Deteksi Dini IMS: Mengapa Tes Kesehatan Penting Walau Tubuh Terasa Sehat?
Pentingnya melakukan tes kesehatan tanpa menunggu gejala setelah seseorang melakukan hubungan seksual yang berisiko. Banyak infeksi menular seksual (IMS) tidak langsung menimbulkan keluhan, bahkan sebagian orang sama sekali tidak mengalami gejala. Akibatnya, seseorang dapat merasa sehat tetapi tetap memiliki infeksi dan berpotensi menularkannya kepada pasangan.
Menurut World Health Organization (WHO), sebagian besar IMS dapat berlangsung tanpa gejala. Kondisi tanpa gejala inilah yang membuat pemeriksaan menjadi penting pada orang dengan risiko tertentu.
Apa yang Dimaksud dengan Hubungan Seksual Berisiko?
Hubungan seksual berisiko adalah aktivitas seksual yang memiliki kemungkinan lebih tinggi menyebabkan penularan IMS. Contohnya adalah hubungan seksual tanpa kondom, berganti-ganti pasangan seksual, memiliki pasangan yang diketahui mengalami IMS, atau melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang status infeksinya tidak diketahui.
Risiko juga dapat berbeda berdasarkan jenis aktivitas seksual. Infeksi tertentu dapat menular melalui hubungan vaginal, anal, maupun oral. Karena itu, pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan riwayat aktivitas seksual dan bagian tubuh yang mungkin terpapar.
Memiliki satu pasangan bukan berarti risiko selalu nol. Jika status IMS pasangan belum diketahui atau terdapat kemungkinan paparan sebelumnya, pemeriksaan tetap dapat dipertimbangkan.
Mengapa Tidak Perlu Menunggu Gejala?
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap seseorang tidak terkena IMS selama tidak mengalami rasa sakit, gatal, luka, atau keluar cairan dari alat kelamin.
Padahal, IMS sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. WHO menyebutkan bahwa mayoritas IMS tidak bergejala, sementara gejala yang muncul juga dapat bersifat tidak spesifik.
Klamidia, misalnya, sering kali tidak menimbulkan gejala. Gonore juga dapat berlangsung tanpa keluhan, terutama pada lokasi tertentu seperti tenggorokan atau rektum.
Sebuah systematic review dan meta-analysis pada perempuan di negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan bahwa lebih dari separuh infeksi klamidia, gonore, dan trikomoniasis yang teridentifikasi dalam studi tersebut berlangsung tanpa gejala.
Artinya, tidak adanya gejala bukan bukti bahwa seseorang bebas dari IMS.
IMS Apa Saja yang Bisa Diperiksa?
Jenis pemeriksaan yang dibutuhkan bergantung pada riwayat paparan, gejala, jenis hubungan seksual, serta faktor risiko seseorang.
Beberapa IMS yang dapat menjadi pertimbangan antara lain:
- Klamidia
- Gonore
- Sifilis
- HIV
- Hepatitis B
- Trikomoniasis
- Herpes genital, pada kondisi tertentu
Tidak semua orang membutuhkan seluruh jenis tes tersebut. Dokter akan menentukan pemeriksaan berdasarkan kondisi masing-masing.
Untuk klamidia dan gonore, pemeriksaan molekuler seperti NAAT (nucleic acid amplification test) banyak digunakan karena dapat mendeteksi materi genetik bakteri. Sampel dapat berasal dari urine atau lokasi tubuh yang sesuai dengan paparan, misalnya tenggorokan atau rektum.
Tonton juga video Dokter Rio di TikTok: Tonton juga video Dokter Rio di TikTok:
Kapan Sebaiknya Melakukan Tes IMS?
Ini merupakan salah satu hal penting yang sering disalahpahami.
Melakukan tes terlalu cepat setelah paparan tidak selalu memberikan hasil yang dapat diandalkan. Setiap infeksi dan jenis pemeriksaan memiliki periode waktu berbeda sebelum infeksi dapat terdeteksi.
Karena itu, jangan hanya berpatokan pada satu tanggal untuk semua jenis IMS. Dokter dapat menentukan kapan pemeriksaan dilakukan berdasarkan jenis paparan dan tes yang digunakan.
Jika paparan baru saja terjadi dan berpotensi menyebabkan HIV, jangan hanya menunggu jadwal tes. Segera berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan karena terdapat tindakan pencegahan setelah pajanan tertentu yang memiliki batas waktu penggunaannya.
Untuk pemeriksaan HIV, misalnya, jenis tes yang digunakan menentukan kapan infeksi dapat terdeteksi. Karena itu, hasil negatif yang diperoleh terlalu dini belum tentu menyingkirkan infeksi.
Apakah Tes IMS Harus Dilakukan Jika Tidak Ada Gejala?
Tidak semua orang tanpa gejala membutuhkan panel pemeriksaan IMS yang sama. Pemeriksaan perlu disesuaikan dengan tingkat risiko.
CDC menekankan bahwa jenis dan frekuensi pemeriksaan IMS bergantung pada usia, riwayat seksual, praktik seksual, lokasi tempat tinggal, dan ada atau tidaknya gejala.
WHO juga menerbitkan pedoman khusus mengenai penanganan IMS tanpa gejala karena banyak infeksi dapat tidak terdeteksi jika pemeriksaan hanya dilakukan ketika seseorang mengalami keluhan.
