Jangan Asal Suntik Tanpa Pemeriksaan

Bahaya asal suntik sifilis ini sering kali menjadi hal yang banyak ditemukan. Pasalnya banyak orang yang hanya berbekal melihat iklan atau berita di internet apabila sifilis hanya bisa disembuhkan dengan suntik. Faktanya hal ini sangat berbahaya apabila melakukan suntik sebelum diagnosa itu ditegakkan. Sifilis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.
Penyakit ini dapat disembuhkan apabila mendapatkan pengobatan yang tepat. Namun, terapi sifilis tidak boleh dilakukan dengan cara membeli obat suntik sendiri, menyuntik di tempat yang tidak memiliki tenaga kesehatan kompeten, atau menggunakan antibiotik hanya berdasarkan dugaan bahwa luka pada kelamin adalah sifilis.
Suntik sifilis sembarangan bisa berbahaya karena jenis obat, sediaan penisilin, jumlah pemberian, dan lama pengobatan berbeda berdasarkan stadium dan manifestasi penyakit. Salah pengobatan dapat membuat infeksi tidak tertangani secara adekuat sehingga penyakit tetap berkembang meskipun luka atau gejalanya sudah menghilang.
Sifilis Tidak Bisa Didiagnosis Hanya dari Luka
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap setiap luka pada penis, vagina, anus, atau mulut setelah aktivitas seksual pasti merupakan sifilis.
Sifilis primer memang sering menyebabkan luka atau chancre yang berbentuk bulat, relatif keras, dan biasanya tidak nyeri. Namun, luka sifilis juga dapat berjumlah lebih dari satu, mempunyai bentuk yang tidak khas, atau bahkan terasa nyeri. Penyakit lain seperti herpes genital juga dapat menyebabkan luka pada area genital.
Karena itu, melihat foto atau bentuk luka saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis.
CDC menjelaskan bahwa diagnosis sifilis umumnya memerlukan dua jenis pemeriksaan serologi, yaitu pemeriksaan nontreponemal seperti RPR atau VDRL dan pemeriksaan treponemal untuk mendeteksi antibodi yang lebih spesifik terhadap Treponema pallidum.
1. Risiko Salah Jenis Obat Suntik
Tidak semua penisilin suntik mempunyai fungsi yang sama.
CDC menegaskan bahwa pemilihan jenis sediaan penisilin sangat penting dalam pengobatan sifilis karena bakteri dapat berada di lokasi tertentu seperti sistem saraf pusat dan mata, yang tidak dapat dicapai secara memadai oleh beberapa bentuk penisilin.
Untuk sifilis pada tahap tertentu, benzathine penicillin G digunakan sebagai terapi. Namun, pada neurosifilis, sifilis mata, atau sifilis yang mengenai telinga, terapi yang dibutuhkan berbeda dan menggunakan regimen yang mampu mencapai konsentrasi obat yang sesuai pada sistem saraf.
Jadi, seseorang tidak bisa sekadar berkata, “Saya pernah disuntik penisilin, berarti sifilis saya sudah sembuh.”
Jenis penisilinnya harus benar, indikasinya tepat, serta diberikan dengan cara dan durasi yang sesuai.
2. Jumlah Suntikan Tidak Sama untuk Semua Pasien
Anggapan bahwa semua sifilis cukup dengan “satu kali suntik” juga perlu diluruskan.
WHO menjelaskan bahwa benzathine penicillin G merupakan terapi lini pertama untuk sifilis, tetapi jumlah pemberian bergantung pada stadium penyakit. Tahap awal dapat memerlukan regimen yang berbeda dibandingkan sifilis tahap lanjut atau sifilis dengan durasi yang tidak dapat ditentukan.
CDC juga menjelaskan bahwa durasi pengobatan lebih panjang diperlukan pada sifilis laten lanjut atau ketika waktu terjadinya infeksi tidak diketahui.
Karena itu, menyuntik berdasarkan pengalaman teman atau menggunakan dosis yang pernah diberikan kepada orang lain dapat menyebabkan terapi tidak sesuai dengan kondisi pasien.
