KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Tanda Impotensi Ini Jangan Diabaikan!

Tanda Impotensi yang Tidak Boleh Diabaikan

Ilustrasi tanda impotensi tidak boleh diabaikan

Banyak pria yang tidak menyadari tanda impotensi yang dialaminya. Kondisi  ini dapat dipengaruhi oleh stres, kondisi emosional, obat-obatan, maupun faktor kesehatan lainnya. Namun, jika gangguan ereksi terjadi berulang, semakin sering, atau mulai mengganggu kehidupan seksual, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Dalam dunia medis, impotensi disebut disfungsi ereksi atau erectile dysfunction (ED). Kondisi ini terjadi ketika seorang pria sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup kuat untuk melakukan aktivitas seksual. Impotensi bukan sekadar masalah performa seksual. Pada sebagian pria, gangguan ereksi dapat menjadi tanda adanya penyakit yang memengaruhi pembuluh darah, saraf, hormon, atau kondisi kesehatan lainnya.

Lalu, seperti apa tanda impotensi yang perlu diperhatikan?

1. Sulit Mendapatkan Ereksi

Salah satu tanda impotensi yang paling jelas adalah semakin sulit mendapatkan ereksi meskipun terdapat rangsangan seksual.

Proses ereksi sebenarnya cukup kompleks. Otak, saraf, hormon, pembuluh darah, dan jaringan penis harus bekerja bersama. Karena itu, gangguan pada salah satu sistem tersebut dapat memengaruhi kemampuan ereksi.

NIDDK menyebut penyakit pembuluh darah, diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan hormon, kerusakan saraf, hingga masalah pada sistem reproduksi sebagai beberapa kondisi yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Jika masalah ini terjadi berulang, jangan langsung menganggapnya sekadar akibat usia atau kurang gairah.

2. Ereksi Terjadi, tetapi Tidak Bertahan Lama

Pria dengan disfungsi ereksi tidak selalu sama sekali tidak dapat mengalami ereksi.

Pada sebagian orang, ereksi masih dapat muncul, tetapi tidak bertahan cukup lama untuk aktivitas seksual. NIDDK secara khusus memasukkan kondisi ini sebagai salah satu gejala utama disfungsi ereksi.

Sebagai contoh, penis awalnya dapat mengalami ereksi ketika mendapat rangsangan, tetapi kemudian kekakuannya berkurang sebelum atau selama hubungan seksual.

Jika hanya terjadi sesekali, kondisi tersebut belum tentu menunjukkan penyakit. Namun, jika pola ini terus berulang, pemeriksaan medis sebaiknya dipertimbangkan.

3. Ereksi Tidak Sekeras Biasanya

Ereksi yang cukup kuat membutuhkan peningkatan aliran darah menuju penis. Karena itu, perubahan kualitas ereksi juga perlu diperhatikan.

Disfungsi ereksi bukan hanya berarti sama sekali tidak bisa ereksi. Ereksi yang tidak cukup kuat untuk aktivitas seksual juga termasuk dalam definisi disfungsi ereksi.

Gangguan pembuluh darah menjadi salah satu penyebab penting. Tekanan darah tinggi, misalnya, dapat merusak pembuluh darah secara bertahap dan berkontribusi terhadap terjadinya disfungsi ereksi. American Heart Association menyebut hipertensi sebagai salah satu kondisi yang dapat menyebabkan gangguan ereksi pada pria.

Karena itu, kualitas ereksi yang terus menurun tidak sebaiknya hanya dianggap sebagai masalah seksual.

4. Ereksi Hanya Bisa Terjadi Kadang-Kadang

Ada pria yang masih dapat mengalami ereksi pada satu kesempatan, tetapi gagal pada kesempatan lainnya.

Pola seperti ini juga termasuk salah satu tanda impotensi apabila terjadi berulang. NIDDK mencantumkan kemampuan mendapatkan ereksi hanya pada beberapa kesempatan, tetapi tidak setiap kali dibutuhkan untuk aktivitas seksual, sebagai salah satu gejala disfungsi ereksi.

Penyebabnya dapat bersifat fisik, psikologis, atau kombinasi keduanya.

Stres dan kecemasan, misalnya, dapat memengaruhi fungsi seksual. Namun, diabetes, obesitas, hipertensi, penyakit pembuluh darah, gangguan hormon, maupun efek obat juga dapat berperan.

Karena penyebabnya beragam, jangan langsung menyimpulkan bahwa masalah tersebut hanya berasal dari pikiran.

5. Gangguan Ereksi Muncul Bersama Diabetes atau Hipertensi

Tanda impotensi perlu mendapat perhatian lebih apabila muncul pada seseorang yang memiliki faktor risiko penyakit pembuluh darah.

Diabetes merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Hipertensi, aterosklerosis, obesitas, penyakit ginjal kronis, stroke, serta beberapa gangguan hormon dan saraf juga termasuk kondisi yang dapat berhubungan dengan masalah ereksi.

Hubungan tersebut masuk akal karena ereksi sangat bergantung pada fungsi pembuluh darah dan saraf.

Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak dinding pembuluh darah dan berkontribusi terhadap terbentuknya plak pada arteri. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah, termasuk aliran darah yang dibutuhkan untuk ereksi.

Itulah sebabnya gangguan ereksi pada pria dengan diabetes, hipertensi, obesitas, atau penyakit kardiovaskular sebaiknya tidak disepelekan.

6. Gangguan Ereksi Muncul Setelah Mengonsumsi Obat Tertentu

Jika masalah ereksi mulai muncul setelah menggunakan obat tertentu, sampaikan kepada dokter.

