KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Perbedaan Sifilis dengan Herpes!

Beda Sifilis dengan Herpes! Jangan Keliru

Ilustrasi perbedaan sifilis dan herpes genital dilihat dari gejala dan penyebabnya

Sebagian orang akan mengira kalau penyakit sifilis dan herpes genital merupakan penyakit yang sama menyerang kelamin padahal faktanya tidak. Perbedaan sifilis dan herpes genital ini terletak pada penyebabnya. Meski sepintas dapat terlihat mirip, keduanya merupakan penyakit yang berbeda.

Perbedaan paling mendasar adalah penyebabnya. Sifilis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Sementara itu, herpes genital disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV). Infeksi HSV dapat dikendalikan dengan obat antivirus, tetapi virusnya tetap berada di dalam tubuh sehingga penyakit dapat kambuh kembali.

Memahami beda sifilis dengan herpes penting agar seseorang tidak mendiagnosis diri hanya berdasarkan bentuk luka yang terlihat.

Apa Itu Sifilis?

Sifilis merupakan infeksi menular seksual yang berkembang melalui beberapa tahap. CDC membagi perjalanan penyakit menjadi sifilis primer, sekunder, laten, dan tersier. Gejala pada setiap tahap dapat berbeda, bahkan sebagian orang tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Pada tahap awal atau sifilis primer, tanda yang cukup khas adalah munculnya luka yang disebut chancre. Luka biasanya berbentuk bulat, terasa keras, dan sering kali tidak terasa sakit. Lokasinya dapat berada pada penis, vagina, anus, rektum, bibir, maupun di dalam mulut. Karena tidak terasa nyeri dan dapat berada di bagian tubuh yang sulit terlihat, luka sifilis sering tidak disadari.

Luka tersebut kemudian dapat menghilang sendiri meskipun pasien belum mendapatkan pengobatan. Hilangnya luka bukan berarti infeksi sudah sembuh. Tanpa terapi, penyakit dapat berlanjut ke tahap berikutnya.

Pada sifilis sekunder dapat muncul ruam yang khas, termasuk pada telapak tangan dan telapak kaki. Setelah itu penyakit dapat memasuki fase laten ketika tidak terdapat tanda atau gejala yang terlihat, tetapi bakteri masih berada di dalam tubuh.

Apa Itu Herpes Genital?

Herpes genital merupakan infeksi yang disebabkan oleh herpes simplex virus. Terdapat dua tipe utama, yaitu HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 lebih sering menyebabkan herpes di sekitar mulut tetapi juga dapat menyebabkan herpes genital melalui kontak oral-genital. Sementara itu, HSV-2 terutama menyebar melalui kontak seksual dan merupakan penyebab utama herpes genital.

Berbeda dengan sifilis, herpes umumnya menimbulkan lepuhan atau luka yang terasa nyeri ketika bergejala. Sebelum luka muncul, sebagian orang mengalami rasa kesemutan, gatal, atau terbakar pada area yang kemudian mengalami lesi. Luka dapat muncul di sekitar genital maupun anus.

Pada infeksi pertama, sebagian penderita juga dapat mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Namun, tidak semua penderita herpes mempunyai gejala yang jelas. Bahkan banyak orang tidak mengetahui bahwa mereka membawa HSV.

Perbedaan Luka Sifilis dan Herpes

Salah satu cara paling mudah memahami beda sifilis dengan herpes adalah melihat karakteristik lukanya, meskipun penampilan luka saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis.

Luka sifilis primer secara klasik lebih sering berupa luka berbentuk bulat, relatif keras, dan tidak nyeri. Luka dapat berjumlah satu maupun lebih dari satu. Sebaliknya, herpes genital lebih sering menyebabkan beberapa benjolan atau lepuhan yang kemudian dapat berubah menjadi luka terbuka dan terasa nyeri, perih, terbakar, atau gatal.

Namun, gejala seseorang tidak selalu mengikuti gambaran “klasik”. CDC menegaskan bahwa diagnosis klinis herpes genital dapat sulit karena lesi khas berupa lepuhan atau luka yang nyeri tidak selalu terlihat ketika pasien diperiksa.

Karena itu, jangan menyimpulkan “tidak sakit berarti sifilis” atau “sakit berarti herpes” tanpa pemeriksaan medis.

Sifilis Bisa Sembuh, Herpes Bisa Kambuh

Perbedaan penting lainnya adalah perjalanan penyakit setelah mendapatkan terapi.

Sifilis dapat disembuhkan. Penicillin G yang diberikan secara parenteral merupakan obat pilihan untuk terapi sifilis, dengan jenis sediaan, jumlah dosis, dan lama terapi ditentukan berdasarkan tahap serta manifestasi penyakit.

Herpes berbeda karena HSV dapat menetap di dalam sel saraf setelah seseorang terinfeksi. Virus dapat berada dalam keadaan tidak aktif dan kemudian aktif kembali sehingga menimbulkan episode berulang. WHO menyatakan herpes dapat diobati tetapi belum dapat disembuhkan hingga virus benar-benar hilang dari tubuh.

Obat antivirus seperti acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir dapat digunakan untuk mengurangi gejala atau mengendalikan kekambuhan. Pada pasien tertentu dengan kekambuhan berulang, terapi supresif harian juga dapat digunakan untuk mengurangi frekuensi kekambuhan dan menurunkan risiko penularan HSV-2 kepada pasangan.

Bagaimana Cara Penularannya?