3. Salah Terapi Bisa Membuat Penyakit Tetap Berkembang
Luka sifilis dapat menghilang dengan sendirinya meskipun seseorang belum mendapatkan terapi. Hal ini sering membuat penderita mengira penyakitnya sudah sembuh. Padahal, infeksi dapat berlanjut ke tahap berikutnya.
Sifilis yang tidak mendapatkan terapi adekuat dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Pada tahap lanjut, penyakit dapat memengaruhi otak, saraf, jantung, pembuluh darah, serta berbagai organ lainnya. Neurosifilis, sifilis pada mata, dan sifilis pada telinga bahkan dapat terjadi pada berbagai stadium penyakit.
Sifilis pada mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kehilangan penglihatan permanen, sedangkan otosifilis dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang juga dapat menetap.
Inilah alasan pengobatan sifilis bukan sekadar menghilangkan luka pada organ genital.
4. Suntikan Penisilin Bisa Menimbulkan Reaksi Alergi Serius
Penisilin merupakan obat yang sangat penting untuk pengobatan sifilis, tetapi sebagian orang dapat mempunyai alergi terhadap obat golongan beta-laktam.
Riwayat alergi harus ditanyakan sebelum terapi. Reaksi alergi berat dapat berupa anafilaksis, yaitu reaksi alergi sistemik yang dapat berkembang cepat dan membutuhkan pertolongan medis segera. CDC menyarankan orang dengan riwayat reaksi alergi berat terhadap penisilin mendapatkan evaluasi khusus dan tidak menerima terapi sembarangan di fasilitas tanpa kemampuan penanganan yang sesuai.
Karena itu, suntikan penisilin sebaiknya diberikan oleh tenaga kesehatan di fasilitas yang dapat melakukan penilaian dan menangani reaksi obat apabila terjadi.
Jangan mencoba menyuntikkan antibiotik sendiri di rumah.
5. Demam Setelah Suntik Belum Tentu Alergi
Setelah terapi sifilis, sebagian pasien dapat mengalami reaksi Jarisch-Herxheimer.
Reaksi ini biasanya muncul dalam 24 jam pertama setelah terapi dan dapat menyebabkan demam, sakit kepala, serta nyeri otot. Kondisi tersebut terjadi sebagai reaksi tubuh terhadap pengobatan sifilis dan bukan alergi terhadap penisilin.
Membedakan kedua kondisi ini penting karena penanganannya berbeda.
Reaksi Jarisch-Herxheimer juga perlu diperhatikan secara khusus pada wanita hamil karena dapat memicu kontraksi dini atau gangguan pada janin, meskipun risiko tersebut bukan alasan untuk menunda terapi sifilis yang memang diperlukan.
6. Sifilis pada Ibu Hamil Tidak Boleh Diobati Sembarangan
Sifilis pada kehamilan merupakan kondisi yang membutuhkan perhatian khusus.
WHO menyebut sifilis yang tidak diobati, terlambat diobati, atau diterapi menggunakan antibiotik yang tidak tepat selama kehamilan berkaitan dengan risiko tinggi luaran kehamilan yang buruk.
Penisilin yang diberikan secara parenteral merupakan terapi dengan efektivitas yang terdokumentasi untuk sifilis pada kehamilan. Bahkan pada ibu hamil yang mempunyai alergi penisilin, CDC merekomendasikan evaluasi dan desensitisasi agar terapi penisilin yang sesuai tetap dapat diberikan.
Sifilis pada kehamilan yang tidak tertangani dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, kelahiran prematur, maupun sifilis kongenital pada bayi.
Karena itu, ibu hamil dengan hasil pemeriksaan sifilis positif tidak sebaiknya mencari suntikan sendiri di luar pengawasan medis.
7. Sudah Disuntik Bukan Berarti Pemeriksaan Selesai
Pengobatan sifilis tidak berhenti setelah jarum suntik dilepas.