Sebagai contoh, pedoman skrining klamidia dan gonore memiliki rekomendasi khusus berdasarkan usia dan faktor risiko. Untuk pria heteroseksual yang berisiko rendah dan tidak memiliki gejala, bukti untuk skrining rutin populasi masih terbatas. Karena itu, pemeriksaan sebaiknya diputuskan berdasarkan kondisi individual, bukan dengan menganggap semua orang harus menjalani semua tes.
Apa yang Terjadi Saat Tes IMS?
Prosedur pemeriksaan tergantung pada jenis IMS yang dicurigai.
Untuk klamidia dan gonore, dokter dapat meminta sampel urine atau mengambil sampel dari lokasi yang sesuai. Pada orang yang melakukan seks oral atau anal, pemeriksaan tenggorokan atau rektum mungkin diperlukan karena infeksi dapat berada di lokasi tersebut meskipun tidak menimbulkan gejala.
Untuk HIV dan sifilis, pemeriksaan umumnya menggunakan sampel darah. Beberapa fasilitas kesehatan juga menyediakan tes cepat untuk kondisi tertentu.
Penting untuk memberi tahu tenaga kesehatan mengenai jenis aktivitas seksual yang dilakukan. Informasi tersebut bukan untuk menghakimi, tetapi membantu menentukan lokasi dan jenis pemeriksaan yang tepat.
Jika Hasil Tes Positif, Apa yang Harus Dilakukan?
Hasil positif bukan berarti seseorang tidak dapat menjalani kehidupan normal. Banyak IMS bakteri seperti klamidia, gonore, dan sifilis dapat diobati dengan terapi yang tepat. Beberapa infeksi virus seperti HIV memiliki pengobatan yang dapat mengendalikan infeksi meskipun belum dapat disembuhkan.
Yang penting adalah mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter dan tidak membeli antibiotik sendiri.
Pada IMS tertentu, pasangan seksual juga perlu diberitahu dan mendapatkan pemeriksaan atau pengobatan sesuai rekomendasi. Hal ini penting untuk mencegah penularan kembali. WHO menekankan bahwa penanganan pasangan merupakan bagian penting dari pengendalian IMS.
Bagaimana Jika Hasil Tes Negatif?
Hasil negatif merupakan informasi yang penting, tetapi interpretasinya harus melihat kapan tes dilakukan.
Jika pemeriksaan dilakukan terlalu dekat dengan waktu paparan, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan ulang setelah periode tertentu. Hal ini terutama penting untuk infeksi yang memiliki masa sebelum dapat terdeteksi oleh pemeriksaan.
Selain itu, hasil negatif dari satu lokasi tubuh tidak selalu berarti semua lokasi bebas infeksi. Misalnya, pemeriksaan urine tidak otomatis menilai kemungkinan infeksi pada tenggorokan atau rektum.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Tesnya negatif atau positif?” tetapi juga tanyakan tes apa yang dilakukan, kapan dilakukan, dan apakah perlu pemeriksaan ulang.
Cara Mengurangi Risiko IMS di Kemudian Hari
Pencegahan tetap menjadi bagian penting meskipun seseorang sudah melakukan tes.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- menggunakan kondom secara konsisten dan benar;
- membatasi jumlah pasangan seksual;
- melakukan pemeriksaan IMS sesuai faktor risiko;
- melakukan vaksinasi yang tersedia, seperti hepatitis B dan HPV;
- tidak berbagi jarum atau alat yang dapat terkontaminasi darah;
- segera memeriksakan diri jika muncul gejala IMS;
- mengikuti pengobatan dan anjuran dokter jika hasil pemeriksaan positif.
Kondom yang digunakan dengan benar dan konsisten dapat membantu mengurangi risiko berbagai IMS, meskipun tidak memberikan perlindungan mutlak terhadap semua infeksi yang dapat menular melalui kontak kulit.
Jangan Menunggu Gejala untuk Peduli pada Kesehatan Seksual
IMS tidak selalu memberikan tanda yang mudah dikenali. Seseorang dapat terlihat sehat, tidak mengalami nyeri, tidak mengeluarkan cairan dari penis atau vagina, tetapi tetap memiliki infeksi.
Karena itu, setelah hubungan seksual yang dianggap berisiko, langkah yang lebih tepat bukan menunggu munculnya gejala, melainkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah tes IMS diperlukan, jenis tes yang sesuai, dan kapan waktu pemeriksaan yang tepat.
📢 Mengalami Keluhan Berbahaya pada Organ Vital atau Gejala Infeksi Menular Seksual?
Jangan biarkan rasa malu dan takut menghambat Anda untuk sembuh! Jika Anda mengalami gejala seperti keluar nanah saat buang air kecil, luka tanpa rasa sakit pada organ vital, rasa terbakar, atau ruam kulit—bisa jadi itu adalah indikasi infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore (kencing nanah), klamidia, atau sifilis.
Infeksi ini membutuhkan penanganan antibiotik yang tepat dari tenaga medis profesional, bukan pengobatan asal-asalan yang justru bisa memperparah kondisi Anda.
Dapatkan layanan Konsultasi Online GRATIS bersama Klinik Lelaki Indonesia yang ditangani langsung oleh pakar kesehatan pria, Dokter Rio.
Privasi Anda dijamin aman 100% dan penanganan dilakukan secara profesional, cepat, dan rahasia.
👉 [Klik di Sini untuk Konsultasi Online Gratis dengan Dokter Rio di Klinik Lelaki Indonesia] (Hubungi Hotline kami sekarang!)
Baca juga: Gonore Tanpa Sakit Tetap Menular ke Pasangan