Beberapa obat memang dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi pada sebagian pasien. NIDDK mencantumkan beberapa jenis antidepresan, obat tekanan darah, diuretik, antihistamin, terapi hormon tertentu, kemoterapi, serta beberapa obat pereda nyeri sebagai obat yang dapat berkaitan dengan ED.

Namun, jangan menghentikan obat sendiri hanya karena mengalami gangguan ereksi.

Dokter dapat mengevaluasi apakah obat benar-benar menjadi penyebabnya dan, bila memungkinkan, mempertimbangkan perubahan dosis atau jenis obat. NIDDK menegaskan bahwa obat untuk penyakit lain tidak sebaiknya dihentikan sendiri tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.

7. Penis Membengkok atau Terasa Nyeri Saat Ereksi

Gangguan ereksi yang disertai perubahan bentuk penis juga sebaiknya diperiksakan.

Salah satu kondisi yang perlu dipertimbangkan adalah penyakit Peyronie, yaitu gangguan pada penis yang dapat menyebabkan kelengkungan dan masalah ketika ereksi. NIDDK memasukkan kelengkungan penis atau Peyronie sebagai salah satu masalah sistem reproduksi yang dapat berhubungan dengan disfungsi ereksi.

Pemeriksaan menjadi lebih penting jika muncul lengkungan baru, benjolan atau bagian keras pada penis, nyeri ketika ereksi, atau hubungan seksual menjadi sulit akibat perubahan bentuk penis.

Masalah tersebut tidak sebaiknya ditangani sendiri dengan pijatan atau produk yang mengklaim dapat meluruskan penis.

Impotensi Bukan Bagian Normal dari Penuaan

Usia memang berpengaruh terhadap risiko disfungsi ereksi. Namun, menganggap impotensi sebagai sesuatu yang pasti dan normal terjadi karena bertambahnya usia merupakan pemahaman yang kurang tepat.

Menurut NIDDK, disfungsi ereksi memang semakin sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi bukan merupakan bagian rutin atau sesuatu yang harus dianggap normal dari proses penuaan.

Pria berusia lanjut yang mengalami gangguan ereksi tetap dapat menjalani pemeriksaan untuk mencari kemungkinan penyebab dan pilihan penanganannya.

Jangan Langsung Membeli Obat Kuat

Karena dianggap memalukan, sebagian pria memilih membeli obat kuat secara diam-diam tanpa melakukan pemeriksaan.

Padahal, penanganan impotensi sebaiknya disesuaikan dengan penyebabnya.

Dokter dapat melakukan evaluasi melalui riwayat kesehatan, riwayat seksual dan psikologis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan tambahan bila diperlukan. Dokter juga dapat mengevaluasi pembuluh darah, sistem saraf, hormon, serta kondisi fisik penis.

Obat golongan PDE5 inhibitor merupakan salah satu pilihan terapi disfungsi ereksi karena membantu meningkatkan aliran darah menuju penis. Namun, obat tersebut bukan satu-satunya terapi. Perubahan gaya hidup, konseling, alat vakum, terapi lain, hingga tindakan tertentu dapat digunakan sesuai penyebab dan kondisi pasien.

Produk atau suplemen yang dibeli tanpa mengetahui kandungan maupun interaksinya dengan obat lain juga dapat menimbulkan risiko. NIDDK menyarankan pasien berdiskusi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat atau suplemen untuk mengatasi ED.

Bisakah Impotensi Diperbaiki?

Dalam banyak kasus, disfungsi ereksi dapat ditangani.

Penanganan pertama adalah mencari dan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Bila terdapat diabetes atau hipertensi, misalnya, penyakit tersebut perlu dikontrol dengan baik. Bila faktor psikologis berperan, konseling dapat menjadi bagian dari terapi.

Perubahan gaya hidup juga mempunyai peran penting. NIDDK merekomendasikan berhenti merokok, membatasi alkohol, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga berat badan sehat, dan menjalani pola makan sehat untuk membantu memperbaiki atau mencegah memburuknya gangguan ereksi.

Karena itu, penanganan impotensi sebaiknya tidak hanya berfokus pada bagaimana membuat penis ereksi, tetapi juga memperbaiki kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi terjadi berulang, semakin sering, atau mulai mengganggu aktivitas seksual dan hubungan dengan pasangan.

Jangan menunda pemeriksaan jika gangguan ereksi juga disertai diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit jantung, gangguan hormon, perubahan bentuk penis, atau penggunaan obat tertentu. Penyebab ED dapat berasal dari pembuluh darah, saraf, hormon, obat, maupun faktor psikologis sehingga evaluasinya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Kesimpulan

Tanda impotensi tidak hanya berupa ketidakmampuan total untuk mengalami ereksi. Ereksi yang sulit diperoleh, tidak cukup keras, hanya terjadi sesekali, atau tidak mampu bertahan cukup lama juga dapat menjadi tanda disfungsi ereksi.

Gangguan ereksi yang terus berulang tidak sebaiknya dianggap sekadar masalah kejantanan atau akibat bertambahnya usia. Diabetes, hipertensi, penyakit pembuluh darah, obesitas, gangguan hormon, kerusakan saraf, obat-obatan, stres, dan berbagai kondisi lainnya dapat menjadi penyebab.

Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin tepat penanganan yang dapat diberikan. Jadi, jika fungsi ereksi berubah secara menetap, jangan hanya mencari obat kuat. Pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan masalah yang sebenarnya sekaligus menjaga kesehatan seksual dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

 

Baca juga: Obat Kuat Dapat Menyembuhkan Impotensi?