KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Hipertensi dan Impotensi: Apa Hubungannya?

Hipertensi Bisa Bikin Impotensi? Ini Penjelasannya

Ilustrasi pria hipertensi berkonsultasi dengan dokter

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan satu dari sekian masalah kesehatan yang paling banyak dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Penyakit yang meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Namun, ada satu dampak hipertensi pada pria yang terkadang jarang dibicarakan, yaitu impotensi atau disfungsi ereksi.

Disfungsi ereksi adalah kondisi ketika seorang pria mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk aktivitas seksual. Masalah ini tidak selalu disebabkan faktor psikologis atau usia. Gangguan pembuluh darah, termasuk yang disebabkan hipertensi, juga memiliki peran penting. NIDDK memasukkan tekanan darah tinggi sebagai salah satu kondisi kardiovaskular yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Lantas, bagaimana hipertensi dan impotensi dapat saling berhubungan?

Ereksi Membutuhkan Aliran Darah yang Baik

Untuk memahami hubungan hipertensi dengan impotensi, kita perlu mengetahui bagaimana ereksi terjadi.

Ketika seorang pria mendapatkan rangsangan seksual, saraf dan pembuluh darah bekerja bersama untuk meningkatkan aliran darah menuju penis. Pembuluh darah di penis melebar sehingga jaringan erektil terisi darah. Darah kemudian tertahan sementara di dalam penis sehingga terjadi ereksi.

Artinya, kondisi pembuluh darah sangat menentukan kualitas ereksi.

Jika pembuluh darah mengalami kerusakan atau penyempitan, darah yang mencapai penis dapat berkurang. American Heart Association menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah dan mengurangi aliran darah ke daerah panggul. Pada pria, aliran darah yang tidak mencukupi menuju penis dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Bagaimana Hipertensi Menyebabkan Impotensi?

Tekanan darah tinggi memberikan tekanan berlebihan pada dinding pembuluh darah secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat merusak lapisan bagian dalam pembuluh darah atau endotel.

Pembuluh darah yang sehat dapat melebar dan menyempit sesuai kebutuhan tubuh. Ketika fungsi endotel terganggu, kemampuan pembuluh darah untuk melebar juga menurun.

Hipertensi dalam jangka panjang juga berhubungan dengan pengerasan dan penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis. Ketika pembuluh darah menjadi lebih sempit, aliran darah menuju penis dapat berkurang sehingga ereksi menjadi lebih sulit diperoleh atau tidak bertahan dengan baik.

Karena diameter pembuluh darah pada penis relatif kecil, masalah aliran darah terkadang dapat terlihat lebih awal melalui gangguan ereksi dibandingkan munculnya gejala penyakit jantung yang lebih jelas.

Apakah Setiap Pria dengan Hipertensi Akan Mengalami Impotensi?

Tidak.

Memiliki hipertensi bukan berarti seorang pria pasti mengalami disfungsi ereksi. Namun, tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risikonya.

Gangguan ereksi sendiri mempunyai banyak kemungkinan penyebab. Selain hipertensi, diabetes, obesitas, aterosklerosis, gangguan hormon, penyakit saraf, stres, kecemasan, depresi, merokok, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol berlebihan juga dapat berkontribusi.

Karena itu, apabila seseorang dengan hipertensi mengalami impotensi, dokter biasanya tidak hanya mengevaluasi tekanan darahnya. Kondisi metabolik, obat yang dikonsumsi, kebiasaan hidup, serta faktor psikologis juga perlu dipertimbangkan.

Apakah Obat Hipertensi Bisa Menyebabkan Impotensi?

Ini merupakan kekhawatiran yang cukup sering muncul pada pasien hipertensi.

Beberapa obat antihipertensi memang dapat memengaruhi fungsi seksual pada sebagian orang. NIDDK mencantumkan obat tekanan darah dan diuretik sebagai beberapa jenis obat yang dapat memiliki efek samping berupa disfungsi ereksi.

Mayo Clinic juga menjelaskan bahwa beberapa jenis diuretik dan beta blocker, khususnya beberapa beta blocker generasi lama, lebih sering dikaitkan dengan gangguan seksual. Namun, respons setiap pasien dapat berbeda dan tidak semua obat tekanan darah menimbulkan masalah tersebut.

Hal terpenting adalah jangan menghentikan obat hipertensi sendiri karena mengalami gangguan ereksi.

Hipertensi yang tidak terkendali justru dapat terus merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko komplikasi serius. Jika gangguan seksual muncul setelah mulai menggunakan obat tertentu, konsultasikan kepada dokter. Dokter dapat mengevaluasi apakah keluhan berkaitan dengan obat, penyakit hipertensi itu sendiri, atau penyebab lain, kemudian mempertimbangkan penyesuaian terapi bila diperlukan.

Impotensi Bisa Menjadi Sinyal Masalah Pembuluh Darah

Disfungsi ereksi sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai masalah kehidupan seksual.

