Kenali Komplikasi Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual bisa menyerang pria maupun wanita. Penyakit ini bisa ditandai dengan gatal, luka, cairan tidak normal, atau nyeri saat berkemih. Gejala ringan seperti itu sering kali diabaikan. Padahal, beberapa penyakit menular seksual berbahaya jika dibiarkan tanpa pengobatan karena dapat menyebabkan komplikasi pada organ reproduksi, kehamilan, sistem saraf, hingga meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. WHO menegaskan bahwa IMS dapat memberikan dampak langsung terhadap kesehatan seksual dan reproduksi melalui infertilitas, kanker, komplikasi kehamilan, dan peningkatan risiko HIV.
Masalah lainnya adalah banyak IMS dapat berlangsung tanpa gejala atau hanya menimbulkan keluhan ringan. Karena itu, seseorang dapat merasa sehat dan tidak menyadari dirinya mengalami infeksi. Menunggu sampai muncul gejala berat bukan strategi yang tepat, terutama jika pernah mengalami aktivitas seksual berisiko atau pasangan diketahui memiliki IMS.
Apa Itu Penyakit Menular Seksual?
Infeksi menular seksual adalah kelompok infeksi yang terutama dapat ditularkan melalui aktivitas seksual. Jenisnya beragam, termasuk klamidia, gonore, sifilis, trikomoniasis, herpes genital, human papillomavirus atau HPV, dan HIV. Sebagian IMS disebabkan bakteri atau parasit dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Sebagian lainnya merupakan infeksi virus yang dapat dikendalikan tetapi tidak selalu dapat dihilangkan dari tubuh.
Karena penyebabnya berbeda-beda, pengobatan IMS juga tidak sama. Antibiotik yang digunakan untuk infeksi bakteri tidak dapat digunakan untuk menghilangkan infeksi virus seperti herpes. Inilah sebabnya pemeriksaan medis diperlukan sebelum menentukan terapi.
1. Klamidia dan Gonore Bisa Mengganggu Kesuburan
Klamidia dan gonore merupakan dua IMS yang sangat penting karena keduanya dapat berlangsung tanpa gejala, terutama pada perempuan. Jika tidak diobati, infeksi dapat menyebar dari leher rahim menuju organ reproduksi bagian atas dan menyebabkan pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul.
PID dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada saluran tuba. Akibatnya, perjalanan sel telur dapat terganggu sehingga risiko infertilitas dan kehamilan ektopik meningkat. Bahkan PID yang ringan atau tidak menunjukkan gejala jelas tetap dapat berhubungan dengan risiko gangguan kesuburan.
Pada pria, klamidia dan gonore juga tidak boleh disepelekan. Infeksi dapat menyebabkan peradangan pada epididimis, yaitu saluran di belakang testis yang berperan membawa sperma. Dalam kasus tertentu, komplikasi tersebut dapat berhubungan dengan gangguan kesuburan.
2. Sifilis Bisa Merusak Sistem Saraf dan Organ Tubuh
Sifilis disebabkan bakteri Treponema pallidum. Pada tahap awal, infeksi dapat menyebabkan luka yang sering kali tidak terasa sakit. Luka tersebut dapat menghilang dengan sendirinya, tetapi hilangnya luka bukan berarti bakteri sudah hilang dari tubuh. Tanpa terapi, sifilis dapat memasuki fase laten dan pada sebagian orang berkembang menjadi komplikasi serius.
Sifilis yang tidak diobati dapat mengenai sistem saraf, mata, telinga, jantung, pembuluh darah, dan organ lainnya. CDC menjelaskan bahwa sifilis tersier yang berat dapat menyebabkan kerusakan organ internal dan bahkan dapat berakibat fatal. Neurosifilis juga dapat terjadi ketika bakteri menyerang sistem saraf pusat.
Karena itu, luka kelamin yang tidak terasa sakit tetap perlu diperiksa, terutama setelah aktivitas seksual yang berisiko.
