KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Hormon Pria Berubah Seiring Bertambah Usia?

Perubahan Hormon pada Pria, Seperti Apa Dampaknya?

Ilustrasi perubahan hormon pria yang mengganggu fungsi seksual

Salah satu hal yang dikhawatirkan banyak pria diusia dewasa adalah perubahan hormon. Hal ini merujuk pada hormon pria yang paling berperan seperti testosteron, yaitu hormon utama yang memengaruhi gairah seksual, massa otot, kekuatan tulang, produksi sperma, hingga suasana hati. Seiring bertambah usia, hormon tersebut akan menurunkan fungsi seksualitas pria. Itulah mengapa banyak pria sangat khawatir akan hal tersebut.

Meski penurunan kadar testosteron merupakan proses alami, perubahan yang terjadi terlalu cepat atau terlalu rendah dapat menimbulkan berbagai keluhan yang mengganggu kualitas hidup. Oleh karena itu, penting bagi pria untuk memahami bagaimana perubahan hormon terjadi, gejala yang perlu diwaspadai, serta kapan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

Apa Itu Hormon Testosteron?

Testosteron adalah hormon seks utama pada pria yang diproduksi terutama oleh testis. Hormon ini mulai meningkat saat masa pubertas dan berperan penting dalam perkembangan organ reproduksi serta munculnya karakteristik fisik pria, seperti:

  • Pertumbuhan rambut di wajah dan tubuh.
  • Perubahan suara menjadi lebih berat.
  • Peningkatan massa dan kekuatan otot.
  • Produksi sperma.
  • Gairah seksual (libido).
  • Kepadatan tulang.
  • Pembentukan sel darah merah.

Selain itu, testosteron juga berperan dalam menjaga energi, konsentrasi, suasana hati, dan kesehatan secara keseluruhan.

Benarkah Hormon Pria Berubah Seiring Bertambah Usia?

Ya, benar.

Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron pada pria secara alami akan mengalami penurunan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kadar testosteron total umumnya mulai menurun secara bertahap setelah usia sekitar 30–40 tahun, dengan laju rata-rata sekitar 1% per tahun. Namun, besarnya penurunan dapat berbeda pada setiap orang.

Perubahan ini merupakan bagian dari proses penuaan dan tidak selalu menimbulkan gejala. Banyak pria tetap memiliki kadar testosteron yang cukup dan tidak mengalami gangguan fungsi seksual maupun kesehatan lainnya.

Mengapa Kadar Testosteron Menurun?

Penurunan hormon testosteron terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

  • Berkurangnya fungsi sel Leydig di testis yang memproduksi testosteron.
  • Perubahan regulasi hormon dari otak (hipotalamus dan kelenjar hipofisis).
  • Bertambahnya usia yang memengaruhi berbagai fungsi organ tubuh.
  • Meningkatnya kadar protein pengikat hormon (SHBG), sehingga testosteron bebas yang aktif menjadi lebih sedikit.

Selain proses penuaan, beberapa kondisi kesehatan juga dapat mempercepat penurunan testosteron.

Faktor yang Mempercepat Penurunan Hormon Pria

Tidak semua penurunan hormon disebabkan oleh usia. Beberapa faktor berikut dapat mempercepat penurunan kadar testosteron:

1. Obesitas

Kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan perubahan testosteron menjadi estrogen sehingga kadar testosteron menurun.

2. Diabetes Melitus

Diabetes yang tidak terkontrol dapat mengganggu produksi hormon dan meningkatkan risiko testosteron rendah.

3. Kurang Tidur

Produksi testosteron banyak terjadi saat tidur. Tidur yang kurang atau berkualitas buruk dapat memengaruhi kadar hormon ini.

4. Stres Berkepanjangan

Stres meningkatkan hormon kortisol. Bila berlangsung lama, kortisol dapat mengganggu produksi testosteron.

5. Penyakit Kronis

Beberapa penyakit yang dapat memengaruhi hormon pria meliputi:

  • Penyakit ginjal kronis.
  • Penyakit hati.
  • Gangguan tiroid.
  • HIV/AIDS.
  • Penyakit autoimun tertentu.

6. Penggunaan Obat Tertentu

Beberapa obat, seperti kortikosteroid jangka panjang, opioid, atau kemoterapi, dapat memengaruhi produksi testosteron.

Gejala Hormon Testosteron Rendah

Tidak semua pria dengan kadar testosteron rendah mengalami gejala. Namun, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:

Penurunan Gairah Seksual

Hasrat untuk berhubungan seksual menjadi berkurang dibandingkan sebelumnya.

Disfungsi Ereksi

Sebagian pria mengalami kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi.

Mudah Lelah

Tubuh terasa kurang bertenaga meskipun aktivitas tidak terlalu berat.

