Impotensi pada Pria Muda, Apakah Bisa Terjadi?

Mendengar kata impotensi, kebanyakan orang akan menganggap kalau hal itu hanya menyerang pria pada usia lanjut saja. Anggapan ini cukup mudah dipahami karena gangguan ereksi memang menjadi lebih sering ditemukan seiring bertambahnya usia. Namun, impotensi tidak hanya menyerang pria usia tua. Pria berusia muda juga dapat mengalaminya.
Dalam dunia medis, impotensi disebut disfungsi ereksi atau erectile dysfunction (ED). Kondisi ini terjadi ketika seorang pria mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk melakukan aktivitas seksual. Gangguan tersebut dapat disebabkan masalah pembuluh darah, saraf, hormon, obat-obatan, gaya hidup, maupun kondisi psikologis.
Karena penyebabnya beragam, masalah ereksi pada pria muda sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah pikiran, kurang percaya diri, atau kurang bergairah.
Benarkah Impotensi Lebih Sering Terjadi pada Pria Tua?
Ya, risiko disfungsi ereksi memang meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, usia bukan satu-satunya penyebab impotensi.
NIDDK menjelaskan bahwa pria lebih mungkin mengalami disfungsi ereksi seiring bertambahnya usia, terutama karena penyakit dan kondisi kesehatan yang berkaitan dengan ED menjadi lebih umum. Meski demikian, disfungsi ereksi bukan bagian rutin atau sesuatu yang pasti terjadi dalam proses penuaan.
Artinya, pria berusia 60 atau 70 tahun tidak otomatis harus mengalami impotensi. Sebaliknya, pria berusia 20, 30, atau 40 tahun juga tidak otomatis terbebas dari masalah ereksi.
Kajian ilmiah terbaru mengenai disfungsi ereksi pada pria muda menunjukkan bahwa kasus ED memang ditemukan pada kelompok usia muda. Angka yang dilaporkan dalam berbagai penelitian cukup bervariasi, antara lain karena perbedaan populasi dan metode penilaian. Penyebabnya juga tidak hanya psikologis, tetapi dapat melibatkan gangguan pembuluh darah, hormonal, metabolik, dan saraf.
Mengapa Pria Muda Bisa Mengalami Impotensi?
Ereksi bukan sekadar respons penis terhadap rangsangan seksual. Prosesnya membutuhkan koordinasi antara otak, saraf, hormon, pembuluh darah, dan jaringan penis.
Ketika terdapat rangsangan seksual, pembuluh darah penis perlu melebar sehingga lebih banyak darah masuk ke jaringan erektil. Jika proses ini terganggu, ereksi bisa sulit terbentuk, kurang keras, atau tidak mampu bertahan.
NIDDK menjelaskan bahwa berbagai kondisi yang memengaruhi pembuluh darah, saraf, maupun hormon dapat menyebabkan ED. Faktor emosional, obat tertentu, dan perilaku gaya hidup juga dapat berperan.
Itulah sebabnya usia muda tidak menjamin seseorang bebas dari disfungsi ereksi.
Faktor Psikologis Memang Penting, tetapi Bukan Satu-satunya
Pada pria muda, stres dan kecemasan sering menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan gangguan ereksi.
Seseorang yang pernah mengalami kegagalan ereksi dapat merasa takut kejadian tersebut terulang. Ketika kecemasan meningkat saat akan melakukan aktivitas seksual, respons seksual justru dapat semakin terganggu. Kondisi ini sering disebut sebagai performance anxiety.
Depresi, stres, kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, serta masalah hubungan juga termasuk faktor emosional yang dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi.
Namun, menganggap semua impotensi pada pria muda sebagai masalah psikologis juga tidak tepat.
Kajian tentang pria muda dengan ED menunjukkan bahwa sebagian pasien memiliki faktor organik atau fisik. Karena itu, pemeriksaan perlu mempertimbangkan kesehatan tubuh secara keseluruhan, tidak hanya kondisi mental.
