pasti terkena HIV setelah mengalami kencing nanah. Gonore merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko, terutama jika terjadi paparan HIV.
Apakah gonore dan HIV bisa terjadi bersamaan?
Ya. Seseorang dapat mengalami lebih dari satu IMS pada waktu yang sama. Gonore tidak memberikan perlindungan terhadap HIV, begitu juga sebaliknya.
Bahkan, seseorang yang mengalami gonore mungkin tidak menyadari bahwa dirinya juga terinfeksi HIV karena HIV pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Oleh karena itu, pemeriksaan berdasarkan gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terbebas dari HIV.
Jika seseorang didiagnosis gonore, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan IMS lain berdasarkan riwayat seksual dan faktor risikonya.
Apakah sudah sembuh dari gonore berarti aman dari HIV?
Belum tentu.
Antibiotik dapat digunakan untuk mengobati gonore, tetapi pengobatan tersebut tidak mengobati atau mencegah HIV. Seseorang tetap dapat tertular HIV apabila setelah atau selama mengalami gonore terjadi hubungan seksual yang melibatkan paparan HIV.
Pengobatan gonore tetap penting karena dapat menghilangkan infeksi bakteri dan membantu mencegah komplikasi serta penularan kepada pasangan. Namun, setelah mendapatkan diagnosis gonore, langkah berikutnya adalah memastikan apakah terdapat risiko IMS lain.
Kapan perlu melakukan tes HIV?
Tes HIV dapat dipertimbangkan terutama jika seseorang:
- pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang status HIV-nya tidak diketahui;
- memiliki pasangan seksual yang diketahui hidup dengan HIV;
- pernah mengalami IMS seperti gonore;
- memiliki lebih dari satu pasangan seksual;
- mengalami paparan seksual yang berisiko dan merasa khawatir terhadap HIV.
Waktu pemeriksaan juga penting karena tidak semua tes HIV dapat mendeteksi infeksi segera setelah seseorang terpapar. Dokter atau fasilitas kesehatan dapat membantu menentukan jenis tes dan waktu pemeriksaan yang sesuai.
Jika hasil tes dilakukan terlalu dini, hasil negatif belum tentu menyingkirkan infeksi karena tubuh membutuhkan waktu sampai penanda HIV dapat terdeteksi.
Tonton juga video Dokter Rio di TikTok: Risiko HIV Setelah Kencing Nanah: Penjelasan Dokter Rio
Bagaimana cara mencegah HIV setelah mengalami gonore?
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko.
1. Gunakan kondom secara konsisten
Kondom dapat membantu mengurangi risiko HIV dan berbagai IMS ketika digunakan dengan benar dan konsisten. Namun, perlindungannya tidak mutlak karena beberapa IMS juga dapat menular melalui kontak kulit atau area yang tidak tertutup kondom.
2. Selesaikan pengobatan gonore
Jika sudah didiagnosis gonore, konsumsi atau gunakan obat sesuai resep dokter dan jangan menghentikan pengobatan sendiri hanya karena gejala sudah membaik.
Pasangan seksual juga mungkin perlu mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan agar tidak terjadi penularan kembali.
3. Hindari hubungan seksual sementara waktu sesuai anjuran dokter
Setelah mendapatkan pengobatan gonore, ikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai kapan aman kembali melakukan hubungan seksual. Hal ini penting untuk mencegah penularan kepada pasangan.
4. Pertimbangkan pemeriksaan IMS lainnya
Gonore dapat terjadi bersamaan dengan IMS lain. Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah terdapat infeksi lain yang membutuhkan penanganan.
5. Pertimbangkan PrEP jika memiliki risiko HIV berulang
PrEP (pre-exposure prophylaxis) merupakan obat pencegahan HIV yang digunakan oleh orang yang belum terinfeksi HIV tetapi memiliki risiko tertular. Penggunaan PrEP perlu melalui penilaian dan pemantauan medis.
Bagaimana jika baru saja melakukan hubungan seksual berisiko?
Jika seseorang baru saja melakukan hubungan seksual yang berpotensi menyebabkan paparan HIV, jangan hanya menunggu munculnya gejala.
PEP (post-exposure prophylaxis) merupakan obat yang dapat digunakan setelah kemungkinan paparan HIV untuk membantu mencegah infeksi. PEP harus dimulai secepat mungkin dan memiliki batas waktu penggunaan setelah paparan, sehingga seseorang yang merasa mengalami paparan berisiko sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Jangan menunda konsultasi hanya karena tidak mengalami gejala.
Kesimpulan
Kencing nanah tidak menyebabkan HIV secara langsung. Namun, gonore dapat meningkatkan risiko tertular HIV ketika seseorang mengalami paparan HIV melalui hubungan seksual. Peradangan akibat IMS dapat menjadi salah satu mekanisme biologis yang membuat jaringan lebih rentan terhadap infeksi.
Karena itu, pria yang mengalami kencing nanah sebaiknya tidak hanya fokus menghilangkan keluarnya nanah dari penis. Pemeriksaan dan penanganan IMS secara menyeluruh juga penting, termasuk mempertimbangkan tes HIV berdasarkan riwayat paparan.
Jika terdapat riwayat hubungan seksual berisiko, segera konsultasikan dengan dokter atau fasilitas kesehatan. Semakin cepat mengetahui status kesehatan, semakin cepat langkah pencegahan atau pengobatan yang tepat dapat dilakukan.
📢 Mengalami Keluhan Berbahaya pada Organ Vital atau Gejala Infeksi Menular Seksual?
Jangan biarkan rasa malu dan takut menghambat Anda untuk sembuh! Jika Anda mengalami gejala seperti keluar nanah saat buang air kecil, luka tanpa rasa sakit pada organ vital, rasa terbakar, atau ruam kulit—bisa jadi itu adalah indikasi infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore (kencing nanah), klamidia, atau sifilis.
Infeksi ini membutuhkan penanganan antibiotik yang tepat dari tenaga medis profesional, bukan pengobatan asal-asalan yang justru bisa memperparah kondisi Anda.
Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.
Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional, cepat, dan rahasia.
👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)
Baca juga: Sudah Terkena Gonore Tapi Tidak Sadar?