KLINIK LELAKI INDONESIA Solusi Kesehatan Pria Sejak 2010

Pria Wajib Jaga Kesehatan Organ Intim!

Ini Cara yang Perlu Dilakukan

Ilustrasi pria wajib jaga kesehatan reproduksinya dengan konsultasi langsung ke tenaga medis ahli

Pria wajib ketahui untuk jaga kesehatan sistem reproduksi merupakan hal yang penting. Pasalnya, testis, penis, prostat, saluran reproduksi, hormon, serta kualitas sperma dapat dipengaruhi oleh penyakit, infeksi, kebiasaan hidup, hingga penggunaan obat atau hormon tertentu.

Menjaga kesehatan reproduksi pria bukan hanya penting bagi mereka yang sedang merencanakan memiliki anak. Kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan fungsi seksual, kesehatan organ intim, pencegahan infeksi menular seksual (IMS), serta kemampuan mengenali gangguan kesehatan sejak dini.

WHO menjelaskan bahwa infertilitas dapat berasal dari sistem reproduksi pria maupun wanita. Pada pria, gangguan kesuburan dapat berkaitan dengan jumlah sperma yang rendah atau tidak ada, gangguan pengeluaran semen, serta masalah pada bentuk dan pergerakan sperma.

Karena itu, pria sebaiknya tidak menunggu sampai mengalami gangguan seksual atau sulit memiliki anak sebelum mulai memperhatikan kesehatan reproduksinya.

1. Jaga Kebersihan Organ Intim

Menjaga kebersihan penis dan area selangkangan merupakan kebiasaan dasar yang penting.

Area genital mudah menjadi lembap akibat keringat, terutama setelah berolahraga atau menggunakan pakaian dalam dalam waktu lama. Membersihkan area genital secara rutin dan mengganti pakaian dalam ketika basah atau berkeringat dapat membantu menjaga kenyamanan kulit.

Hindari penggunaan sabun berpewangi kuat, antiseptik keras, atau bahan yang menyebabkan iritasi pada kulit sensitif.

Pada pria yang tidak disunat, bagian bawah kulup juga perlu dibersihkan dengan lembut apabila kulup dapat ditarik dengan nyaman.

Jika muncul kemerahan, pembengkakan, gatal berat, luka, atau cairan yang tidak biasa, jangan hanya menambah penggunaan antiseptik. Keluhan tersebut perlu diperiksa karena penyebabnya dapat berupa iritasi maupun infeksi.

2. Lindungi Diri dari Infeksi Menular Seksual

IMS merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi pria. Beberapa di antaranya adalah gonore, klamidia, sifilis, herpes genital, HPV, dan HIV.

Masalahnya, banyak IMS dapat terjadi tanpa gejala. WHO menyebut IMS dapat berdampak langsung terhadap kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk menyebabkan infertilitas, beberapa jenis kanker, komplikasi lain, dan peningkatan risiko HIV.

Pada pria, klamidia dapat menyebabkan infeksi pada epididimis atau testis dan, pada kasus yang jarang, berhubungan dengan infertilitas. Gonore yang tidak ditangani juga dapat menyebabkan komplikasi reproduksi pada pria maupun wanita.

Menggunakan kondom dengan benar setiap kali melakukan hubungan seksual dapat membantu menurunkan risiko banyak IMS. Pemeriksaan IMS juga penting berdasarkan faktor risiko, terutama jika memiliki pasangan baru, beberapa pasangan seksual, atau pasangan diketahui mengalami IMS.

3. Pertimbangkan Vaksinasi HPV

HPV atau human papillomavirus tidak hanya menjadi masalah kesehatan wanita. Pria juga dapat terinfeksi HPV.

Beberapa tipe HPV menyebabkan kutil genital, sedangkan tipe berisiko tinggi dapat berkaitan dengan kanker penis, anus, dan orofaring.

Vaksin HPV dapat membantu mencegah infeksi HPV yang berkaitan dengan penyakit dan kanker tertentu. Rekomendasi vaksin berbeda menurut usia dan riwayat vaksinasi. Sebagai contoh, CDC merekomendasikan vaksinasi rutin pada usia 11 sampai 12 tahun, dapat dimulai sejak usia 9 tahun, serta vaksinasi susulan hingga usia 26 tahun bagi yang belum mendapatkannya secara memadai. Pada usia 27 sampai 45 tahun, vaksinasi dapat dipertimbangkan melalui diskusi dengan tenaga kesehatan pada orang tertentu.

Di Indonesia, jadwal dan kelayakan vaksin sebaiknya mengikuti rekomendasi dokter serta program imunisasi yang berlaku.

4. Jangan Abaikan Kesehatan Testis

Testis mempunyai fungsi penting dalam menghasilkan sperma dan hormon testosteron. Karena itu, perubahan baru pada testis perlu diperhatikan.

Benjolan atau pembengkakan pada testis tidak selalu berarti kanker. Namun, National Cancer Institute menyebut benjolan atau pembengkakan yang tidak terasa sakit, perubahan konsistensi testis, rasa tidak nyaman pada testis atau skrotum, serta penumpukan cairan baru sebagai beberapa keluhan yang perlu diperiksa.

Tujuannya bukan untuk membuat pria cemas terhadap setiap perubahan kecil, tetapi agar perubahan yang menetap atau jelas berbeda dari kondisi biasanya tidak diabaikan.

Berbeda dengan benjolan yang berkembang perlahan, nyeri testis yang tiba-tiba dan sangat berat merupakan keadaan yang membutuhkan pertolongan segera. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah torsio testis, yaitu testis terpuntir sehingga aliran darahnya terganggu. Kondisi ini dapat merusak testis apabila terlambat ditangani.