Diabetes Bisa Menyebabkan Gangguan Ereksi di Usia Lebih Muda
Diabetes merupakan salah satu penyakit yang memiliki hubungan kuat dengan disfungsi ereksi.
Gula darah yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf. Padahal, kedua sistem tersebut sangat penting dalam proses ereksi. Kerusakan saraf akibat diabetes dapat mengganggu kemampuan penis untuk menjadi keras ketika terdapat rangsangan seksual.
Karena diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada orang yang relatif muda, gangguan ereksi akibat komplikasi diabetes tidak hanya menjadi masalah pria lanjut usia.
Pria muda dengan gangguan ereksi berulang, terutama jika mempunyai obesitas, riwayat keluarga diabetes, sering haus, sering buang air kecil, atau faktor risiko metabolik lainnya, sebaiknya tidak sekadar mengandalkan obat kuat tanpa evaluasi kesehatan.
Obesitas Juga Meningkatkan Risiko Impotensi
Kelebihan berat badan dan obesitas juga dapat berhubungan dengan gangguan fungsi seksual.
NIDDK menyebut overweight dan obesitas meningkatkan risiko terjadinya disfungsi ereksi. Obesitas juga berhubungan dengan berbagai gangguan metabolik dan kardiovaskular yang dapat memengaruhi kesehatan pembuluh darah.
Makanan dan minuman yang meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami ED.
Karena itu, menjaga berat badan sehat bukan hanya penting untuk penampilan. Berat badan dan kesehatan metabolik juga dapat memengaruhi fungsi seksual pria.
Kebiasaan Hidup Bisa Ikut Berperan
Beberapa kebiasaan sehari-hari juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah ereksi.
Kurangnya aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan zat tertentu termasuk faktor gaya hidup yang dapat berhubungan dengan ED.
Sebaliknya, perubahan gaya hidup yang lebih sehat dapat menjadi bagian dari penanganan. NIDDK merekomendasikan peningkatan aktivitas fisik, menjaga berat badan sehat, berhenti merokok, membatasi alkohol, dan menerapkan pola makan sehat dalam upaya mencegah atau membantu memperbaiki disfungsi ereksi.
Obat Tertentu Dapat Memengaruhi Ereksi
Gangguan ereksi pada pria muda maupun tua juga dapat muncul sebagai efek samping obat tertentu.
Beberapa obat untuk tekanan darah, diuretik, antidepresan, antihistamin, obat hormonal, serta beberapa jenis obat lainnya dapat berhubungan dengan ED pada sebagian pasien.
Namun, jangan menghentikan obat yang diresepkan dokter secara sepihak hanya karena merasa fungsi ereksi berubah.
Dokter perlu menilai apakah gangguan tersebut benar-benar berasal dari obat atau disebabkan penyakit yang sedang diobati maupun kondisi lainnya. Jika obat diduga menjadi penyebab, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi yang sesuai.
Impotensi pada Pria Muda Bisa Menjadi Petunjuk Masalah Kesehatan
Disfungsi ereksi pada usia muda tidak sebaiknya hanya dilihat sebagai masalah performa seksual.
American Urological Association menyatakan bahwa pria dengan ED sebaiknya diberi tahu bahwa gangguan ereksi dapat menjadi penanda risiko penyakit kardiovaskular dan kondisi kesehatan lain yang memerlukan evaluasi.
Penelitian mengenai pria muda dengan ED juga menekankan pentingnya evaluasi kesehatan secara menyeluruh karena sebagian pasien memiliki penyebab organik dan faktor risiko kesehatan yang mendasarinya.
Jadi, apabila seorang pria berusia 30 tahun mengalami kesulitan ereksi secara berulang, penyebabnya tidak boleh langsung disimpulkan sebagai stres. Tekanan darah, gula darah, berat badan, kesehatan pembuluh darah, hormon, obat-obatan, kondisi psikologis, dan faktor lainnya mungkin perlu dievaluasi.