Massa Otot Berkurang

Otot menjadi lebih kecil atau kekuatan tubuh menurun.

Lemak Tubuh Bertambah

Penumpukan lemak, terutama di area perut, menjadi lebih mudah terjadi.

Perubahan Suasana Hati

Sebagian pria menjadi lebih mudah sedih, mudah marah, atau sulit berkonsentrasi.

Kepadatan Tulang Menurun

Dalam jangka panjang, testosteron rendah dapat meningkatkan risiko osteoporosis.

Apakah Semua Pria Lansia Mengalami Testosteron Rendah?

Tidak.

Penurunan testosteron merupakan proses alami, tetapi tidak semua pria akan mengalami kadar testosteron di bawah batas normal.

Banyak pria tetap memiliki kadar hormon yang cukup meskipun sudah berusia lanjut. Oleh karena itu, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan usia atau gejala saja, tetapi perlu didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

Bagaimana Dokter Memeriksa Hormon Testosteron?

Jika terdapat gejala yang mengarah pada testosteron rendah, dokter akan melakukan beberapa tahapan pemeriksaan.

Wawancara Medis

Dokter akan menanyakan:

  • Keluhan yang dirasakan.
  • Riwayat penyakit.
  • Penggunaan obat-obatan.
  • Pola tidur.
  • Gaya hidup.
  • Fungsi seksual.

Pemeriksaan Fisik

Meliputi penilaian massa otot, distribusi lemak tubuh, pertumbuhan rambut, dan kondisi organ reproduksi.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan testosteron biasanya dilakukan melalui tes darah pada pagi hari karena kadar hormon cenderung paling tinggi pada waktu tersebut.

Jika hasil menunjukkan kadar rendah, dokter dapat menyarankan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan hormon lain seperti LH, FSH, dan prolaktin sesuai kebutuhan.

Apakah Testosteron Rendah Bisa Diobati?

Ya, tetapi pengobatan tergantung pada penyebabnya.

Bila penyebabnya adalah penyakit tertentu, dokter akan menangani kondisi tersebut terlebih dahulu. Pada pria dengan hipogonadisme yang telah dipastikan melalui pemeriksaan klinis dan laboratorium, terapi penggantian testosteron (testosterone replacement therapy atau TRT) dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis.

Terapi ini tidak boleh digunakan tanpa pemeriksaan dokter karena memiliki manfaat, risiko, serta kontraindikasi yang perlu dipertimbangkan secara menyeluruh.

Cara Menjaga Kesehatan Hormon Pria

Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu menjaga keseimbangan hormon:

  • Berolahraga secara rutin, terutama latihan kekuatan.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Tidur 7–9 jam setiap malam.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Mengelola stres.
  • Berhenti merokok.
  • Membatasi konsumsi alkohol.
  • Mengontrol penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Pola hidup sehat tidak dapat menghentikan proses penuaan, tetapi dapat membantu menjaga kadar hormon tetap optimal lebih lama.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami:

  • Penurunan gairah seksual yang menetap.
  • Disfungsi ereksi.
  • Mudah lelah tanpa penyebab yang jelas.
  • Penurunan massa otot.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Perubahan suasana hati yang menetap.
  • Kesulitan memiliki keturunan.

Pemeriksaan sejak dini membantu menemukan penyebab keluhan sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Periksakan Keluhan di Klinik Lelaki Indonesia

Apabila mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi, jangan menunda pemeriksaan maupun mengandalkan obat kuat tanpa diagnosis yang jelas.

Klinik Lelaki Indonesia menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan gangguan kesehatan seksual pria secara menyeluruh, termasuk disfungsi ereksi, gangguan hormon, ejakulasi dini, penurunan gairah seksual, hingga berbagai masalah kesehatan reproduksi pria lainnya.

Seluruh pemeriksaan dilakukan langsung oleh Dokter Rio, sehingga penyebab keluhan dapat diketahui secara akurat dan terapi diberikan sesuai kondisi masing-masing pasien. Penanganan sejak dini tidak hanya membantu memperbaiki fungsi ereksi, tetapi juga dapat mendeteksi penyakit lain yang mungkin menjadi penyebabnya.

Kesimpulan

Hormon pria memang berubah seiring bertambah usia, terutama kadar testosteron yang secara alami mulai menurun setelah usia sekitar 30–40 tahun. Meskipun demikian, penurunan ini tidak selalu menimbulkan gejala dan tidak semua pria akan mengalami testosteron rendah.

Selain faktor usia, obesitas, diabetes, kurang tidur, stres, dan penyakit kronis juga dapat mempercepat penurunan hormon. Oleh karena itu, menjaga gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan medis bila muncul keluhan merupakan langkah penting untuk mempertahankan kesehatan reproduksi dan kualitas hidup.

Baca juga: Jangan Anggap Remeh Impotensi!