Waspadai Penyakit Kelamin yang Sering Menyerang Wanita

Wanita sering telat menyadari kalau dirinya telah terkena penyakit kelamin. Pasalnya, penyakit kelamin yang menyerang wanita sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Bahkan, beberapa infeksi menular seksual dapat berlangsung tanpa keluhan sehingga seseorang merasa sehat meskipun sebenarnya sedang mengalami infeksi. WHO menyebut klamidia, gonore, sifilis, dan trikomoniasis sebagai empat IMS yang umum dan dapat disembuhkan, sementara infeksi seperti HPV dan herpes genital juga menjadi masalah kesehatan seksual yang penting.
Hal yang perlu dipahami adalah penyakit-penyakit tersebut tidak hanya menyerang wanita. Pria juga dapat mengalaminya. Namun, pada perempuan, beberapa infeksi sering tidak bergejala dan dapat menimbulkan komplikasi serius pada organ reproduksi apabila tidak ditangani, seperti penyakit radang panggul, gangguan kesuburan, nyeri panggul kronis, dan kehamilan ektopik.
Karena itu, mengenali penyakit kelamin pada wanita dan mengetahui kapan perlu melakukan pemeriksaan merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan reproduksi.
1. Klamidia
Klamidia merupakan salah satu infeksi menular seksual yang umum. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis dan dapat terjadi pada pria maupun wanita. Klamidia dapat diobati dan disembuhkan dengan antibiotik.
Masalahnya, klamidia sering berlangsung tanpa gejala. Jika keluhan muncul pada wanita, gejalanya dapat berupa perubahan cairan vagina, rasa terbakar ketika buang air kecil, nyeri panggul, atau keluhan lain pada organ reproduksi.
Walaupun keluhannya bisa ringan, klamidia yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID). Infeksi kemudian dapat merusak organ reproduksi dan meningkatkan risiko infertilitas maupun kehamilan ektopik.
Inilah salah satu alasan mengapa wanita yang aktif secara seksual dan memiliki faktor risiko IMS perlu mendiskusikan kebutuhan pemeriksaan dengan tenaga kesehatan meskipun tidak merasakan gejala.
2. Gonore
Gonore merupakan infeksi yang disebabkan bakteri Neisseria gonorrhoeae. Infeksi dapat mengenai genital, rektum, maupun tenggorokan. Gonore masih menjadi salah satu IMS yang penting secara global dan resistensi antibiotik pada bakteri penyebab gonore menjadi perhatian besar dalam pengobatannya.
Pada wanita, gonore dapat tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan keluhan ringan. Jika muncul, gejalanya dapat berupa rasa sakit atau terbakar ketika buang air kecil, peningkatan cairan vagina, atau perdarahan yang tidak biasa.
Gonore yang tidak diobati dapat berkembang menjadi PID. Komplikasi PID dapat berupa jaringan parut pada saluran tuba, kehamilan ektopik, infertilitas, dan nyeri panggul atau perut jangka panjang.
Karena gonore dan klamidia dapat memiliki gejala yang mirip bahkan sama-sama tidak bergejala, diagnosis tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan keluhan.
3. Trikomoniasis
Trikomoniasis merupakan IMS yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Infeksi ini termasuk salah satu dari empat IMS yang umum dan dapat disembuhkan.
Pada wanita yang mengalami gejala, trikomoniasis dapat menimbulkan rasa gatal, terbakar, kemerahan atau nyeri pada daerah genital. Sebagian penderita mengalami ketidaknyamanan ketika buang air kecil serta perubahan cairan vagina.
Cairan vagina dapat terlihat lebih banyak, tipis, berwarna bening, putih, kekuningan atau kehijauan, dan terkadang berbau tidak sedap. Aktivitas seksual juga dapat terasa tidak nyaman.
Namun, cairan vagina berubah warna atau berbau tidak selalu berarti trikomoniasis. Infeksi dan kondisi vagina lainnya dapat menyebabkan keluhan serupa sehingga pemeriksaan tetap diperlukan.