Pada sebagian pria, gangguan ereksi dapat menjadi petunjuk adanya masalah kesehatan pembuluh darah yang belum terdiagnosis. Mayo Clinic menjelaskan bahwa disfungsi endotel dan penumpukan plak dapat menurunkan aliran darah menuju jantung maupun penis. Karena pembuluh darah penis lebih kecil, gangguan ereksi dapat muncul lebih dahulu sebelum beberapa gejala penyakit jantung.

Artinya, pria yang tiba-tiba mengalami gangguan ereksi secara menetap, terutama bila memiliki hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, atau kebiasaan merokok, sebaiknya tidak hanya mencari “obat kuat”.

Evaluasi kesehatan secara menyeluruh dapat diperlukan.

Apakah Mengontrol Hipertensi Bisa Membantu Ereksi?

Mengendalikan tekanan darah merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan kesehatan seksual.

Perubahan gaya hidup yang baik untuk kesehatan jantung juga bermanfaat dalam mencegah atau membantu memperbaiki disfungsi ereksi. NIDDK merekomendasikan berhenti merokok, menjaga berat badan sehat, mengikuti pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik, mengurangi stres, serta membatasi konsumsi alkohol sebagai bagian dari upaya menjaga fungsi ereksi.

Aktivitas fisik membantu meningkatkan aliran darah di seluruh tubuh, termasuk menuju penis. Menjaga berat badan juga dapat membantu menurunkan risiko diabetes dan hipertensi, dua kondisi yang berhubungan dengan disfungsi ereksi.

Namun, perbaikan fungsi ereksi tidak selalu terjadi seketika setelah tekanan darah membaik. Jika kerusakan pembuluh darah sudah cukup berat atau terdapat penyakit lain, penanganan tambahan mungkin diperlukan.

Bagaimana dengan Viagra atau Obat Disfungsi Ereksi?

Obat golongan phosphodiesterase type 5 inhibitor atau PDE5 inhibitor, seperti sildenafil dan tadalafil, merupakan beberapa obat yang digunakan untuk menangani disfungsi ereksi. Obat ini membantu meningkatkan efek nitric oxide sehingga pembuluh darah pada penis lebih mudah melebar dan aliran darah meningkat saat terdapat rangsangan seksual.

Namun, obat disfungsi ereksi tidak boleh digunakan sembarangan, khususnya pada pasien yang juga mempunyai penyakit jantung atau menggunakan obat tertentu.

PDE5 inhibitor tidak boleh dikombinasikan dengan obat golongan nitrat yang digunakan untuk angina atau nyeri dada karena kombinasi tersebut dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya.

Pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol atau penyakit jantung tertentu juga perlu menjalani evaluasi terlebih dahulu sebelum menggunakan obat disfungsi ereksi.

Karena itu, hindari membeli obat kuat tanpa mengetahui kandungan dan keamanan produknya.

Jangan Lupakan Faktor Psikologis

Meskipun hipertensi dapat menyebabkan gangguan ereksi melalui pembuluh darah, faktor psikologis tetap dapat memperburuk kondisi.

Seorang pria yang pernah gagal mempertahankan ereksi dapat menjadi cemas ketika akan melakukan hubungan seksual berikutnya. Kecemasan terhadap “kegagalan” tersebut dapat semakin menyulitkan ereksi. Stres, depresi, kecemasan, serta rendahnya kepercayaan diri juga termasuk faktor yang dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi.

Dengan demikian, masalah ereksi dapat terjadi akibat kombinasi faktor fisik dan psikologis.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Gangguan ereksi sesekali dapat terjadi akibat kelelahan, stres, atau kondisi sementara. Namun, jika kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi terjadi berulang dan mulai mengganggu aktivitas seksual, sebaiknya lakukan pemeriksaan.

Di Klinik Lelaki Indonesia, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Rio, yang akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab gangguan seksual yang Anda alami. Pemeriksaan dilakukan secara profesional dan mengutamakan privasi pasien, sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan, faktor risiko, dan kebutuhan masing-masing individu.

Kesimpulan

Hubungan antara hipertensi dan impotensi terutama terletak pada kesehatan pembuluh darah. Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah, mengganggu kemampuannya untuk melebar, dan mengurangi aliran darah menuju penis. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi.

Beberapa obat hipertensi juga dapat memengaruhi fungsi seksual pada sebagian pasien, tetapi obat tidak boleh dihentikan sendiri. Hipertensi yang tidak terkontrol justru berpotensi semakin merusak pembuluh darah.

Menjaga tekanan darah, berhenti merokok, berolahraga, menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, dan memeriksakan gangguan ereksi yang menetap dapat membantu menjaga kesehatan seksual sekaligus kesehatan jantung.

Yang terpenting, impotensi bukan hanya persoalan kemampuan seksual. Pada sebagian pria, kondisi ini dapat menjadi petunjuk awal bahwa kesehatan pembuluh darah perlu diperiksa lebih lanjut.

 

Baca juga: Impotensi Bukan Aib! Jangan Ragu Untuk Konsultasi