Sifilis dapat ditularkan melalui aktivitas seksual vaginal, anal, dan oral ketika terjadi kontak dengan lesi yang infeksius. Penularan juga dapat terjadi dari ibu hamil kepada janinnya.

Herpes genital terutama menyebar melalui kontak langsung dengan kulit, permukaan genital atau anus, luka, maupun cairan seseorang yang terinfeksi. Yang perlu diketahui, HSV dapat ditularkan meskipun tidak terlihat luka atau gejala.

Inilah salah satu alasan herpes dapat menyebar tanpa disadari oleh orang yang membawa virus tersebut.

Kondom dapat membantu menurunkan risiko sifilis maupun herpes, tetapi perlindungannya tidak selalu 100 persen karena lesi atau virus dapat terdapat pada kulit yang tidak tertutup kondom.

Bagaimana Dokter Membedakan Sifilis dan Herpes?

Karena bentuk luka dapat tumpang tindih, dokter tidak selalu dapat memastikan penyebab hanya dengan melihat lesinya.

Untuk sifilis, diagnosis biasanya menggunakan pemeriksaan darah. CDC menjelaskan bahwa diagnosis serologis umumnya membutuhkan kombinasi tes nontreponemal seperti RPR atau VDRL dengan tes treponemal yang lebih spesifik terhadap Treponema pallidum. Mengandalkan hanya satu jenis tes dapat menghasilkan interpretasi yang keliru.

Untuk herpes genital, jika masih terdapat luka atau lepuhan aktif, pemeriksaan NAAT atau PCR dari sampel lesi merupakan metode yang sangat sensitif. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan antibodi HSV tipe spesifik dapat membantu, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. CDC tidak menganjurkan tes IgM HSV karena pemeriksaan tersebut tidak cukup spesifik untuk membedakan tipe maupun infeksi baru dari kekambuhan.

Jadi, bila terdapat luka genital, pemeriksaan langsung ketika luka masih aktif sering memberikan informasi diagnostik yang lebih baik daripada menunggu sampai luka menghilang.

Jangan Mengobati Luka Kelamin Sendiri

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengoleskan antibiotik, obat herpes, antiseptik, atau salep tertentu berdasarkan foto dari internet.

Masalahnya, luka pada genital tidak hanya dapat disebabkan oleh sifilis dan herpes. Penyebab lain juga mungkin memberikan tampilan serupa.

Selain itu, terapi kedua penyakit sangat berbeda. Sifilis membutuhkan antibiotik yang tepat sesuai stadium penyakit, sedangkan herpes ditangani menggunakan antivirus.

Pengobatan sendiri dapat membuat seseorang merasa sudah sembuh ketika sebenarnya infeksinya masih ada.

Apakah Pasangan Juga Perlu Diperiksa?

Jika seseorang didiagnosis sifilis, pasangan seksual yang mungkin terpapar perlu mendapatkan evaluasi klinis dan pemeriksaan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Tanpa penanganan pasangan, seseorang juga dapat terinfeksi sifilis kembali setelah sebelumnya sudah diobati.

Pada herpes genital, pasangan juga dapat memperoleh manfaat dari evaluasi dan konseling. Pasangan yang mengalami gejala perlu diperiksa, sedangkan pada kondisi tertentu pemeriksaan antibodi HSV tipe spesifik dapat dipertimbangkan untuk pasangan tanpa gejala.

Riwayat aktivitas seksual juga penting dibicarakan secara terbuka dengan tenaga kesehatan karena jenis pemeriksaan IMS yang diperlukan dapat berbeda tergantung lokasi dan jenis paparan seksual.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan jika muncul luka, lepuhan, atau benjolan baru di sekitar penis, vagina, anus, atau mulut setelah aktivitas seksual berisiko.

Pemeriksaan juga penting jika terdapat ruam yang tidak biasa, terutama di telapak tangan atau telapak kaki, pasangan diketahui mengalami IMS, atau terdapat luka genital yang hilang sendiri tanpa pengobatan. Sifilis dapat memasuki fase tanpa gejala tetapi tetap berada di dalam tubuh.

Penanganan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi serta mengurangi risiko penularan kepada pasangan. Anda dapat berkonsultasi dan menjalani pemeriksaan di Klinik Lelaki Indonesia, yang menyediakan layanan penanganan infeksi menular seksual secara profesional, dengan mengutamakan privasi dan kenyamanan pasien.

Kesimpulan

Perbedaan sifilis dengan herpes terutama terletak pada penyebab, karakteristik gejala, perjalanan penyakit, pemeriksaan, dan pengobatannya.

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Luka awalnya sering keras, bulat, dan tidak nyeri. Penyakit dapat berkembang melalui beberapa tahap, tetapi dapat disembuhkan dengan terapi antibiotik yang tepat.

Herpes genital disebabkan oleh HSV-1 atau HSV-2. Ketika bergejala, penyakit lebih sering menyebabkan lepuhan atau luka yang nyeri, gatal, terbakar, dan dapat kambuh. Antivirus dapat mengendalikan gejala dan menurunkan kekambuhan, tetapi tidak menghilangkan virus yang sudah menetap di dalam tubuh.

Meski memiliki beberapa ciri berbeda, jangan mencoba membedakan sifilis dan herpes hanya berdasarkan bentuk luka. Pemeriksaan medis dan tes laboratorium tetap merupakan cara yang lebih tepat untuk menentukan penyebabnya.

 

Baca juga: Apakah Sifilis Bisa Sembuh Sendiri? Ini Faktanya