3. IMS Bisa Membahayakan Kehamilan dan Bayi
IMS juga menjadi perhatian penting pada ibu hamil karena beberapa infeksi dapat ditularkan kepada bayi selama kehamilan atau persalinan.
Sifilis yang tidak ditangani selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir mati, kematian neonatal, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, maupun sifilis kongenital. WHO memperkirakan sekitar 1,1 juta wanita hamil mengalami sifilis pada 2022, yang dikaitkan dengan lebih dari 390.000 luaran kehamilan yang merugikan.
Klamidia dan gonore juga dapat menyebabkan masalah pada kehamilan dan bayi. Karena itu, kehamilan tidak membuat seseorang terlindungi dari IMS. Pemeriksaan selama kehamilan perlu disesuaikan dengan rekomendasi medis dan faktor risiko masing-masing pasien.
4. HPV yang Menetap Bisa Berkembang Menjadi Kanker
Tidak semua IMS hanya menimbulkan infeksi akut. Salah satu yang perlu mendapat perhatian khusus adalah human papillomavirus atau HPV.
Sebagian besar infeksi HPV dapat dikendalikan tubuh dengan sendirinya. Namun, infeksi yang menetap akibat HPV tipe risiko tinggi dapat menyebabkan perubahan abnormal pada sel. Dalam jangka panjang, sel abnormal tersebut dapat berkembang menjadi kanker.
Hampir seluruh kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV risiko tinggi. HPV juga dapat berkaitan dengan kanker pada anus, penis, vulva, vagina, serta daerah mulut dan tenggorokan.
Karena HPV sering tidak menunjukkan gejala, pencegahan melalui vaksinasi HPV dan skrining kanker serviks sesuai pedoman menjadi sangat penting.
5. Herpes Genital Tidak Hilang Sepenuhnya dari Tubuh
Herpes genital disebabkan oleh herpes simplex virus, terutama HSV-2 dan sebagian kasus oleh HSV-1. Ketika menimbulkan gejala, herpes dapat menyebabkan lepuhan atau luka yang terasa nyeri, gatal, kesemutan, atau terbakar. Namun, banyak penderita memiliki gejala ringan atau bahkan tidak menyadari dirinya terinfeksi.
Berbeda dengan sifilis, gonore, atau klamidia yang merupakan infeksi bakteri, herpes belum dapat disembuhkan hingga virus benar-benar hilang dari tubuh. Virus dapat tetap berada di dalam tubuh dan kembali aktif sehingga gejala dapat kambuh. Obat antivirus digunakan untuk mengurangi gejala dan membantu mengendalikan kekambuhan.
HSV-2 juga memiliki hubungan penting dengan HIV. WHO menyatakan infeksi HSV-2 meningkatkan risiko seseorang memperoleh HIV sekitar tiga kali lipat jika terpapar.
6. IMS Dapat Meningkatkan Kerentanan terhadap HIV
Beberapa IMS dapat menyebabkan peradangan atau luka pada area genital. Kondisi tersebut dapat membuat penularan HIV lebih mudah apabila terjadi paparan.
CDC mencatat bahwa klamidia dan gonore yang tidak diobati dapat meningkatkan kemungkinan memperoleh atau menularkan HIV. Sementara itu, WHO mencatat hubungan yang kuat antara HSV-2 dan peningkatan risiko memperoleh HIV.
Karena itu, diagnosis IMS juga menjadi kesempatan penting untuk mengevaluasi risiko HIV dan menentukan apakah pemeriksaan tambahan diperlukan.
Mengapa Banyak Orang Terlambat Berobat?
Salah satu alasannya adalah IMS tidak selalu menimbulkan tanda yang khas. Seseorang dapat mengalami klamidia, gonore, HPV, herpes, atau sifilis fase tertentu tanpa menyadarinya.