Apa Bedanya Impotensi dengan Sesekali Gagal Ereksi?
Mengalami kesulitan ereksi satu atau dua kali belum tentu berarti seseorang mengalami disfungsi ereksi.
Masalah ereksi dapat terjadi sesekali. Yang lebih perlu diperhatikan adalah pola gangguan yang berulang, seperti hanya mampu mendapatkan ereksi pada beberapa kesempatan, mampu ereksi tetapi tidak dapat mempertahankannya, atau tidak mampu mendapatkan ereksi yang cukup kuat untuk aktivitas seksual.
Karena itu, jangan panik hanya karena satu kali gagal ereksi. Sebaliknya, jangan pula mengabaikannya jika masalah tersebut terus terjadi.
Bagaimana Dokter Memeriksa Impotensi pada Pria Muda?
Pemeriksaan disfungsi ereksi tidak hanya berfokus pada penis.
Dokter dapat menanyakan riwayat kesehatan, pola gangguan ereksi, kesehatan seksual, kondisi emosional, obat yang sedang digunakan, serta kebiasaan hidup. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan untuk mencari masalah pembuluh darah, sistem saraf, hormon, atau kelainan pada penis. Pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan tambahan dapat digunakan bila diperlukan.
Penyebab yang berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda pula.
Jika faktor psikologis dominan, konseling dapat membantu. Jika terdapat diabetes, hipertensi, obesitas, atau gangguan kesehatan lainnya, kondisi tersebut perlu dikendalikan. Obat disfungsi ereksi juga tersedia untuk pasien tertentu, tetapi penggunaannya sebaiknya berdasarkan evaluasi medis.
Jangan Langsung Mengandalkan Obat Kuat
Karena malu memeriksakan diri, sebagian pria lebih memilih membeli obat kuat, jamu, atau suplemen sendiri.
Padahal, tujuan pemeriksaan bukan hanya membuat penis kembali ereksi, tetapi mencari penyebab mengapa ereksi terganggu.
Jika masalah berasal dari diabetes atau penyakit pembuluh darah, sekadar menggunakan obat ereksi tanpa menangani penyakit dasarnya tidak menyelesaikan keseluruhan masalah.
NIDDK menyarankan pasien berbicara dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat atau suplemen untuk mengatasi ED. Penanganan yang tepat dapat mencakup perubahan gaya hidup, konseling, pengobatan, alat bantu tertentu, hingga terapi lain sesuai penyebabnya.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Pria sebaiknya berkonsultasi apabila kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi terus berulang, semakin sering, atau mulai mengganggu kehidupan seksual.
Klinik Lelaki Indonesia menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan berbagai gangguan kesehatan seksual pria, termasuk impotensi, disfungsi ereksi, ejakulasi dini, penurunan gairah seksual, dan gangguan hormon.
Pemeriksaan dan penanganan dilakukan langsung oleh Dokter Rio agar penyebab gangguan ereksi dapat diketahui dan terapi disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Jangan membeli atau menggunakan obat kuat sembarangan tanpa diagnosis dokter.
Kesimpulan
Jadi, impotensi hanya menyerang pria usia tua adalah mitos.
Disfungsi ereksi memang semakin sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi bukan bagian normal yang pasti terjadi akibat penuaan. Pria muda juga dapat mengalami ED akibat kombinasi faktor psikologis dan fisik.
Stres dan kecemasan dapat berperan, tetapi diabetes, obesitas, gangguan pembuluh darah, masalah hormon, saraf, obat-obatan, merokok, serta berbagai kondisi kesehatan lainnya juga perlu dipertimbangkan.
Karena itu, gangguan ereksi yang terjadi berulang tidak sebaiknya dianggap sekadar masalah kejantanan atau usia. Mengenali penyebab sejak dini dapat membantu menentukan penanganan yang tepat sekaligus mendeteksi masalah kesehatan lain yang mungkin belum diketahui.
Baca juga: Masih Muda Sudah Loyo?