KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Obesitas Bikin Penis Mengecil?

Benarkah Obesitas Bisa Membuat Penis Mengecil?

Ilustrasi pria dengan obesitas merasa terganggu hubungan seksualnya dengan pasangannya

Sebagian pria dengan berat badan berlebih atau obesitas merasa ukuran penisnya menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini sering menimbulkan kekhawatiran, bahkan dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kehidupan seksual. Obesitas tak hanya membahayakan kesehatan karena menjadi faktor risiko penyakit jantung, stroke dan diabetes, tetapi juga dapat berpengaruh pada ‘senjata’ pria. Tubuh yang gemuk bisa membuat penis pria makin pendek.

Pada banyak pria dengan obesitas, penis sebenarnya tidak tiba-tiba kehilangan jaringan atau menyusut. Yang terjadi adalah penumpukan lemak di sekitar perut bagian bawah dan area di atas tulang kemaluan atau suprapubik. Lemak tersebut dapat menutupi sebagian pangkal penis sehingga batang penis yang terlihat dari luar menjadi lebih pendek. Dalam kondisi yang berat, keadaan ini dapat berkembang menjadi kondisi yang dikenal sebagai adult acquired buried penis, yaitu penis yang sebagian atau hampir seluruhnya tersembunyi oleh jaringan di sekitarnya.

Jadi, anggapan bahwa obesitas langsung membuat penis mengecil perlu diluruskan. Obesitas lebih sering memengaruhi panjang penis yang terlihat dan fungsi ereksi, bukan sekadar ukuran anatominya.

Mengapa Penis Bisa Tampak Lebih Pendek Saat Berat Badan Naik?

Pangkal penis berada di area dekat tulang kemaluan. Ketika berat badan meningkat, jaringan lemak dapat ikut menumpuk pada daerah perut bagian bawah dan suprapubik.

Semakin tebal bantalan lemak pada area tersebut, semakin banyak bagian pangkal penis yang tertutup. Akibatnya, bagian batang penis yang dapat terlihat dari luar menjadi lebih sedikit.

Fenomena inilah yang dapat membuat seseorang merasa penisnya semakin pendek setelah berat badannya meningkat.

Penelitian mengenai pengurangan lemak suprapubik juga menunjukkan bahwa ketika volume lemak pada daerah tersebut berkurang, panjang penis yang tampak dari luar dapat meningkat. Hal ini mendukung penjelasan bahwa pada sebagian pria dengan obesitas, perubahan yang terjadi terutama berkaitan dengan bagian penis yang tertutup jaringan lemak.

Dengan kata lain, penis dapat tampak “masuk” ke dalam bantalan lemak di sekitarnya.

Apa Itu Buried Penis?

Pada obesitas yang lebih berat, penumpukan jaringan di daerah suprapubik dapat menyebabkan kondisi yang disebut buried penis atau penis tersembunyi.

Pada kondisi ini, batang penis sebenarnya tetap ada, tetapi sebagian atau seluruh bagian penis tertutup oleh jaringan lemak dan kulit di sekitarnya. Obesitas merupakan salah satu penyebab penting adult acquired buried penis pada pria dewasa.

Buried penis bukan hanya masalah penampilan.

Pada kasus yang berat, seseorang dapat mengalami kesulitan menjaga kebersihan penis, mengarahkan aliran urine, buang air kecil sambil berdiri, maupun melakukan aktivitas seksual. Lingkungan yang lembap dan sulit dibersihkan juga dapat menyebabkan masalah kulit dan infeksi berulang.

Karena itu, jika penis menjadi semakin sulit terlihat atau kebersihan dan buang air kecil mulai terganggu, pemeriksaan ke dokter, khususnya dokter urologi, sebaiknya dilakukan.

Obesitas Juga Bisa Memengaruhi Ereksi

Masalah akibat obesitas tidak hanya berkaitan dengan penis yang terlihat lebih pendek. Kelebihan berat badan dan obesitas juga berhubungan dengan peningkatan risiko disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi adalah kondisi ketika seorang pria sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk aktivitas seksual. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases atau NIDDK memasukkan overweight dan obesitas sebagai kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi.

Ereksi membutuhkan aliran darah yang baik menuju jaringan penis. Sementara itu, obesitas sering berjalan bersama berbagai masalah metabolik dan kardiovaskular, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit pembuluh darah. Kondisi tersebut juga merupakan faktor yang dapat berkontribusi terhadap gangguan ereksi.

Jika ereksi tidak mencapai kekakuan maksimal, penis juga dapat terlihat lebih kecil dibandingkan ketika mengalami ereksi penuh. Hal ini terkadang membuat seseorang semakin yakin bahwa penisnya telah mengecil, padahal kualitas ereksi juga ikut berperan.

Bagaimana Pengaruh Obesitas terhadap Hormon Testosteron?

Obesitas juga berhubungan dengan masalah hormon pada sebagian pria.

Pria dengan obesitas lebih sering mengalami kadar testosteron rendah atau hipogonadisme dibandingkan populasi pria tanpa faktor tersebut. Testosteron sendiri mempunyai peran dalam libido, fungsi seksual, massa otot, tulang, dan berbagai fungsi tubuh lainnya.

Namun, kadar testosteron rendah tidak boleh didiagnosis hanya berdasarkan berat badan, gairah seksual, atau bentuk tubuh.