5. Jaga Berat Badan dan Tetap Aktif

Kesehatan reproduksi tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit pembuluh darah dapat memengaruhi fungsi seksual. NIDDK mencatat bahwa kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta penggunaan narkotika atau zat ilegal dapat berkontribusi terhadap disfungsi ereksi.

Sebaliknya, memperbaiki kebiasaan hidup dapat membantu menjaga fungsi ereksi. Berhenti merokok, meningkatkan aktivitas fisik, mempertahankan berat badan yang sehat, dan menjalani pola makan yang baik merupakan bagian dari pencegahan dan pengelolaan gangguan ereksi.

Artinya, menjaga kesehatan jantung dan metabolik sekaligus membantu menjaga kesehatan seksual pria.

6. Jangan Anggap Gangguan Ereksi Sekadar Masalah Kejantanan

Sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksi tidak selalu disebabkan oleh kurang gairah seksual.

Disfungsi ereksi dapat berkaitan dengan diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit pembuluh darah, gangguan hormon, kerusakan saraf, efek obat, maupun masalah psikologis. Kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol berlebihan juga dapat berperan.

Karena itu, apabila gangguan ereksi terjadi berulang, pemeriksaan medis lebih baik daripada langsung membeli obat kuat.

Masalah ereksi juga dapat berdampak pada hubungan dengan pasangan, kesehatan emosional, serta kemampuan memiliki keturunan.

7. Hindari Penggunaan Testosteron dan Steroid Sembarangan

Sebagian pria menggunakan testosteron atau steroid anabolik dengan tujuan membentuk otot, meningkatkan stamina, atau merasa lebih maskulin.

Kebiasaan ini dapat merugikan kesehatan reproduksi.

Pedoman AUA/ASRM mengenai infertilitas pria menyatakan bahwa penggunaan steroid anabolik yang berlangsung terus dapat menekan proses pembentukan sperma atau spermatogenesis dan mengganggu kesuburan.

Karena itu, pria yang sedang merencanakan keturunan tidak sebaiknya menggunakan testosteron atau steroid anabolik tanpa indikasi dan pengawasan dokter.

Produksi testosteron dari luar tubuh tidak sama dengan “menambah kesuburan”. Justru pada kondisi tertentu, pemberian hormon dari luar dapat menekan produksi sperma oleh testis.

8. Kesulitan Memiliki Anak Bukan Selalu Masalah Wanita

Ketika pasangan sulit mendapatkan kehamilan, pemeriksaan tidak seharusnya hanya dilakukan pada wanita.

WHO mendefinisikan infertilitas sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Masalah tersebut dapat berasal dari sistem reproduksi pria, wanita, atau kombinasi keduanya.

Pada pria, evaluasi dapat mencakup riwayat kesehatan dan reproduksi, pemeriksaan fisik, serta analisis semen untuk menilai beberapa karakteristik sperma. Pedoman AUA/ASRM menekankan pentingnya evaluasi pasangan pria dalam pemeriksaan infertilitas.

Jadi, jika pasangan mengalami kesulitan mendapatkan kehamilan, pemeriksaan pria bukan tanda bahwa seseorang “kurang jantan”. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui faktor yang mungkin dapat ditangani.

Kapan Pria Harus Periksa ke Dokter?

Jangan menunggu sampai masalah menjadi berat.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan jika terdapat benjolan atau pembengkakan baru pada testis, perubahan bentuk penis, luka atau kutil genital, keluar cairan tidak normal dari penis, nyeri atau terbakar saat buang air kecil, gangguan ereksi yang terus berulang, atau terdapat riwayat paparan seksual berisiko.

Nyeri testis yang muncul tiba-tiba dan sangat berat, terutama bila disertai pembengkakan, mual, atau muntah, membutuhkan pertolongan medis segera.

Pasangan yang telah melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi selama 12 bulan tetapi belum mendapatkan kehamilan juga dapat mempertimbangkan evaluasi kesuburan bersama.

Konsultasikan di Klinik Lelaki Indonesia

Jika Anda mengalami gejala keluar cairan tidak biasa dari penis atau vagina, rasa terbakar ketika buang air kecil, gatal atau rasa tidak nyaman pada area genital dan perubahan fungsi seksual, segera lakukan konsultasi di Klinik Lelaki Indonesia. Pemeriksaan dilakukan secara privat dan profesional untuk membantu menemukan penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai.

Anda dapat berkonsultasi langsung dengan dr. Mohammad Caesario (Dokter Rio), jangan menunggu hingga infeksi berkembang menjadi lebih serius. Semakin cepat mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk sembuh dan terhindar dari komplikasi jangka panjang.

Kesimpulan

Pria harus menjaga kesehatan reproduksi sejak dini, bukan hanya ketika ingin memiliki anak.

Langkahnya meliputi menjaga kebersihan organ intim, menjalani perilaku seksual yang lebih aman, melakukan pemeriksaan IMS sesuai risiko, mempertimbangkan vaksinasi HPV, menjaga berat badan, aktif bergerak, tidak merokok, serta menghindari penggunaan testosteron dan steroid anabolik sembarangan.

Pria juga perlu mengenali perubahan pada penis dan testis serta tidak menunda pemeriksaan apabila terjadi gangguan ereksi atau masalah kesuburan.

Menjaga kesehatan reproduksi berarti menjaga fungsi seksual, kesuburan, kesehatan organ intim, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Semakin dini masalah dikenali, semakin cepat pula penyebabnya dapat dievaluasi dan ditangani secara tepat.

 

Baca juga: Hubungan Beresiko Picu Penyakit Kelamin?