Setelah terapi, pasien memerlukan pemantauan klinis dan pemeriksaan darah ulang untuk melihat respons pengobatan. Pada sifilis primer dan sekunder, misalnya, CDC merekomendasikan evaluasi klinis dan serologis setelah terapi, dan hasil pemeriksaan dibandingkan dengan kadar antibodi sebelum pengobatan.
Pemeriksaan RPR atau VDRL secara kuantitatif dapat digunakan untuk memantau perubahan kadar antibodi setelah terapi. Sebaliknya, tes treponemal sering tetap positif dalam jangka panjang sehingga tidak digunakan sendirian untuk menentukan apakah pengobatan berhasil.
Jika gejala kembali muncul atau kadar antibodi meningkat secara bermakna, dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan infeksi ulang atau kegagalan terapi.
8. Pasangan Seksual Juga Perlu Dievaluasi
Mengobati satu orang tanpa memperhatikan pasangan seksual dapat menyebabkan masalah berulang.
Pasangan seseorang yang didiagnosis sifilis mungkin perlu menjalani pemeriksaan dan, pada kondisi tertentu, mendapatkan terapi berdasarkan waktu paparan serta stadium sifilis pada pasien yang menjadi sumber paparan.
WHO juga menganjurkan orang yang didiagnosis sifilis memberi tahu pasangan seksualnya agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan serta penularan lebih lanjut dapat dicegah.
Tanpa evaluasi pasangan, seseorang yang sudah selesai menjalani terapi dapat kembali terpapar.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Lakukan pemeriksaan apabila mengalami luka pada genital, anus, atau mulut setelah aktivitas seksual berisiko, ruam yang tidak biasa terutama pada telapak tangan dan kaki, atau mengetahui pasangan didiagnosis sifilis.
Segera cari pelayanan medis jika terdapat keluhan seperti gangguan penglihatan, mata nyeri atau sensitif terhadap cahaya, penurunan pendengaran, telinga berdenging, gangguan keseimbangan, sakit kepala berat, kelemahan anggota tubuh, atau perubahan kesadaran. Sifilis dapat mengenai sistem saraf, mata, dan telinga pada berbagai tahap penyakit.
Konsultasikan di Klinik Lelaki Indonesia
Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami:
- Luka yang tidak nyeri pada penis, vagina, anus, atau mulut.
- Ruam pada tubuh yang tidak diketahui penyebabnya, terutama pada telapak tangan atau telapak kaki.
- Memiliki pasangan yang didiagnosis sifilis.
- Melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dengan pasangan yang status kesehatannya tidak diketahui.
- Sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil dan memiliki risiko infeksi menular seksual.
Di Klinik Lelaki Indonesia, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan Dokter Rio, yang berpengalaman menangani berbagai infeksi menular seksual dan masalah kesehatan reproduksi pria. Pemeriksaan dilakukan secara profesional, menjaga privasi pasien, serta didukung dengan evaluasi medis yang menyeluruh untuk menentukan diagnosis dan terapi yang tepat.
Kesimpulan
Bahaya suntik sifilis sembarangan tidak hanya berasal dari jarumnya. Masalah utama adalah kemungkinan salah diagnosis, salah jenis penisilin, salah regimen, tidak mengenali alergi, serta tidak melakukan pemeriksaan dan pemantauan setelah terapi.
Sifilis memang dapat disembuhkan. Namun, terapi harus disesuaikan dengan stadium dan manifestasi penyakit. Pada kondisi seperti neurosifilis, sifilis mata, sifilis telinga, atau kehamilan, penanganannya membutuhkan perhatian khusus.
Karena itu, jangan menyuntik antibiotik sendiri atau memilih obat hanya berdasarkan pengalaman orang lain. Bila mencurigai sifilis, langkah yang lebih tepat adalah menjalani pemeriksaan, mendapatkan diagnosis yang benar, mengikuti terapi dari tenaga kesehatan, dan menyelesaikan pemeriksaan lanjutan setelah pengobatan.
Baca juga: Perbedaan Gonore dan Sifilis, Apa Bedanya?