WHO menyatakan sebagian besar IMS dapat tidak menunjukkan gejala atau hanya memberikan gejala ringan yang tidak spesifik. Ketika keluhan muncul, gejalanya dapat berupa cairan tidak biasa dari vagina atau penis, rasa terbakar saat buang air kecil, luka genital, atau nyeri pada perut bagian bawah.
Artinya, merasa sehat tidak cukup untuk memastikan bahwa seseorang bebas IMS.
Jangan Minum Antibiotik Sembarangan
Ketika muncul cairan dari penis atau vagina, luka genital, atau nyeri saat buang air kecil, sebagian orang langsung membeli antibiotik sendiri. Kebiasaan ini sebaiknya dihindari.
Penyebab IMS sangat beragam sehingga pengobatannya harus sesuai diagnosis. Selain itu, resistensi antimikroba pada gonore telah menjadi masalah kesehatan yang serius dan membuat pilihan terapi semakin terbatas. WHO menempatkan resistensi antimikroba gonore sebagai tantangan penting dalam pengendalian IMS.
Pemeriksaan dapat melibatkan sampel urine, darah, atau swab sesuai jenis infeksi dan lokasi paparan.
Kapan Harus Periksa?
Lakukan pemeriksaan jika mengalami luka atau lepuhan pada genital, keluar cairan yang tidak biasa dari penis atau vagina, rasa sakit saat buang air kecil, perdarahan tidak normal, nyeri panggul, nyeri atau pembengkakan testis, kutil genital, atau keluhan setelah aktivitas seksual berisiko.
Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan meskipun tidak ada gejala jika pasangan didiagnosis IMS atau terdapat faktor risiko lain. Setelah seseorang didiagnosis klamidia atau gonore, misalnya, pasangan seksual juga perlu mendapatkan evaluasi agar penularan berulang dapat dicegah.
Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual?
Penggunaan kondom secara benar dan konsisten dapat membantu menurunkan risiko banyak IMS. Pemeriksaan berdasarkan faktor risiko, komunikasi mengenai kesehatan seksual dengan pasangan, serta menghindari aktivitas seksual ketika terdapat luka atau gejala infeksi juga merupakan langkah penting. Vaksin tersedia untuk mencegah beberapa infeksi yang dapat ditularkan secara seksual, termasuk HPV.
Pencegahan tidak berarti sekadar menghindari penyakit. Tujuannya juga mencegah komplikasi jangka panjang yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Konsultasikan di Klinik Lelaki Indonesia
Apabila Anda mengalami gejala gonore atau mencurigai adanya komplikasi, segera lakukan pemeriksaan. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi dan mengurangi risiko gangguan kesuburan maupun komplikasi lainnya.
Di Klinik Lelaki Indonesia, Anda akan mendapatkan pemeriksaan yang profesional, nyaman, dan menjaga kerahasiaan pasien. Penanganan dilakukan langsung oleh Dokter Rio, yang akan mengevaluasi penyebab keluhan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Dengan diagnosis yang tepat, terapi dapat disesuaikan dengan kondisi setiap pasien sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih baik.
Kesimpulan
Penyakit menular seksual berbahaya jika dibiarkan karena beberapa infeksi dapat memberikan dampak jauh lebih besar daripada keluhan pada organ genital.
Klamidia dan gonore dapat menyebabkan penyakit radang panggul, kehamilan ektopik, dan infertilitas. Sifilis dapat menyerang sistem saraf, jantung, dan organ lain. Sifilis pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi serius pada bayi. Infeksi HPV risiko tinggi yang menetap dapat berkembang menjadi kanker, sedangkan herpes genital dapat kambuh dan HSV-2 berkaitan dengan peningkatan risiko memperoleh HIV.
Yang perlu diingat, banyak IMS dapat terjadi tanpa gejala. Karena itu, jangan menunggu sampai keluhan menjadi berat. Bila terdapat risiko paparan atau muncul tanda yang mencurigakan, pemeriksaan dan pengobatan yang tepat merupakan langkah terbaik untuk mencegah komplikasi serta melindungi kesehatan diri dan pasangan.