4. Sifilis
Sifilis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Penyakit ini dapat berkembang melalui beberapa tahap dan memberikan gejala yang berbeda-beda.
Pada tahap awal, sifilis dapat menyebabkan luka pada area yang terpapar. Salah satu masalahnya adalah luka sifilis sering tidak terasa sakit sehingga dapat tidak disadari.
Setelah itu, infeksi dapat berkembang menjadi tahap berikutnya yang dapat disertai ruam dan berbagai gejala lain. Jika tidak diobati, sifilis dapat bertahan di dalam tubuh meskipun tidak terlihat gejala.
Sifilis juga penting diperhatikan pada kehamilan. WHO memperkirakan sekitar 1,1 juta wanita hamil mengalami sifilis pada 2022 dan infeksi tersebut dikaitkan dengan ratusan ribu luaran kehamilan yang merugikan.
Karena itu, pemeriksaan sifilis dalam kehamilan merupakan bagian penting dalam upaya mencegah penularan dari ibu kepada bayi.
5. Herpes Genital
Herpes genital berbeda dari sifilis, gonore, atau klamidia karena disebabkan oleh virus, yaitu herpes simplex virus (HSV).
HSV-2 merupakan penyebab utama herpes genital, meskipun HSV-1 juga dapat menyebabkan infeksi genital. WHO memperkirakan sekitar 520 juta orang usia 15 sampai 49 tahun hidup dengan infeksi HSV-2 di seluruh dunia.
Banyak infeksi herpes tidak menimbulkan gejala atau tidak disadari. Ketika gejala muncul, herpes dapat menyebabkan lepuhan atau luka yang terasa nyeri pada area genital. Keluhan dapat disertai rasa gatal, kesemutan, atau terbakar.
Berbeda dengan infeksi bakteri tertentu yang dapat disembuhkan menggunakan antibiotik, herpes belum dapat dihilangkan sepenuhnya dari tubuh. Virus dapat menetap dan kemudian aktif kembali sehingga gejala dapat kambuh.
Obat antivirus dapat digunakan untuk mengurangi gejala dan membantu mengendalikan episode herpes.
6. HPV atau Human Papillomavirus
Human papillomavirus (HPV) merupakan infeksi yang sangat penting bagi kesehatan wanita karena beberapa jenis HPV risiko tinggi berhubungan erat dengan kanker serviks.
Sebagian besar infeksi HPV dapat dikendalikan oleh tubuh dan tidak menimbulkan masalah jangka panjang. Namun, infeksi menetap oleh HPV risiko tinggi dapat menyebabkan perubahan sel yang pada akhirnya berkembang menjadi kanker. WHO menyatakan hampir seluruh kasus kanker serviks berhubungan dengan HPV risiko tinggi.
Beberapa tipe HPV yang berbeda juga dapat menyebabkan kutil kelamin.
Hal penting yang perlu diketahui adalah infeksi HPV sering tidak menunjukkan gejala. Karena itu, seseorang dapat membawa HPV tanpa mengetahui dirinya terinfeksi.
Pencegahan kanker serviks tidak hanya dilakukan dengan memperhatikan muncul atau tidaknya gejala. Vaksinasi HPV dan skrining kanker serviks secara teratur sesuai pedoman yang berlaku merupakan langkah penting dalam pencegahan.
Gejala Penyakit Kelamin pada Wanita yang Perlu Diperhatikan
Gejala IMS pada wanita dapat berbeda tergantung penyebabnya. Beberapa keluhan yang patut diperhatikan antara lain:
- perubahan cairan vagina yang tidak biasa,
- rasa sakit atau terbakar ketika buang air kecil,
- luka atau lepuhan pada genital,
- benjolan atau kutil di area genital,
- gatal atau rasa terbakar pada vagina dan vulva,
- nyeri saat melakukan hubungan seksual,
- nyeri perut bagian bawah atau panggul,
- perdarahan di luar menstruasi atau setelah berhubungan seksual,
- serta munculnya ruam atau keluhan lain setelah aktivitas seksual berisiko.