Pedoman Endocrine Society menekankan bahwa diagnosis hipogonadisme memerlukan adanya gejala yang sesuai disertai kadar testosteron yang terbukti rendah secara konsisten pada pemeriksaan laboratorium.

Karena itu, pria dengan obesitas sebaiknya tidak langsung membeli atau menggunakan hormon testosteron ketika merasa libido menurun atau ereksi melemah. Terapi hormon memiliki indikasi dan risiko tertentu sehingga harus diberikan berdasarkan evaluasi medis.

Apakah Menurunkan Berat Badan Bisa Membuat Penis Terlihat Lebih Panjang?

Pada pria yang mengalami penumpukan lemak cukup tebal di area suprapubik, penurunan berat badan berpotensi membuat bagian pangkal penis yang sebelumnya tertutup menjadi lebih terlihat.

Artinya, penis dapat terlihat lebih panjang, meskipun hal tersebut bukan berarti jaringan penis baru bertambah panjang.

Selain perubahan penampilan, menurunkan berat badan juga dapat memberikan manfaat terhadap fungsi seksual. Sebuah uji klinis pada pria obesitas dengan disfungsi ereksi menemukan bahwa perubahan gaya hidup berupa penurunan berat badan dan peningkatan aktivitas fisik berhubungan dengan perbaikan fungsi seksual pada sebagian peserta.

Meta-analisis penelitian juga menunjukkan bahwa penurunan berat badan dapat memperbaiki fungsi ereksi pada pria dengan overweight atau obesitas.

Karena itu, manfaat menurunkan berat badan tidak hanya berhubungan dengan penampilan organ intim, tetapi juga kesehatan metabolik, pembuluh darah, dan fungsi seksual.

Jangan Tergiur Obat atau Produk Pembesar Penis

Ketika merasa ukuran penis berkurang, sebagian pria mungkin tergoda menggunakan obat, minyak, suplemen, alat, atau produk yang mengklaim dapat memperbesar penis dengan cepat.

Masalahnya, penyebab penis terlihat lebih pendek perlu diketahui terlebih dahulu.

Jika penyebab utamanya adalah bantalan lemak suprapubik yang tebal, menggunakan produk pembesar penis tidak menghilangkan penyebab tersebut. Jika terdapat disfungsi ereksi, masalah aliran darah atau kondisi kesehatan yang mendasarinya juga perlu dievaluasi.

Untuk kasus buried penis yang berat dan menimbulkan gangguan fungsi, penanganan oleh dokter dapat melibatkan strategi penurunan berat badan dan, pada pasien tertentu, tindakan bedah untuk mengurangi jaringan suprapubik serta memperbaiki anatomi penis.

Penanganannya harus disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi masing-masing pasien.

Penis Benar-Benar Terlihat Memendek? Jangan Selalu Salahkan Obesitas

Tidak semua perubahan panjang atau bentuk penis disebabkan oleh berat badan.

Jika penis mengalami pemendekan yang disertai lengkungan baru, benjolan keras, perubahan bentuk, atau nyeri saat ereksi, penyebab lain seperti penyakit Peyronie perlu dipertimbangkan.

Penyakit Peyronie terjadi ketika jaringan parut atau plak terbentuk pada jaringan penis. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penis membengkok ketika ereksi dan pada sebagian pasien dapat disertai pemendekan penis.

Karena itu, perubahan bentuk penis yang baru muncul sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai akibat obesitas.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan apabila penis menjadi semakin tersembunyi sampai menyulitkan buang air kecil atau menjaga kebersihan, terdapat infeksi atau iritasi berulang, atau hubungan seksual menjadi sulit.

Konsultasikan juga apabila mengalami gangguan ereksi secara berulang, penurunan gairah seksual yang menetap, atau perubahan bentuk penis seperti lengkungan baru, nyeri, benjolan keras, atau pemendekan yang terasa jelas. Gangguan ereksi sendiri dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, termasuk obesitas, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta masalah hormonal.

Dokter dapat menentukan apakah keluhan terutama berasal dari penumpukan lemak suprapubik, gangguan ereksi, masalah hormon, penyakit Peyronie, atau kondisi lainnya.

Kesimpulan

Jadi, apakah obesitas bikin penis mengecil?

Pada banyak kasus, obesitas tidak membuat jaringan penis tiba-tiba menyusut. Penumpukan lemak di daerah suprapubik dapat menutupi pangkal penis sehingga bagian penis yang terlihat menjadi lebih pendek. Pada obesitas berat, kondisi ini bahkan dapat berkembang menjadi adult acquired buried penis.

Obesitas juga meningkatkan risiko disfungsi ereksi, yang dapat membuat ereksi kurang maksimal dan membuat ukuran penis saat ereksi terasa berbeda.

Menurunkan berat badan melalui perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan penanganan obesitas yang tepat dapat membantu kesehatan secara keseluruhan serta berpotensi memperbaiki fungsi ereksi.

Jika perubahan ukuran penis terjadi secara tiba-tiba, disertai nyeri, lengkungan, gangguan ereksi, atau kesulitan buang air kecil, jangan hanya menyalahkan berat badan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan menentukan penanganan yang tepat.

 

Baca juga: Obesitas Dapat Menyebabkan Impotensi?