Namun, gejala tersebut tidak selalu berarti IMS. Berbagai penyakit lain dapat memberikan keluhan serupa. Selain itu, banyak IMS justru tidak menunjukkan gejala sama sekali. WHO menegaskan bahwa sebagian besar IMS dapat berlangsung tanpa gejala atau hanya memberikan keluhan ringan yang tidak spesifik.
Mengapa Penyakit Kelamin pada Wanita Tidak Boleh Diabaikan?
Salah satu komplikasi terpenting adalah pelvic inflammatory disease atau PID, yaitu infeksi pada organ reproduksi wanita.
Klamidia dan gonore merupakan dua IMS yang sering menyebabkan PID apabila tidak ditangani. PID dapat menyebabkan jaringan parut pada saluran reproduksi, infertilitas, kehamilan ektopik, serta nyeri panggul kronis.
Selain itu, beberapa IMS dapat menimbulkan masalah pada kehamilan atau ditularkan kepada bayi. HPV risiko tinggi yang menetap juga dapat menyebabkan kanker serviks.
Inilah alasan mengapa tidak adanya gejala bukan berarti seseorang pasti bebas dari IMS.
Bagaimana Cara Mencegahnya?
Penggunaan kondom secara benar dan konsisten dapat menurunkan risiko berbagai IMS, meskipun tidak memberikan perlindungan sempurna terhadap infeksi yang dapat menyebar melalui kontak kulit di daerah yang tidak tertutup.
Mengurangi paparan seksual berisiko, mengetahui status kesehatan seksual pasangan, melakukan pemeriksaan sesuai faktor risiko, serta tidak berganti-ganti pasangan seksual juga dapat membantu mengurangi kemungkinan tertular IMS. WHO memasukkan penggunaan kondom serta vaksinasi terhadap infeksi yang dapat dicegah melalui vaksin sebagai bagian penting dalam pencegahan IMS.
Khusus HPV, vaksinasi dan skrining kanker serviks sesuai rekomendasi nasional mempunyai peran penting dalam mencegah kanker serviks.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Segera lakukan pemeriksaan jika muncul luka atau lepuhan pada genital, cairan vagina yang tidak biasa, nyeri ketika berkemih, perdarahan yang tidak normal, nyeri panggul, atau keluhan setelah melakukan aktivitas seksual berisiko.
Pemeriksaan juga perlu dipertimbangkan jika pasangan diketahui mengalami IMS meskipun Anda sendiri tidak merasakan gejala.
Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada gonore atau memiliki riwayat hubungan seksual berisiko, segera lakukan pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin. Penanganan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi serta mengurangi risiko penularan kepada pasangan. Anda dapat berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan di Klinik Lelaki Indonesia, pemeriksaan dilakukan secara privat dan profesional untuk membantu menemukan penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai.
Kesimpulan
Beberapa penyakit kelamin yang sering ditemukan pada wanita antara lain klamidia, gonore, trikomoniasis, sifilis, herpes genital, dan HPV. Penyakit-penyakit tersebut tidak eksklusif menyerang wanita, tetapi komplikasinya dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan reproduksi perempuan.
Klamidia dan gonore yang tidak ditangani dapat menyebabkan penyakit radang panggul dan meningkatkan risiko infertilitas atau kehamilan ektopik. HPV risiko tinggi yang menetap merupakan penyebab utama kanker serviks. Herpes genital dapat kambuh karena virus tetap berada di dalam tubuh.
Yang paling penting, jangan menunggu munculnya gejala untuk mulai memperhatikan kesehatan seksual. Banyak IMS dapat terjadi tanpa keluhan. Pemeriksaan sesuai faktor risiko, aktivitas seksual yang lebih aman, vaksinasi HPV, dan skrining kanker serviks sesuai pedoman merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita.
Baca juga: Apakah Gonore Bisa Menyebabkan HIV?